Positif, Recovery Iman dan Imun

Sabtu, 24 Oktober 2020

DHANA NUR A'ISYAH ADITYA

Mahasiswa IAIN Samarinda

Musuh di depan mata sudah menjadi hal biasa yang kita lihat. Beda cerita dengan musuh yang tak terlihat namun lebih menakutkan dan membahayakan.

Corona Virus Disease atau Covid-19 sudah tidak asing terdengar di telinga warga Indonesia bahkan dunia. Sudah hampir tujuh bulan negara ini beristirahat dengan kegiatan-kegiatan yang memicu perkumpulan banyak orang.

Selama itu pula ada beberapa daerah yang menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Hal ini diharapkan untuk memutuskan rantai penyebaran virus Covid-19 agar tidak meluas dan banyaknya pasien yang terkontaminasi oleh virus ini.

Sampai hari ini pun tidak berhenti berita mengenai virus ini. Berlaku pula dengan penambahan kasus setiap hari bahkan bulannya.

Melihat keadaaan sekarang, negara kita Indonesia hampir seluruh provinsinya sudah menjadi zona merah bahkan ada yang menjadi zona hitam. Daerah tersebut sudah melebihi batas maksimal mempunyai pasien positif atau yang terkena virus ini.

Sangat banyak dampak yang terasa dari virus ini. Contohnya pada beberapa sekor, seperti ekonomi, pendidikan, industri, pekerjaan, serta pariwisata terkena imbas dari mewabahnya virus ini. Tidak memandang usia, status, pekerjaan, kondisi.

Orang tua ataupun muda bahkan bayi baru lahirpun bisa terkena virus ini. Sakit maupun sehat sekalipun virus ini bisa menjangkit orang tersebut.

Siapapun bisa tertular virus ini. Setiap individu pasti berbeda juga kondisi fisik dan mentalnya. Dalam keadaan seperti ini sangat diperlukan kesehatan mental yang kuat yang akan mendukung kekuatan jasmani individu tersebut.

Bagi pasien yang positif , tidak mudah bagi mereka menerima keadaan yang mereka alami. Positif terkontaminasi virus ini merupakan beban mental yang sangat berat.

Karena dimasa sekarang penyebaran virus sudah dimana-mana dan tidak semua orang atau masyarakat mengerti bagaimana cara memperlakukan pasien positif ini sendiri.

Bagi pasien positif menerima keadaan dirinya sendiri bukanlah hal yang mudah. Apalagi orang lain dan lingkungan sekitar. Banyak dari masyarakat sekarang menganggap siapa yang positif dengan virus ini ialah aib.

Jadi, banyak dari mereka yang menutupi bahkan enggan berkata jujur jika dirinya pasien yang terkontaminasi. Bagi pasien positif penerimaan diri sendiri berat adanya. Hal yang pertama yang membuat makin berat ialah pasien positif harus mengisolasi dirinya tidak boleh bertemu dengan keluarga terdekat, keluarga inti sekalipun.

Ketika isolasi sudah dilaksanakan kekuatan imun sudah mulai diuji. Karena berpisahnya seseorang dengan keluarga terdekat ialah sangat berat.

Hal ini menjadi beban mental yang dapat mempengaruhi imunitas diri. Keluarga terdekat seperti, suami, istri, anak, ataupun orang tua merupakan support sistem pertama saat seseorang di keluarga ada yang sakit.

Imunitas juga dapat terpengaruh dari emosi yang dirasakan oleh si pasien. Ketika pasien merasa sendirian tidak ada dukungan pastilah merasa sedih dan membuatnya drop.

Hal seperti ini yang sangat dikhawatirkan bagi pasien positif. Karena dapat mempengaruhi pola makan pasien tersenut juga.

Dimana pasien positif Covid-19 haruslah selalu menjaga pola makanan yang bergizi serta teratur agar terjaga dengan baik imunitas yang ada pada dirinya.

Tidak berhenti sampai situ saja, dukungan yang diharapkan bagi sang pasien adalah doa serta kata-kata yang membangkitkan dirinya untuk lebih semangat meng-recover imunnya.

Caranya dengan makan makanan bergizi sesuai jadwalnya serta meminum vitamin yang cukup dan sesuai dengan gejala si pasien saat itu.

Tentunya jika kondisi pasien sudah diketahui positif virus ini, bagi keluarga ataupun tetangga sekita yang sudah mengetahui tidak baik jika menjauhi serta menyebarkan berita yang tidak benar.

