Penulis: Amila
Dunia tengah mengalami krisis multidimensi. Krisis ekonomi, krisis lingkungan, perubahan iklim, konflik geopolitik, dan masih banyak lagi. Kondisi ini memicu kekhawatiran tak terkecuali pada generasi muda, sebab ketidaktahuan atas apa yang akan terjadi, bagaimana kehidupan yang akan dijalani ke depannya.
Jakpat di tahun 2025 melakukan survei terhadap genZ menyoal faktor penyebab gangguan mental yang kerap dialami. Hasilnya menunjukkan sekitar 60% sebabnya adalah cemas akan masa depan.
Fakta ini dikuatkan dengan apa yang terjadi secara global, di mana Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan sekitar 262 juta pemuda di dunia berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (NEET).
Tidak mengherankan jika banyak pengamat menyebut generasi muda saat ini sebagai "generasi cemas". Namun menariknya, apa yang disebut sebagai generasi cemas ini adalah generasi yang vokal dan berani. Beropini, berdiskusi, sudah menjadi hal biasa.
Lantang mempertanyakan berbagai ketidakadilan, mengoreksi apa yang berbeda dari standar idealismenya, kritis terhadap kebijakan publik, peduli terhadap isu lingkungan, sensitif terhadap masalah sosial, dan mampu menyuarakan aspirasi mereka melalui berbagai platform.
Istilahnya, generasi saat ini berada pada kondisi resisten. Mampu untuk menolak, bertahan, dan melawan suatu pengaruh. Ada sesuatu yang harus diubah di tengah dua hal yang terkesan kontradiktif ini, antara penuh kecemasan namun vokal.
Generasi muda (genZ) dengan segudang potensi menjadi penggerak perubahan, harus dipantik oleh suatu ide, pemikiran, pemahaman, yang hakiki kebenarannya.
Di sisi lain, kelemahan berupa kecemasan, kerapuhanw mental, harus dihilangkan dengan menjauhkan generasi dari virus mematikan yang disebut kapitalisme sekuler.
Manusia bergerak atas dasar pemahaman yang terpatri dalam benak. Jika ingin mematikan pergerakannya, matikan saja pikirannya dengan mengaburkan pemikirannya. Sistem kehidupan yang kapitalistik sekuler, mengarahkan pemaknaan hidup menuju keduniawian semata.
Kita dipaksa untuk menjadikan materi atau segala sesuatu yang tampak sebagai ukuran utama keberhasilan. Itulah yang akhirnya menciptakan tekanan bagi generasi muda. Sejak kecil didorong untuk berkompetisi, mengejar pencapaian individual, dan mengukur nilai diri berdasarkan prestasi, popularitas, maupun kekayaan.
Akibatnya, ketika fakta tidak sesuai target, kecemasan dan keputusasaan lah yang cenderung muncul. Selain membentuk pemaknaan hidup yang keliru, sistem kapitalis sekuler lah yang juga menyebabkan banyak kerusakan melanda dunia ini.
Kepemilikan tanpa batas, penguasaan hak-hak umum seperti tambang, hutan, dll atas nama pribadi, kerusakan moral akibat bebas lepas dalam bertingkah laku, dll. Sekulerisme menafikan keberadaan agama dalam setiap sisi kehidupan.
Alhasil terciptalah dari ide ini, manusia yang merasa lebih pantas dalam membuat aturan bagi kehidupan berdasarkan akalnya sendiri dibanding tuhannya. Generasi masa depan akan selamat jika hidup di bawah sebuah sistem tata nilai yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan jiwa.
Sistem itu adalah sistem Islam. Islam membangun ketenangan hidup melalui keimanan kepada Allah SWT, memberikan tujuan hidup yang jelas, sekaligus mengatur kehidupan masyarakat dan negara agar berjalan sesuai syariat-Nya.
Islam tidak hanya menawarkan obat mengatasi kecemasan individu, tetapi juga menghadirkan solusi yang menyentuh akar masalahnya sampai level negara. Negara dalam Islam berfungsi sebagai ra'in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya.
Memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, menyediakan pendidikan berkualitas, menciptakan iklim pekerjaan yang layak, serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang generasi.
Allah berfirman, “Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’:107).
Dijelaskan dalam tafsir Al-Qurthubi, Sa’id bin Jubair mengatakan dari Ibnu Abbas ra. yang berkata, “Muhammad saw. adalah rahmat bagi semua manusia. Karena itu siapa saja yang beriman kepada dia dan membenarkan dirinya maka ia bahagia. Siapa saja yang tidak beriman kepada dia maka tidak akan mengalami penenggelaman sebagaimana yang pemah menimpa umat-umat sebelum mereka.”
Banyak ulama menafsirkan dengan nada yang sama, bahwa Allah menurunkan Islam melalui Nabi Muhammad bagi seluruh umat, tanpa terkecuali. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, berarti tata aturan yang lahir dari aqidah islam akan memberi banyak kebaikan bagi seluruh manusia, meski tidak beriman sekalipun.
Islam mengatur segala aspek kehidupan, dari ekonomi, hukum, pergaulan, hingga tata cara bersuci dan ibadah lainnya. Allah yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu di alam semesta ini. Maka sudah tentu apa yang diturunkannya akan membawa banyak kebaikan.
Syaratnya, diterapkan secara total dan menyeluruh, tidak dipilih-pilih bak sajian prasmanan. Penerapan syariat Islam juga harus melalui sebuah wadah institusi politik khas yang juga berasal dari islam. Sejarah mengisahkan bagaimana dalam peradaban Islam yang mulia dan maju di masa lalu, generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berani, dan visioner.
Mereka memiliki kepribadian Islam yang kokoh sekaligus menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Pemuda-pemuda seperti Mush'ab bin Umair di masa awal dakwah, Muhammad Al-Fatih, hingga para ilmuwan Muslim lahir dari sistem yang menjadikan akidah Islam sebagai pondasi kehidupan.
Sampai-sampai Barat yang masih berada dalam kegelapan, terpana atas kemajuan peradaban Islam kala itu. Namun kegemilangan peradaban Islam tidak akan terwujud jika tidak diupayakan.
Bercermin pada bagaimana Rasulullah mengemban risalah Islam, berpedoman wahyu dari Allah SWT, diawali dengan melakukan pembinaan mendalam kepada para sahabat. Pembinaan dibutuhkan dalam rangka membentuk cara berpikir dan bersikap sesuai Islam yang kemudian karakter ini mampu menumbuhkan kegigihan dan keteguhan dalam mengemban dakwah bersama Rasul.
Di tengah tekanan yang amat berat dari pemuka Quraisy dan penghalang dakwah saat itu, para sahabat yang notabene para pemuda, tetap bertahan pada keimanannya dan perjuangannya. Karakter Inilah yang seharusnya juga tumbuh pada pemuda hari ini.
Dunia yang saat ini dalam kondisi carut marut membutuhkan upaya perubahan yang serius. Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam perubahan, mengubah kegelapan menjadi cahaya.
Apolitis tidak boleh hadir dalam diri pemuda. Justru semestinya membuka mata dan peduli atas kondisi umat hari ini. Ketika Rasulullah dan para sahabat menjadi benih perjuangan dakwah Islam di masa lalu hingga tersebar ke seluruh dunia, pemuda hari ini harus menjadi cikal bakal kebangkitan islam kembali dengan izin Allah.
Sudah saatnya sistem kehidupan berganti dari Kapitalisme menjadi Islam, di mana pemuda pun harus menjadi bagian di dalam perjuangannya.
Sebagaimana dakwah hingga hijrahnya Rasulullah SAW menjadi titik balik peradaban Islam, maka kegelisahan generasi muda hari ini pun dapat menjadi titik awal kebangkitan apabila diarahkan kepada perjuangan yang benar dengan ide yang benar pula. Gen Z berhimpun dan berdiri tidak sekadar untuk bertahan dari krisis, tetapi juga teguh menjadi generasi pengemban mabda Islam.
Sehingga terbentuk generasi yang tidak hanya peduli pada masa depannya sendiri, tetapi juga masa depan umat.