Kamis, 28 OKTOBER 2021
Emirza, M.Pd
Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Pendidikan
Pada peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober tahun ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap lulusan-lulusan pesantren bisa membuka lapangan kerja.
“Orientasi santri seharusnya bukan lagi mencari pekerjaan, tetapi sudah menciptakan kesempatan kerja bagi banyak orang menebar manfaat seluas-luasnya bagi umat,” tuturnya. (tempo.co, 22/10/2021).
Ia juga mengharapkan pesantren dan para santri makin berperan dalam pemberdayaan ekonomi umat.
“Saya berharap pesantren dan para santri dapat memanfaatkan berbagai program-program pembiayaan yang telah disiapkan pemerintah dengan baik, sehingga pesantren dan para santri dapat semakin berperan dalam memperkuat ekonomi umat,” ujarnya.
Faktor Struktural Urusan lapangan kerja merupakan persoalan yang tidak mampu Pemerintah selesaikan. Meski rezim telah berganti berkali-kali, pengangguran tetap menjadi problem negeri ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun ini terjadi peningkatan angka pengangguran pada kalangan muda. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada penduduk usia 20—24 tahun pada Februari 2021 sebesar 17,66%.
Angka ini meningkat 3,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu; sedangkan pengangguran usia 25—29 tahun sebesar 9,27% pada Februari 2021, meningkat 2,26% dibandingkan tahun lalu. Data BPS juga mengungkap bahwa pengangguran terbanyak adalah lulusan SMA dan perguruan tinggi.
Jika kita kaitkan dengan para santri, usia para lulusan pesantren berada pada rentang yang banyak terjadi pengangguran. Jika para pemuda (termasuk lulusan pesantren) justru termasuk dalam kalangan yang banyak menjadi pengangguran, lantas di mana relevansi harapan Pemerintah agar mereka membuka lapangan kerja? Padahal, membuka lapangan kerja tentu lebih sulit daripada bekerja.
Seharusnya yang membuka lapangan kerja bukan tugas para santri, tetapi tugas Pemerintah. Pemerintah adalah penguasa yang bertugas mengurusi (riayah) urusan rakyatnya, termasuk urusan lapangan kerja.
…اَلْإِمَامُ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…
“Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ketika penguasa gagal menyediakan lapangan kerja untuk rakyat, sehingga banyak pengangguran, yang harus mereka lakukan adalah evaluasi diri, bukan menyuruh rakyat (santri) untuk membuka lapangan kerja. Kesusahan rakyat, yaitu tingginya pengangguran, adalah akibat faktor struktural karena negara salah mengatur hal tersebut.
Mayoritas rakyat menganggur karena memang lapangan kerjanya tidak ada. Walaupun Pemerintah mengatakan sudah membuka lapangan kerja, ternyata maksudnya adalah tenaga outsourcing yang minim kesejahteraan. Mirisnya, pada saat rakyat butuh pekerjaan, Pemerintah justru memberikan lapangan kerja pada tenaga kerja asing (TKA).
Alasannya karena adanya para TKA tersebut merupakan bagian dari syarat yang investor asing kehendaki. Para TKA yang menyerbu Indonesia bukan hanya yang punya keahlian, tetapi juga buruh kasar. Rakyat asing mendapat kerja, rakyat sendiri malah jadi pengangguran.
Jelaslah bahwa solusi atas masalah pengangguran itu adalah tanggung jawab penguasa, bukan para santri. Para santri hanya punya tanggung jawab pribadi, yaitu untuk mencari nafkah, jika dia laki-laki.
Santri Pelopor Kebangkitan Jika bukan pada pemberdayaan ekonomi, lantas apa peran strategis santri? Hal ini kembali pada kelebihan yang santri miliki, yaitu tsaqafah Islam. Umat Islam saat ini berada dalam kehidupan sekuler, kondisi saat Islam terabaikan, padahal Islam adalah solusi kehidupan.
Akan tetapi, karena umat tidak mengenal Islam secara mendalam, jadilah mereka mencari solusi dari selain Islam. Akibat dari ketaktahuan terhadap solusi Islam ini, berbagai permasalahan umat tak kunjung mendapat solusi. Dari hari ke hari, masalah umat makin rumit dan kehidupan makin sempit. Allah Swt. berfirman,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)
Oleh karena itu, solusi atas semua masalah itu ada di dalam Islam, tinggal kemauan untuk menerapkan saja yang belum terwujud. Allah Swt. berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).” (QS an-Nahl: 89)
Kebutuhan Umat akan Kiprah Para Santri Umat yang buta dan kabur tentang Islam butuh pencerahan dari para ulama lulusan pesantren. Para santri inilah yang akan mempelajari Islam secara mendalam dengan mengkaji aneka kitab yang memuat tsaqafah Islam.
Sungguh, umat butuh para ulama yang mengajarkan akidah agar akidah umat lurus dan tidak sekuler; mengajarkan tafsir Al-Qur’an agar umat paham isinya dan tergerak menjalankannya; serta mengajarkan fikih agar umat paham syariat Islam kafah dan tergugah menerapkannya. Semua jawaban atas kebutuhan umat ini adalah para santri yang terjun menjadi dai di tengah masyarakat.
Para santri mempunyai tanggung jawab besar mewujudkan kebangkitan di tengah umat, yaitu bangkit dengan ideologi Islam, bukan sekadar memberdayakan ekonomi umat yang sejatinya adalah tugas penguasa. Para santri adalah pelopor kebangkitan umat.
Tsaqafah Islam yang ada di dadanya adalah “amunisi” untuk melenyapkan jahiliah modern, yaitu sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme. Tsaqafah ini pun merupakan “obat” untuk menyembuhkan berbagai “penyakit” di tengah umat, baik penyakit akidah, akhlak, sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain. Umat butuh para santri untuk mendakwahkan Islam ideologis di tengah masyarakat.
Dengan aktivitas itu, para santri memimpin umat untuk meraih kebangkitan, yaitu dengan menerapkan Islam kafah di dalam sistem Khilafah. Ketika Khilafah tegak, bukan hanya masalah pengangguran yang terselesaikan.
Kesejahteraan juga akan terwujud secara merata. Para pelajar (santri) dalam Khilafah tak terbebani untuk membuka lapangan kerja karena sudah terselesaikan oleh negara. Para pelajar (santri) pun leluasa mendalami Islam, sehingga tercetaklah para mujtahid yang berkontribusi besar bagi peradaban Islam. Wallahu a’lam. (**)