Minggu, 28 Juni 2020
Oleh : Pitasari (Mahasiswi)
Ditengah kondisi pandemi Covid-19 sektor kesehatan dan ekonomi bisa dikatakan sangat memburuk, kedua sektor ini merupakan sektor terpenting sebab keduanya tidak pernah bisa dipisahkan dan selalu berkaitan.

Perputaran kegiatan ekonomi juga terhambat dan terhenti lantaran pandemi yang melanda, para pelaku ekonomi mulai dari distributor, produsen hingga konsumen terkena dampak akibat pandemi ini.
Bagi mereka pelaku distributor atau pedagang yang kesehariannya berdagang di pasar adalah orang yang sangat rentan sekali terkena atau tertular virus Covid-19, bagaimana tidak mereka adalah pelaku utama dari kegiatan ekonomi yang secara langsung bertatap muka dengan konsumen atau pembeli.
Bahkan, baru-baru ini tak sedikit dari para pedagang yang terkena/ terjangkit virus Corona, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKPPI) mencatat sebanyak 529 pedagang positif corona (Covid-19) di Indonesia. Kemudian, di antara ratusan pedagang yang positif corona tersebut sebanyak 29 meninggal dunia.
Ketua Bidang Keanggotaan DPP IKAPP, Dimas Hermadiyansyah mengatakan, saat ini terdapat 13.450 pasar tradisional yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air.
Sebanyak 12,3 juta orang tercatat menjadi pedagang di pasar tersebut. Angka itu belum termasuk para pemasok barang, PKL, kuli panggul, serta jejaring rantai di pasar tradisional. (Baca: https://nasional.okezone.com/read/2020/06/13/337/2229289/529-pedagang-positif-virus-corona-29-meninggal-dunia).
Begitu miris melihat fakta yang terjadi di lapangan dengan mereka para pedagang serta orang-orang yang berkerja mencari rezki di pasar tradisional, di satu sisi mereka dilema akan kesehatan yang terancam dengan Covid-19, namun di sisi yang lain ada tuntutan kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi setiap harinya.
Namun banyaknya para pedagang dan juga orang-orang yang menggantungkan nasib nya di pasar terpapar virus corona pasti memiliki sebab, salah satu pemicunya protokol kesehatan yang tidak diindahkan oleh sebagian besar para pedagang dan pembeli, seperti memakai masker, menjaga jarak dan lainnya.
Berdasarkan video yang beredar, suasana di Pasar Cileungsi cukup mencekam ketika para massa berusaha mengusir petugas yang akan melakukan pemeriksaan. Anggota TNI dan Polri kemudian turun tangan untuk menenangkan massa.
Setelah diberikan pengertian oleh anggota TNI, situasi yang tadinya memanas menjadi cair. Tidak lama setelah itu para petugas dari Gugus Tugas pergi meninggalkan Pasar Cileungsi.
Terkait insiden penolakan dan pengusiran itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Mike Kaltarin, mengatakan pengusiran itu karena kurangnya edukasi.
"Ya masyarakat masih belum memahami, kita lakukan edukasi kembali kalau itu (pemeriksaan) salah satu untuk memutus mata rantai," kata Mike kepada wartawan, Kamis (11/6).
(Baca:https://kumparan.com/kumparannews/ratusan-pedagang-pasar-cileungsi-bogor-usir-petugas-tes-corona-1taeGRzYVD5 ) Kurangnya akan edukasi terkait pandemi virus Corona kepada masyarakat terutama mereka yang berkecimpung di pasar tradisional menjadi salah satu penyebab tidak diindahkannya penerapan protokol kesehatan, selain itu pemerintah telah melakukan pendekatan yang salah dan tidak pesuasif dan tes dilakukan di pasar, bagaimana tidak warga pasar menolak untuk dilakukanya tes Covid-19.
Rusak dan bobrok nya sistem Sekuler Kapitalis telah gagal dalam menangani pandemi Covid-19 dari segala sektor, yang utama nya sendiri pada sektor ketahanan kegiatan ekonomi serta bidang kesehatan.
Negara telah gagal dalam mengedukasi terkait pandemi yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat, pun agar sadar dan patuh akan protokol kesehatan. Bukan hanya itu saja pemerintah harusnya menjamin akan kebutuhan pokok masyarakat di tengah pandemi agar tidak keluar rumah dan terpaksa berjualan di tengah situasi pandemi, dengan begitu penyebaran Covid-19 akan minim dan berkurang.
Setelah teredukasi dengan benar dan terpenuhi nya kebutuhan masyarakat negara juga harus menetapkan sanksi yang tegas kepada mereka yang masih berkeliaran terlebih jika tidak mematuhi akan protokol kesehatan yang telah dibuat.
Situasi ini sangat berbeda sekali dengan sistem Islam saat menangani adanya wabah, pada masa itu kholifah/ pemimpin dalam Islam bahkan terjun langsung membagikan bantuan makanan terhadap daerah yang terkena wabah dan segera mengisolasi daerah tersebut.
Bahkan pemimpin masa itu bersegera untuk melakukan penemuan obat untuk pengobatan dengan menfasilitasi sektor kesehatan, pun di bidang ekonomi juga tetap diperhatikan untuk tetap stabil dan tidak terjadi inflasi.
Dalam sistem Islam penanganan akan wabah diatasi dengan cepat dan sesegera mungkin agar tidak menyebar ke wilayah yang lainnya, dengan begitu penangan wabah hanya di wilayah titik asal mulanya wabah.
Sedang di wilayah lain masyarakat yang sehat bisa tetap beraktivitas dengan nyaman dan aman. Walaupun terjadi pengisolasian oleh kholifah di wilayah yang terkena wabah, tentu dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat baik yang terkena wabah maupun yang terdampaknya. Sehingga para pedagang tidak perlu lagi khawatir akan kekurangan yang menimpanya selama wabah.
Dalam Islam ada dan tidak adanya wabah kebutuhan pokok masyarakat sudah terpenuhi dengan layak, baik dari pekerjaan, pendidikan, kesehatan, serta keamanan telah diberikan negara dengan Cuma-Cuma secara merata bahkan per individu masyarakat.
Sehingga warga negara yang tinggal dalam naungan Islam akan hidup aman dan sejahtera karena tercurahnya rahmat dan karunia Allah SWT kepada umat manusia. Wallahu’alam Bisshawab.