Penistaan Itu Sering Didapat, Akibat Kebebasan Berpendapat

Selasa, 10 Nopember 2020

RINI ASTUTIK

Pemerhati Sosial

Lagi, dunia kembali digemparkan atas kasus penghinaan dan penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW tepatnya di Perancis.

Kejadian itu bermula atas tindakan salah satu guru yang bernama Samuel Paty yang menggunakan kartun terbitan Charlie Hebdo tahun 2015 pada saat mengajar.

Tindakan tersebut menuai protes dari komunitas dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal oleh salah satu mahasiswanya.

RINI ASTUTIK
Pemerhati Sosial

Bahkan Presiden Emmanuel Macron menilai kartun atau karikatur Nabi Muhammad SAW di Charie Hebdo sebagai bentuk kebebasan berpendapat. Dia juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi muslim makin sulit, (Detik.com,31/10/2020).

Bukan kali pertama majalah sayap kanan ini menghina Nabi SAW dan ajaran Islam. Meskipun mendapatkan banyak kecaman dari berbagai negara, nyatanya pemerintah Prancis justru mendukung ulah majalah tersebut. Salah satunya dengan sengaja memajang kartun Nabi Muhammad SAW di dinding gedung pemerintahan daerah tersebut.

Islamophobia kronis yang dihembuskan penguasa perancis telah menyulut kebencian warganya terhadap kaum muslim. Hingga pada tanggal 18/10/2020 terjadi peristiwa penusukan kepada dua orang muslimah di bawah menara Eiffel.

Mereka ditusuk beberapa kali hingga menembus keparu-parunya, hanya karena mereka berhijab, bahkan pelaku menyebut muslimah tersebut dengan panggilan “orang Arab kotor” (Republika,22/10/2020).

Gelombang aksi protespun terjadi di mana-mana mulai dari kalangan pemuka agama serta ribuan umat Islam di seluruh penjuru dunia termasuk juga di Indonesia.

Ribuan masa dari berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam di Surabaya juga menggelar aksi damai bela Nabi Muhammad SAW Jum’at (6 /11/2020).

Masa yang hadir menuntut permintaan maaf Presiden Prancis Emmanuel Macron dan menuntut pemerintah Indonesia agar segera memutus hubungan dengan pemerintah Perancis. Serta mengajak seluruh umat islam di Indonesia melakukan aksi boikot seluruh produk-produk asal Perancis, (news.detik.com6/11/2020).

Penghinaan terhadap Nabi sebenarnya sudah sering terjadi, namun hingga saat ini masih belum adanya hukum yang mampu memberi efek jera kepada pelaku.

Padahal gelombang aksi hampir setiap negara menuntut hukuman mati atas setiap penistaan yang di lakukan orang-orang kafir barat bahkan hingga memboikot produk dagangan mereka.

Namun sejauh ini, aksi-aksi yang dilakukan oleh umat Islam selalu saja memberi ruang kepada para pelaku penistaan baik terhadap syariat maupun terhadap Nabi kita Rasulullah SAW.

Dengan dalih kebebasan berekspresi sehingga memudahkan para kafir barat untuk terus melecehkan ajaran Islam bahkan Nabi kita yang merupakan manusia yang paling termulia di dunia.

Maka adalah hal yang wajar bahkan menjadi sebuah keharusan bagi muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulnya untuk marah ketika manusia yang paling mulia yang membawa Rahmatan lil ‘alamin dihinakan.

Sehingga tidak bisa kita nafikkan bahwa sistem sekuler-liberal saat ini yang menjadi biang kerok penistaan terhadap Islam. Kebebasan berpendapat menjadi dalih dan menjadi tempat bersembunyi bagi para pelaku penistaan agama.

Sehingga diciptakanlah Islamophobia sebagai alat pemantik ditengah-tengah masyarakat , sistem sekuler –liberal tidak hanya mendiskriditkan islam semata namun juga mengarahkan pada tatanan sosial yang memupuk permusuhan.

Dan yang paling menyayat hati adalah keberadaan pemimpin-pemimpin muslim di seluruh dunia tak mampu bertindak tegas atas penistaan yang terjadi hingga saat ini.

Dilematik hubungan kerja sama Internasional membuat pemimpin -pemimpin muslim hanya mampu memberi kecaman. Hasilnya lagi dan lagi, penistaan demi penistaan masih saja menjadi induk permasalahan umat.

Sebab kebebasan berpendapat dalam demokrasi liberal saat ini menjadi jaminan siapa saja berhak melakukan apa saja sesuka hati. Ketiadaan payung hukum Islam,membuat orang-orang kafir barat serasa aman untuk melemahkan Islam dengan proyek radikalismenya.

Politik demokrasi barat perlahan namun pasti akan mematikan Islam lewat paham atau ide yang menyesatkan. Inilah musuh Islam yang sebenarnya yang harus diberangus yaitu Demokrasi.

Maka wajar jika kita membutuhkan sistem Islam yang akan menutup rapat adanya penistaan terhadap Nabi ataupun syariat Islam. Dalam Islam sanksi bagi orang yang menghina nabi adalah dengan cara dibunuh.

Sehingga,” para ulama sepakat bahwa orang yang mencela Nabi dan menghina beliau statusnya ialah kafir. Dan ia layak untuk mendapatkan ancaman berupa adzab Allah.

Hukumannya, menurut para ulama adalah bunuh, siapa yang masih meragukan kekufurannya dan dan siksaan bagi penghina Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam, berarti dia kufur” (As-Sharim al Maslul).

Dalil diatas merupakan sanksi tegas yang akan memberikan efek jera, sehingga tidak seorang pun akan berani melakukan hal yang serupa.

Disamping itu, Islam juga akan menjamin tidak adanya agama lain yang saling memperolok ataupun menghinakan satu dengan yang lainnya. Sebab Islam menjamin kedamaian dan toleransi sebagaimana Rasulullah ajarkan.

Hukuman yang diberlakukan didalam Islam sudah sepantasnya dan hal ini hanya berlaku dalam negara Khilafah Islamiyyah.

Karenanya sudah seharusnya umat islam seluruh dunia tidak hanya melakukan pemboikotan produk-produk dagangan kafir tetapi juga sistem demokrasi, sekuler, liberal yang menjadi pemantik adanya aksi-aksi penistaan saat ini.

Begitu pula halnya untuk tetap menyerukan penerapan syari’at dan Khilafah yang menjadi perisai dan benteng perlindungan bagi umat Islam serta demi kemuliaan Rasulullah SAW. Wallahu A’lam Bishowabh. (**)

Editor: Ahmad Yani