Strategi Ekraf Kutim Butuh Terobosan Digital untuk Tingkatkan Daya Saing Daerah

Rabu 26 November 2025

SANGATTA – Anggota Komisi B DPRD Kutai Timur, Yusri Yusuf, secara tegas menyatakan bahwa pendekatan pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di wilayahnya dinilai masih belum menunjukkan kemajuan yang signifikan dan cenderung bersifat konvensional. Evaluasi kritis ini disampaikan oleh legislator tersebut dalam sebuah dialog eksklusif yang berlangsung di Sangatta, yang menggarisbawahi adanya kesenjangan antara potensi dan realita pelaksanaannya.

Yusri Yusuf anggota DPRD Kutim

Yusri Yusuf memaparkan bahwa sebagai representasi rakyat, dewan telah aktif mendorong instansi pemerintah yang berwenang untuk menaruh perhatian lebih serius dalam membangun sektor ekonomi yang prospektif ini. "Ekraf itu kami tekankan ke dinas untuk pengembangan Ekraf, tapi mereka masih punya program yang betul-betul sesuai dengan kerja mereka," ujarnya. Dengan penekanan lebih lanjut, ia menegaskan, "Kita minta supaya Ekraf itu ditingkatkan."

Namun, menurut analisis mendalam yang dilakukannya, serangkaian strategi yang telah diimplementasikan oleh pemerintah daerah hingga detik ini belum mampu menampakkan progress atau perkembangan yang menggembirakan. "Untuk strateginya ya saat ini belum terlalu signifikan lah, maksudnya apa yang ada sih sesuai aja, karena pengembangan Ekraf masih seperti yang sebelum-sebelumnya," jelas Yusri, menyiratkan adanya pola repetitif tanpa inovasi. Sebagai bukti konkret, ia kemudian menjabarkan contoh bentuk kegiatan yang selama ini rutin dilaksanakan, "Melayani UMKM, membantu-bantuan produksi mereka, mungkin seperti itu."

Lebih jauh, Yusri dengan sikap terbuka mengakui bahwa skema pengembangan Ekraf di Bumi Sangatta saat ini tampaknya belum mampu menjamah atau memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh sektor digital yang sedang mengalami tren global. "Cuma untuk mengambil yang seperti streaming-streaming, youtuber, itu belum, belum Sampai ke sana," tuturnya, mengidentifikasi area yang masih terabaikan. Ia kemudian menjelaskan alasan mendasar di balik ketertinggalan ini, "Karena dianggap belum terlalu populer bagi kita. bagi kita nih ya. Kalau nasional sudah populer, tapi bagi kabupaten belum ada yang meminta untuk seperti itu."

Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh anggota dewan ini secara jelas mengindikasikan suatu realita bahwa fokus pengembangan Ekonomi Kreatif di Kutai Timur masih sangat terpusat pada model Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bersifat tradisional. Pendekatan ini dinilai belum beranjak untuk merangkul dan mengeksplorasi peluang ekonomi kreatif berbasis digital yang sebenarnya telah menunjukkan daya ungkit dan potensi pertumbuhan yang sangat pesat di tingkat nasional, sehingga berpotensi membuat daerah tertinggal dalam persaingan ekonomi modern.

Kesenjangan antara perkembangan nasional dan implementasi lokal ini menyoroti perlunya sebuah transformasi strategis. Jika tidak diatasi, dikhawatirkan Kutai Timur akan kehilangan momen untuk membangun fondasi ekonomi kreatif yang tangguh dan relevan dengan era digital, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi daya saing dan pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan dalam jangka panjang. (adv/*)