Senin 13 April 2026
BALIKPAPAN– Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menegaskan bahwa persoalan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) menjadi perhatian utama dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Balikpapan.
Dari total sekitar 65 SPPG yang tersebar di Balikpapan, sebanyak 17 dapur diketahui telah dihentikan sementara operasionalnya karena belum memenuhi persyaratan, khususnya terkait pengelolaan limbah. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga standar lingkungan dan kesehatan masyarakat.
"Yang menjadi persoalan utama adalah IPAL. Banyak dapur yang limbah pencuciannya langsung dibuang ke saluran tanpa pengolahan, sehingga menimbulkan bau dan berpotensi mencemari lingkungan,” ujar Bagus, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa IPAL menjadi salah satu syarat utama selain standar kelayakan dapur dan aspek higienitas lainnya. Jika tidak dipenuhi, maka dapur tersebut tidak diperkenankan beroperasi sementara waktu hingga melakukan perbaikan.
Meski demikian, Pemerintah Kota Balikpapan tidak tinggal diam. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, pemerintah akan segera menyusun standar teknis IPAL yang lebih aplikatif.
"Dapur SPPG ini kan bukan industri besar. Ada yang berada di ruko, ada juga di rumah, dengan kapasitas yang berbeda-beda. Maka kita akan siapkan beberapa opsi standar agar bisa disesuaikan,” jelasnya.
Bagus juga menyoroti dampak penghentian operasional tersebut terhadap para relawan dan penerima manfaat.
Ia menyebut, satu dapur SPPG dapat melibatkan sekitar 40 hingga 50 relawan. Selain itu, penghentian juga berdampak pada distribusi makanan bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
" Ini yang menjadi perhatian kami. Jangan sampai karena belum memenuhi syarat, programnya terhenti total dan masyarakat yang membutuhkan jadi tidak mendapatkan manfaat,” katanya.
Untuk itu, Pemkot Balikpapan berupaya mencari solusi cepat dengan mendorong dapur-dapur tersebut segera memenuhi standar IPAL.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar pertemuan bersama instansi teknis guna membahas langkah konkret, termasuk pendampingan dan opsi pembangunan IPAL sesuai kapasitas masing-masing dapur.
Dengan langkah tersebut, diharapkan seluruh SPPG di Balikpapan dapat kembali beroperasi secara optimal, sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan. (Adys/Adv Diskominfo Balikpapan/*).