Senin, 27 SEPTEMBER 2021
Oleh Arsilah
Pemerhati Sosial
Kementerian agama baru-baru ini telah meluncurkan beberapa program baru yang dianggap bisa menjadi solusi bagi berbagai konflik keagamaan yang terjadi. Karena konflik berlatar belakang agama biasanya disulut oleh sikap paham keagamaan yang salah tafsir hingga selalu merasa benar sendiri.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur H. Masrawan saat membuka acara Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama Kalimantan Timur di Hotel Mercure Samarinda, Jalan Mulawarman Nomor 171, Rabu (22/09/2021).
Acara yang digagas oleh Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kaltim ini mengundang 70 orang peserta yang berasal dari perwakilan organisasi kemasyarakatan umat Islam, pondok pesantren, dan majelis taklim. Kakanwil tampak sangat mengapresiasi dengan adanya acara ini.
“Ini merupakan suatu sikap kepedulian terhadap kondusifitas bangsa, khususnya di Kalimantan Timur,” sebutnya.
Dalam sambutan yang dibawakan, Kakanwil mengatakan karakteristik masyarakat di Kalimantan Timur sangat majemuk yang terdiri dari berbagi suku, agama, dan ras.
Disisi lain, ia menilai kemajemukan juga berpotensi untuk memicu konflik. H. Mulyadi selaku ketua panitia acara menerangkan bahwa acara diselenggarakan dengan tujuan menciptakan kehidupan intern umat Islam dan antar agama yang damai dan tentram serta menghindari paham keliru yang bisa merusak agama Islam. Samarinda (Humas Kanwil).
Munculnya ide ini sering kita dengar, Kerukunan beragama jelas tidak ditolak oleh masyarakat, dan tampak bagus kelihatan. namun bagi seorang muslim setiap perbuatan terikat hukum Syara’.
jika kita cermati maka ada bahaya terselubung di dalamnya yaitu penyebarluasan paham pluralisme. Dalam praktiknya, pluralisme agama saat ini sudah mengarah pada sinkretisme (pencampuradukan) agama-agama.
Contohnya adalah adanya acara doa lintas agama, Perayaan Natal Bersama, dan lain-lain. Parahnya, pluralisme ini dijadikan dalih untuk menyudutkan umat Islam yang konsisten terhadap prinsipnya berpegang pada syariat/ajaran Islam, hingga dianggap fanatik, mau menang sendiri, dan selanjutnya dicap sebagai radikal.
Kerukunan beragama hanyalah mimpi dalam sistem sekulerisme. Apalagi jika itu berkaitan dengan muslim. Indonesia yang dikenal sebagai negara yang sangat demokratis, tak cukup mampu menangani konflik agama yang melibatkan muslim mayoritas.
Kebanyakan, kasus intoleransi yang menimpa umat Islam menguap begitu saja. Sementara jika menimpa umat lainnya, tanpa banyak investigasi, langsung berbagai cap buruk ditujukan kepada umat Islam, sebagai teroris, radikal, antikeragaman, dll., dan ini terus saja berulang.
Jangan sampai atas dasar toleransi hingga akhirnya akidah tergadaikan. Menerima dan menelan faham pluralisme. Pluralisme adalah sebuah pemikiran yang lahir dari filsafat perenialisme yaitu sebuah sudut pandang dalam filsafat agama yang meyakini bahwa setiap agama di dunia memiliki suatu kebenaran yang tunggal dan universal yang merupakan dasar bagi semua pengetahuan dan doktrin religius (wikipedia.org).
Ini artinya, pluralisme menganggap semua agama adalah sama, yakni menyembah Tuhan yang sama hanya caranya yang berbeda. Setiap muslim tentu wajib menegaskan bahwa hanya Islam yang benar. Agama di luar Islam semuanya salah/batil. Ini adalah keyakinan dasar sekaligus mutlak di dalam Islam.
Karena itu pernyataan bahwa “semua agama benar” adalah pernyataan menyimpang dari Islam. Pelakunya bisa murtad. Sebabnya, Allah Swt. sendiri menegaskan bahwa hanya Islam agama yang Dia akui dan ridai,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sungguh agama (yang diakui) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran [3]: 19)
toleransi Islam terhadap pemeluk agama lain bukan berarti mengakui kebenaran agama mereka. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, Islam tetap memandang agama-agama selain Islam adalah batil.
Apalagi jika toleransi beragama dipahami sebagai pluralisme (menyamakan semua agama) yang menjurus pada sinkretisme (pencampuradukan) dalam praktik beragama. Jelas, ini tercela. Allah SWT. menegaskan,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untuk kalian agama kalian. Untukku agamaku.”(QS al-Kafirun [109]: 6) Wallahu a’lam bishowab (**)