Prioritas Pembangunan Jembatan Baru Sei Rapak di Kaubun

Jumat 4 AGUSTUS 2023

KAUBUN- Usai mendampingi kunjungan kerja Gubernur Kaltim Isran Noor, di Kecamatan Kaubun, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, melanjutkan Kunker dengan meninjau jembatan Sungai Rapak yang sudah tak layak di Desa Bumi Rapak, Rabu (2/8/2023).

Jembatan Sungai Rapak terbuat dari kayu ulin, dinilai dapat membahayakan warga yang tiap hari melintas. Sebagian  sudah rusak dan miring di beberapa bagian jembatan.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kutim Wahasuna Aqla menjelaskan perencanaan pembangunan sudah dilakukan sejak 2020 lalu. Namun karena berbagai pertimbangan dan suasana covid-19, pelaksanaannya jadi tertunda.

Menurutnya, akhir Agustus 2023 ini akan dimulai dan prioritas adalah peningkatan akses jalan dan drainase untuk 'dropping' material. Persoalan bidang tanah yang terkena proyek pembangunan jembatan baru ini sudah 'clear', masyarakat sudah bersedia memberikannya, tidak ada masalah.

Bilamana perencanaan pembangunan berjalan lancar diakhir tahun 2024, akan dipastikan jembatan Sungai Rapak dapat difungsikan.

Adapun, estimasi biaya pembangunan jembatan sebesar Rp 25 miliar. Dengan panjang bentang utama 65 meter, lebar 6 meter, termasuk biaya jalan pendekat.

Selain jembatan di desa Bumi Rapak ada beberapa fasilitas umum yang akan dibangun diantaranya, kantor desa, balai pertemuan umum, di desa Bukit Permata dan Cipta Graha.

Selanjutnya, Bupati Kutim segera mengintruksikan Dinas PUPR Kutim melalui Bidang Bina Marga melakukan kajian untuk pembangunan jembatan baru Sungai Rapak.

"Ini sudah tidak layak dan sangat berbahaya. Jangan sampai menelan korban. Tolong Dinas PUPR lakukan kajian secepatnya, kita segera bangun yang baru," ungkap Ardiansyah.

Adapun informasi rencana pembangunan jembatan baru ini diperoleh saat Bupati Ardiansyah Sulaiman melakukan kunjungan dan beraudiensi dengan kelompok tani di sekitar jembatan tersebut.

Bupati Kutim yang melihat langsung keadaan jembatan Sei Rapak yang sudah tidak layak digunakan dan sangat memprihatinkan, sehingga Ardiansyah menginstruksikan ke Dinas PUPR segera melakukan kajian menindaklanjuti perencanaan yang ternyata sudah dimulai 2020 lalu.

Maka itu ditahun 2023  akan dimulai dengan pengerasan jalan akses masuk sepanjang 700 meter untuk membawa material. Wilayah sebagai sentra padi di Kutim, yang mengelola lahan seluas 200 hektar, dapat lebih produktif serta dapat memperlancar pemasaran. (Adv/*)