Budiono Nilai Sistem Panen Air Hujan di Sleman Bisa Jadi Alternatif Atasi Krisis Air di Balikpapan

Senin 25 Mei 2026

BALIKPAPAN - Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono, menilai sistem panen air hujan yang diterapkan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dapat menjadi contoh bagi Balikpapan dalam mengatasi persoalan keterbatasan air baku.

Budiono Wakil Ketua DPRD Balikpapan-adys

Hal itu disampaikannya usai melakukan kunjungan luar daerah dan melihat langsung penerapan program Sekolah Panen Air atau Sekolah Banyu Bening di Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman.

"Di sana masyarakat memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Sistemnya sudah terintegrasi sampai ke rumah-rumah warga,” ujarnya, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, setiap rumah warga telah dilengkapi saluran paralon yang mengalirkan air hujan menuju tandon penampungan berukuran besar. Air yang telah ditampung kemudian diolah sehingga dapat digunakan, bahkan untuk kebutuhan konsumsi.

" Air hujan ditampung di tandon besar lalu disalurkan ke rumah warga. Program itu dikenal dengan Sekolah Panen Air atau Sekolah Banyu Bening,” katanya.

Budiono menilai konsep tersebut sangat relevan diterapkan di Balikpapan yang selama ini masih bergantung pada curah hujan sebagai sumber utama air baku.

" Saya melihat ini bisa menjadi solusi alternatif ketika Balikpapan mengalami kekurangan air bersih, apalagi kondisi geografisnya hampir sama-sama mengandalkan tadah hujan,” ungkapnya.

Selain membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, sistem tersebut juga dinilai efektif mengurangi risiko banjir. Sebab, masyarakat setempat turut membangun banyak biopori untuk meningkatkan daya serap air ke dalam tanah.

" Di sana hampir tidak ada banjir karena selain air hujan dipanen, mereka juga membuat banyak biopori untuk resapan,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, program tersebut telah diterapkan hampir di seluruh kawasan desa dengan dukungan penuh pemerintah daerah setempat, termasuk dalam pembangunan instalasi penampungan dan pengolahan air hujan.

" Setiap rumah yang memiliki atap bisa menyalurkan air hujan ke tandon penampungan. Pemerintah di sana juga mendukung penuh programnya,” ujarnya.

Dalam pengolahannya, air hujan disebut menggunakan teknologi elektrolisis sehingga menghasilkan air yang layak dikonsumsi tanpa perlu direbus terlebih dahulu.

Menurut Budiono, inovasi tersebut patut dipelajari lebih lanjut sebagai langkah jangka panjang menghadapi ancaman krisis air maupun dampak musim kemarau panjang di Balikpapan.

" Balikpapan punya potensi besar karena curah hujannya cukup tinggi. Metode seperti ini layak dipertimbangkan untuk membantu kebutuhan air bersih masyarakat,” tandasnya. (Adys/*)