Alangkah lebih baiknya yang sudah mengetahui hal tersebut memberi dukungan mental melalui whatsapp, pesan singkat,ataupun pesan suara yang dipastikan tidak mengganggu dan menyinggung pasien tersebut.

Karena hal ini bertujuan untuk memberikan dukungan positif agar si pasien tetap merasa diperhatikan dan tidak sendiri dalam menghadapi virus ini.

Tidak hanya imun yang dijaga, akan tetapi iman pun sangat penting dijaga saat ini. Bagi pasien positif yang khususnya beragama islam tentulah merasa ibadah sangat penting dan diperlukan.

Jangankan saat sakit saat sehatpun ibadah wajib dan sangat dibutuhkan bagi seorang muslim. Sebagaimana yang sudah diketahui seorang muslim , Allah SWT tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya.

Sama halnya pada saat ini, pasien positif ialah orang sakit yang sedang berusaha untuk sehat dan dapat beraktifitas seperti sedia kala. Di masa karantina atau isolasi diri biasanya banyak hal yang dapat dilakukan oleh pasien postif Covid-19.

Selain istirahat dan olahraga yang cukup. Ibadah menjadi satu bagian yang tidak boleh dilupakan. Ibadah merupakan komunikasi seorang hamba kepada pencipta-Nya.

Ibadah merupakan kegiatan yang dapat mempererat hubungan Allah dan manusia. Ibadah merupakan jalan untuk seorang manusia meningkatkan dan menjaga imannya setiap detiknya. Banyak ibadah yang dapat dilakukan saat karantina, dari yang wajib sampai yang sunnah.

Seperti sholat fardhu serta sholat malam (tahajud) ,dzikir, tilawah atau membaca al-qur’an. Hal-hal positif ini dapat dilakukan oleh pasien positif yang beragama islam.

Sakit merupakan masa ketika Allah menggugurkan dosa-dosa seorang muslim. Saat itulah bagi yang sakit hendaklah mendekatkan diri pada Allah SWT.

Selalu mengingat kebesaran-Nya bahwa setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Iman seorang muslim dapat menurun dan naik. Kembali lagi pada setiap orang tersebut dapat menjaganya atau tidak.

Bagi pasien positif, iman dan imun suatu hal yang berdampingan untuk dilakukan. Meningkatkan keduanya saat sakit hal yang penting untuk dilaksanakan dengan seimbang.

Saat karantina tidak ada yang dapat dekat dengan pasien. Bercengkrama seperti biasa, berjabat tangan ataupun memeluk untuk sekedar menguatkan. Ini menjadi waktu yang sangat pas untuk lebih dekat dengan Allah. Bercengkrama dengan-Nya.

Selalu mengingat bahwa tidak ada tempat kembali melainkan Allah SWT. Dapat dikatakan masa karantina merupakan sebuah nikmat. nikmat untuk khusyuk beribadah dan lebih mengenal Sang Pencipta.

Hal ini jelas dapat memperbaiki kondisi batin, serta mental seseorang. Banyaknya penambahan kasus setiap harinya bahkan setiap detiknya. Banyaknya yang sudah kembali menghadap Sang Pencipta.

Kembali pada setiap manusia untuk selalu mengingat Tuhan-Nya. Tidak hanya yang sakit yang harus beribadah. Di kala sehat pun kita tidak boleh meninggalkan Allah.

Senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan merupakan salah satu cara seorang muslim mengingat Allah SWT. Meminta perlindungan pada sang Esa hendaknya dilakukan bagi semuanya.

Saling melindungi dan menjaga sesama manusia pun hendaknya selalu dilakukan. Mengingat musuh yang sedang kita hadapi sekarang tidak berbentuk nyata.

Tidak dapat terlihat bahkan tidak dapat diraba. Alangkah baiknya kita bersama selalu melindungi sesama dengan menjaga jarak, selalu memakai masker, tidak keluar rumah jika tidak terlalu penting, selalu menjaga kesehatan agar imunitas kuat, serta selalu berfikir positif setiap waktunya.

Tidak kalah pentingnya yaitu mengingat dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan saling mendo’akan untuk seluruh umat manusia yang ada di dunia ini. (**)

Editor: Ahmad Yani

#satgascovid19 #ingatpesanibu #ingatpesanibuwajibpakaimasker #ingatpesanibuwajibjagajarak #ingatpesanibuwajibcucitangan #wajibpakaimasker #wajibjagajarak #wajibjagajarakhindarikerumunan #wajibcucitangan #wajibcucitangandengansabun