Kemendikdasmen Wacanakan Bahasa Inggris Wajib di SD, DPRD Balikpapan Ingatkan Pentingnya Bahasa Indonesia

Senin 25 Mei 2026

BALIKPAPAN- Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di tingkat Sekolah Dasar (SD) mulai tahun 2027 mendapat dukungan dari Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Iim, Meski demikian, ia meminta agar penguatan Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas dalam dunia pendidikan.

Hj. Lim Rahman Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan. (adys)

Menurut Iim, penguasaan Bahasa Inggris sejak usia dini penting mengingat bahasa tersebut telah digunakan secara luas dalam bidang pendidikan, teknologi hingga komunikasi internasional.

“Bahasa Inggris sekarang sudah menjadi kebutuhan. Anak-anak memang perlu dibekali kemampuan itu sejak dini supaya bisa mengikuti perkembangan global,” ujarnya, Senin (25/5/2026).

Namun, Iim mengingatkan agar penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib tidak mengurangi perhatian terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan sekolah.

“Bahasa Inggris penting karena bahasa internasional, tapi Bahasa Indonesia tetap harus diperkuat sebagai bahasa ibu dan identitas bangsa,” katanya.

Ia menilai, saat ini penggunaan bahasa campuran di kalangan anak-anak mulai semakin sering ditemukan. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama, baik oleh pihak sekolah maupun orang tua.

“Sekarang anak-anak kalau berbicara kadang sudah campur-campur bahasanya. Ini juga harus menjadi perhatian,” ucapnya.

Hj Iim berharap pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dapat berjalan secara seimbang. Dengan begitu, siswa tidak hanya memiliki kemampuan berkomunikasi secara global, tetapi juga tetap memahami budaya dan jati diri bangsa melalui bahasa nasional.

“Kita ingin anak-anak mampu bersaing secara global, tapi tetap mencintai dan memahami Bahasa Indonesia,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menyambut baik rencana Kemendikdasmen yang akan menyiapkan pelatihan bagi tenaga pendidik sebelum kebijakan tersebut diterapkan secara nasional. Menurutnya, kesiapan guru menjadi faktor penting agar program berjalan maksimal di sekolah.

“Kalau nanti diterapkan sebagai pelajaran wajib, tentu gurunya juga harus benar-benar siap,” ujarnya lagi.

Ia pun berharap pelatihan diberikan kepada guru yang memang memiliki kompetensi di bidang Bahasa Inggris agar proses belajar mengajar lebih efektif. “Jangan sampai guru mengajarnya campur-campur. Sebaiknya memang guru yang sesuai bidangnya,” tandasnya. (Adys/*)