Konseling pada Anak Middle Childhood

Rabu, 21 Oktober 2020

Sri Wahyuni, Prodi Bimbingan Konseling Islam, Institut Agama Islam Negeri Samarinda

Pada masa lalu, masa anak-anak sering dianggap sebagai masa yang tidak penting. Anak-anak dilihat sebagai penerima yang pasif dari budaya orang dewasa, sebagai objek yang perlu diisi oleh beragam informasi dan nilai-nilai.

 

Anak-anak juga dianggap bukan individu yang perlu dipahami atau diberi dukungan karena masih merupakan ‘milik’ dari orang dewasa.

Karena itulah muncul pernyataan Children should be seen and not heard- anak-anak hanya untuk dilihat, tidak usah didengar.

Barulah setelah tokoh-tokoh seperti Rousseu, Freud dan Piaget melakukan penelitian tentang masa kanak-kanak, terjadi perubahan pandangan ke arah positif.

Keunikan anak dan pentingnya masa kanak-kanak dalam perkembangan potensi manusia, baru diakui akhir-akhir ini. Masa kanak-kanak yang sehat dianggap penting untuk perkembangan selanjutnya.

Karena itulah mulai banyak penelitian-penelitian mengenai masa kanak-kanak ini. Anak-anak merupakan ‘penonton’ pada dunia orang dewasa.

Segala kebutuhannya masih amat tergantung pada orang tua orang dewasa lain. Karena masih terbatasnya kebebasan yang dimiliki, pilihan yang ada untuk konselor dan anak juga amat terbatas.

Anak-anak terpaksa harus mengambil apa yang ada saja. Dia tidak dapat mengubah lingkungannya.

Dalam hal konseling pada anak, peran konselor sebagai konsultan dan agen perubahan adalah yang utama, ia dapat melakukan hal-hal berikut: Mencoba mengubah anak sehingga lebih cocok bagi lingkungannya, Mencoba mengubah lingkungan agar anak dapat berfungsi dengan lebih baik, Gabungkan dari kedua usaha tersebut.

Konseling pada anak haruslah memperhatikan pola pikir mereka yang masih cenderung egosentris yaitu amat terpaku pada pola pikirnya sendiri.

Mereka juga lebih intuitif dan konkret dalam berfikir, sehingga sulit memahami hal-hal yang abstrak. Pada anak-anak yang lebih kecil, orientasi mereka adalah masa sekarang.

Oleh karena itu pertemuan konseling sedapat mungkin dilakukan minimal dua kali seminggu agar mereka memperoleh manfaatnya.

Proses konseling akan lebih bermakna bila anak memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi secara konkret, misalnya membuat sesuatu, bermain dengan sesuatu, main ayunan, dan lain-lain yang memberi kesempatan untuk mengeksplorasi secara konkret dunianya. (foto dokumentasi KKN-DR Individu TK-TPA Annaja unit 029)

Secara umum, anak-anak usia 5-9 tahun menghadapi masalah pada empat area (Baruth & Robinson III, 1987): Sekolah : Memahami guru dan dipahami guru, Takut bertanya dikelas, Menghadapi tugas-tugas yang terlalu sulit, Ingin lebih baik pada mata pelajaran tertentu, Tidak menyukai bidang tertentu, Dibebani pekerjaan yang terlalu mudah.

Keluarga : Ingin lebih dekat orang tua, Merasa orang tua terlalu ketat dan berharap terlalu banyak, Ingin punya relasi lebih baik dengan saudara kandung, Ingin punya kebersamaan lebih banyak dengan orang tua.

Hubungan dengan orang lain, ingin punya lebih banyak teman, bahan ejekan teman, membuat teman yang disukai mau bermain dengannya, takut berbicara dengan orang, belajar menyesuaikan dengan orang lain; untuk menjadi bagian dari sesuatu dan diterima.

Diri sendiri, Tidak bahagia, Merasa tidak kuat secara fisik, sosial atau pribadi, Belajar bagaimana mengelola perasaan, Belajar menangani perasaan malu (shyness) atau perasaan sepi (lonesome).

Disamping masalah-masalah perkembangan ini anak mungkin menghadapi hal-hal yang bersifat traumatik padahal mereka belum memiliki kemampuan yang baik dalam menangani stres.

Kejadian-kejadian yang akan menimbulkan tekanan berat antara lain, perceraian orang tua, kematian orang yang dicintai, penganiayaan fisik/emosional, tidak sukses pada bidang yang dianggap penting oleh anak, dan sebagainya. (**)

Editor: Ahmad Yani