Efek Domino Melemahnya Rupiah

Oleh: Herliana Tri M, S.P

Membahas kondisi lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tak sesederhana realita masyarakat awam atau penduduk yang tinggal di pedesaan, bahwa mereka tak bertransaksi langsung dengan dolar. Lemahnya nilai tukar rupiahpun tak hanya persoalan angka di layar pasar valuta asing.

Pada saat rupiah terus tertekan terhadap dolar AS, dampaknya menjalar ke berbagai sendi-sendi perekonomian bangsa, seperti efek domino yang sulit terputus. Memasuki Juni 2026, rupiah mencapai rekor depresiasi lebih dari Rp 18.000 per dolar AS.

Mengutip data dari Bank Indonesia pada 8 Juni ini, nilai kurs tengah rupiah mencapai 18.039 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini mencapai titik tertinggi setelah trennya terus memburuk sejak menembus Rp 17.000 per dolar AS di awal April lalu. Secara year to date (ytd), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen terhadap dolar AS. Kompas.com (8/7/2026)

Pelemahan rupiah terhadap dolar memiliki konsekwensi logis mendalam pada pemerintahan ini. Ekonomi yang sebagian besar justru bergantung pada impor baik bahan baku, energi, dan barang modal, menjadi pemicu berbagai masalah lanjutan tak berujung.

Efek pertama yang paling terasa adalah kenaikan biaya impor. Perusahaan yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri tentu mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli jumlah dolar yang sama.

Akibatnya, biaya produksi meningkat dan banyak pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual produknya. Saat harga barang naik, masyarakat sebagai konsumen akan mendapat imbasnya, berupa kenaikan barang-barang yang dibutuhkan.

Sedangkan pengusaha yang terus berpikir memeras otaknya, akan membahas efisiensi kerja yang berujung pada penghematan berbagai pos belanja termasuk pengurangan tenaga kerja. Kenaikan harga barang kemudian memicu inflasi.

Daya beli masyarakat menurun karena pendapatan tak ikut naik secepat kenaikan harga kebutuhan pokok. Rumah tangga mulai mengurangi konsumsi, terutama untuk barang-barang non-prioritas.

Jika kondisi ini berlangsung lama, aktivitas ekonomi dapat melambat karena permintaan masyarakat mengalami penurunan. Andai ada pihak yang dapat memperoleh keuntungan dari rupiah yang lemah, adalah eksportir yang menerima pendapatan dalam dolar AS.

Namun manfaat tersebut sering kali tidak cukup besar untuk menutupi dampak negatif yang dirasakan akibat kenaikan sektor-sektor lain, terutama industri yang bergantung pada impor dan masyarakat yang berpenghasilan tetap.

Karena itu, menjaga stabilitas mata uang bukan hanya tugas otoritas moneter, melainkan juga membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat, dan peningkatan daya saing industri dalam negeri. Mata uang yang stabil akan memberikan kepastian bagi dunia usaha, melindungi daya beli masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Menstabilkan Nilai Tukar

Stabilitas nilai tukar bukan sekadar target angka ekonomi, melainkan syarat penting bagi kesejahteraan masyarakat. Artinya, melemahnya mata uang bukan sekadar masalah kurs, tetapi akibat dari sistem ekonomi kapitalisme dan penggunaan uang fiat (uang kertas yang tidak ditopang emas atau perak).

Karena itu, solusi yang ditawarkan bukan hanya kebijakan jangka pendek, melainkan perubahan sistem ekonomi dan moneter secara menyeluruh. Oleh karenanya, perlu memperhatikan beberapa hal ini agar naik turunnya dolar tak berimbas pada ekonomi dalam negeri.

1. Mengganti sistem uang fiat dengan dinar dan dirham Islam mewajibkan negara menggunakan standar emas dan perak sebagai dasar mata uang. Bahkan saat ini berbagai individu masyarakat telah menggunakan emas dan perak sebagai tabungan menggantikan dolar atau mata uang lainnya yang mudah mengalami inflasi.

Emas menjadikan nilai uang melekat pada kandungan emas atau peraknya sehingga tidak mudah tergerus inflasi dan spekulasi. Rupiah yang berbasis emas dan perak, nilainya akan lebih stabil dibanding uang kertas yang dapat dicetak tanpa dukungan aset riil.

2. Mengakhiri dominasi dolar AS Ketergantungan dunia terhadap dolar membuat banyak negara rentan terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.

Karena itu, Islam menawarkan mengganti sistem moneter berbasis dolar dengan sistem berbasis emas dan perak yang berlaku universal sehingga tidak ada satu negara yang mampu mendominasi negara lain melalui mata uangnya. Emas dan perak yang memiliki nilai riil tak perlu ditopang dengan kebijakan negara tertentu untuk menjadikannya kuat, karena secara nyata memang memiliki nilai dibelahan bumi manapun.

3. Menutup sektor ekonomi ribawi dan spekulatif Salah satu penyebab krisis mata uang adalah perputaran uang yang besar di sektor non-riil seperti spekulasi valas, pasar derivatif, dan transaksi berbasis bunga.

Dalam ekonomi Islam, praktik riba dan spekulasi dilarang. Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, bukan komoditas yang diperdagangkan untuk mencari keuntungan.

4. Mengarahkan uang ke sektor riil Islam melandaskan ekonominya pada sektor riil semata. Uang harus beredar di sektor pertanian, industri, perdagangan, dan jasa.

Jika modal lebih banyak masuk ke sektor riil, produksi meningkat, lapangan kerja bertambah, dan daya tahan ekonomi terhadap gejolak nilai tukar menjadi lebih kuat.

5. Mengelola sumber daya alam oleh negara Dalam pandangan Islam, sumber daya alam strategis seperti minyak, gas, tambang emas, dan mineral tidak boleh dikuasai swasta atau asing.

Hasil pengelolaannya masuk ke kas negara sehingga negara memiliki cadangan kekayaan yang kuat untuk menopang stabilitas ekonomi dan mata uang. Kondisi ini akan mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri dan memperkuat nilai mata uang.

6. Menghapus ketergantungan pada utang berbunga Islam memandang utang luar negeri berbasis bunga sebagai sumber tekanan terhadap ekonomi dan mata uang.

Solusi Islam adalah pembiayaan negara melalui pengelolaan kepemilikan umum, zakat, kharaj, jizyah, dan sumber pemasukan syariah lainnya, bukan melalui pinjaman berbunga.

7. Penerapan sistem Kafah Seluruh solusi di atas hanya dapat diterapkan secara utuh melalui sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariah secara menyeluruh. Tanpa perubahan sistem politik dan ekonomi, solusi terhadap pelemahan mata uang hanya bersifat sementara dan parsial.

Sudah saatnya dunia ini menjadikan Islam sebagai solusi problematikanya termasuk dalam menyelesaikan masalah ekonomi agar masalah yang sama tidak selalu berulang. Allah Swt sebagai pencipta manusia dan alam ini lebih tahu bagaimana bumi ini diatur dan mendatangkan kemaslahatan.