Stunting Tak Cukup Ditimbang

Oleh: Ratih Ramadani, S.P.

(Praktisi Pendidikan)

Pemerintah Kota Bontang resmi membuka pelaksanaan Operasi Timbang Serentak Tahun 2026 yang menyasar 9.840 balita di seluruh wilayah kota. Data hasil penimbangan ini akan menjadi dasar penyusunan intervensi lanjutan guna meningkatkan status gizi anak dan menekan angka stunting. Dalam arahannya,

Wali Kota Bontang mengakui bahwa penurunan angka stunting belum menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan, masih ditemukan bayi yang lahir dalam kondisi stunting sehingga memengaruhi capaian penurunan angka secara keseluruhan.

Upaya pemerintah ini tentu patut diapresiasi. Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah mengapa stunting masih menjadi persoalan serius meskipun berbagai program dan intervensi terus dilakukan?

Bukankah penanganan stunting telah menjadi prioritas nasional selama beberapa tahun terakhir?

Stunting Bukan Sekadar Persoalan Gizi

Selama ini stunting sering dipahami sebagai masalah kurang gizi. Akibatnya, solusi yang diberikan umumnya berfokus pada pemberian makanan tambahan, perbaikan pola makan, hingga program bantuan pangan.

Padahal stunting merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks dan sistemik. Fakta menunjukkan bahwa berbagai program penanganan stunting belum memberikan hasil yang memuaskan.

Bahkan setelah digulirkannya berbagai program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Ini menunjukkan bahwa akar masalahnya tidak sesederhana kekurangan asupan makanan.

Bontang sendiri dikenal sebagai salah satu kota industri dengan aktivitas ekonomi yang cukup tinggi di Kalimantan Timur. Namun, keberadaan industri ternyata tidak otomatis menjamin lahirnya generasi yang sehat dan bebas stunting. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan pola pergaulan masyarakat.

Kapitalisme Melahirkan Problem yang Sistemik

Salah satu faktor yang sering luput dibahas adalah dampak sistem kehidupan yang diterapkan saat ini. Sistem kapitalisme sekuler tidak hanya memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, tetapi juga membentuk pola hidup dan perilaku sosial.

Di bidang ekonomi, kapitalisme menyebabkan kesenjangan kesejahteraan yang semakin lebar. Banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk kebutuhan gizi dan kesehatan. Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, biaya hidup yang mahal, serta akses layanan kesehatan yang belum merata menjadi faktor yang memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, sistem sekuler liberal melahirkan berbagai problem sosial yang turut berkontribusi terhadap tingginya angka stunting. Maraknya pergaulan bebas, kehamilan di luar nikah, dan tingginya angka dispensasi pernikahan menjadi fenomena yang tidak bisa diabaikan.

Ketika pasangan memasuki pernikahan tanpa kesiapan fisik, mental, maupun ekonomi, risiko melahirkan anak dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk stunting, menjadi lebih besar.

Karena itu, stunting sesungguhnya bukan hanya masalah kesehatan, melainkan cerminan kegagalan sistem dalam menjamin kesejahteraan dan kualitas kehidupan masyarakat. Berbagai program yang dilakukan pemerintah sering kali hanya berfokus pada dampak, bukan menyentuh akar persoalan.

Islam Menjamin Kesejahteraan Rakyat

Islam memandang negara sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan rakyat.

Rasulullah saw. bersabda: "Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa pemimpin dalam Islam bukan sekadar regulator, melainkan pengurus yang memastikan seluruh kebutuhan rakyat terpenuhi. Karena itu, negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu, termasuk pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan.

Dalam sistem Islam, kemiskinan yang menjadi salah satu penyebab utama stunting akan diminimalkan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berpihak kepada rakyat.

Negara menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai, menjamin distribusi kekayaan yang adil, serta memastikan setiap keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizinya.

Generasi Sehat Lahir dari Sistem yang Sehat

Islam tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, spiritual, dan moral generasi. Karena itu, Islam membangun sistem yang saling mendukung dalam melahirkan generasi berkualitas.

Sistem pendidikan Islam mempersiapkan generasi menjadi calon ayah dan ibu yang bertanggung jawab. Mereka dibekali pemahaman tentang keluarga, pengasuhan anak, kesehatan, dan tanggung jawab sebagai orang tua.

Sistem kesehatan Islam menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas dan mudah diakses oleh seluruh rakyat tanpa diskriminasi.

Negara memastikan ibu hamil memperoleh pelayanan terbaik sejak masa kehamilan hingga persalinan. Sementara itu, sistem pergaulan Islam menjaga masyarakat dari pergaulan bebas yang berpotensi melahirkan berbagai persoalan sosial. Dengan aturan yang jelas mengenai hubungan laki-laki dan perempuan, Islam menciptakan lingkungan yang sehat bagi pembentukan keluarga.

Allah Swt. berfirman: "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya." (QS. An-Nisa: 9).

Ayat ini menunjukkan pentingnya menyiapkan generasi yang kuat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan keimanan.

Warisan Peradaban Islam

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam berhasil melahirkan generasi-generasi unggul yang kuat fisiknya, cerdas pikirannya, dan kokoh keimanannya. Tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Al-Fatih, Imam Syafi'i, Imam Malik, dan para ilmuwan Muslim lahir dari sistem yang mendukung tumbuh kembang generasi secara menyeluruh.

Karena itu, penanganan stunting tidak cukup hanya dengan operasi timbang, bantuan makanan, atau program sesaat. Persoalan ini membutuhkan solusi yang menyentuh akar masalahnya, yaitu perubahan sistem kehidupan yang mampu menjamin kesejahteraan rakyat, menjaga kualitas keluarga, dan melahirkan generasi yang sehat jasmani maupun rohani.

Tanpa perubahan yang bersifat sistemik, stunting akan terus menjadi persoalan yang berulang. Islam menawarkan solusi menyeluruh yang tidak hanya mencegah lahirnya generasi lemah, tetapi juga mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan bertakwa sebagai penerus peradaban.