Oleh. Eva Ariska Mansur
Aceh Barat Daya, Aceh
Kelompok Yahudi ekstremis pada Kamis (23-7-2026) melakukan penyerbuan terhadap Masjidil Aqsha. Juru bicara (jubir) jamaah dakwah ideologis dunia menekankan ini bukanlah peristiwa baru.
Nyanyian, doa, tarian, dan penodaan di masjid telah menjadi kejadian yang nyaris setiap hari. Jadi, bukankah seharusnya sekarang waktunya Masjidil Aqsha disucikan dan dibebaskan? (Dikutip Muslimahnews, 27/07/2026)
Peristiwa penyerbuan ini kebetulan bertepatan dengan hari peringatan yang sering mereka sebutkan sebagai penghancuran Bait suci.
Ini menjadi peringatan tahunan yang menjadikan Masjidil Aqsha sebagai sasaran penghancuran, lalu membangun kuil di atas reruntuhannya, serta Yahudisasi.
Kecaman datang dari berbagai pihak, mengutuk kejahatan zionis karena pelanggaran status bersejarah dan hukum, dan menuntut Israel bertanggung jawab secara total dari pelaku kejahatan.
Namun, ini hanya sekedar kutukan, umat Islam sudah terbiasa dengan bahasa-bahasa seperti itu. Bahkan setelahnya, justru menyaksikan Zionis Yahudi lagi dan lagi melakukan aksi penghancuran.
Sudah tidak heran lagi pada tiap kali entitas kriminal Yahudi melakukan kejahatan terhadap Masjidil Aqsha dan sekitarnya, termasuk di dalamnya kejahatan rezim-rezim di sekitar tanah suci.
Entitas Yahudi adalah musuh besar Islam yang penuh rasa benci dan dendam sejak zaman Rasulullah saw., dan rezim-rezim tersebut membiarkan Islam dan umatnya sejak hari pertama mereka berkuasa.
Namun, yang lebih mencengangkan lagi adalah saat Masjidil Aqhsa dikotori, umat Rasulullah saw. tidak sadar dan membela agamanya.
Sungguh miris, umat melihat penodaan tempat di mana para Ambiya salat dengan Rasulullah saw. sebagai pemimpinnya. Akan tetapi, mereka tidak bersedia untuk berperang guna mengembalikan tempat itu ke kesucian yang sepantasnya dengan kedudukannya.
Pernahkah umat berpikir, umat Rasulullah saw. salat lima waktu ditambah salat sunah lainnya, tetapi justru membiarkan tempat Isra Rasulullah saw. dinodai, seakan-akan itu cuma masalah biasa.
Sungguh keterlaluan perbuatan umat saat ini, para prajurit dan perwira umat, yang memuji-muji sang penakluk, Umar bin Khaththab, dan sang pembebas, Salahuddin al-Ayyubi, namun mereka tidak bersatu, bergerak, dan menyerang seperti Umar dan Salahuddin.
Umat Islam dan para prajuritnya pernah mengalami kemunduran, akan tetapi selalu disertai oleh serangkaian kemenangan, seperti halnya apa yang disaksikan oleh tentara salib dan Mongol sebelumnya.
Jadi, bukankah sudah saatnya rangkaian kemenangan tanah suci dimulai?
Bukankah sudah saatnya Masjidil Aqsha disucikan dari penodaan dan memperoleh ketenangan dan ketenteraman dalam takbir para pembebas dan tahlil para jamaah yang menaklukkannya?