BALIKPAPAN – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan, Irfan Taufik, S.Ag., M.Si, menegaskan pentingnya pendidikan usia dini sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Hal itu disampaikannya usai mengikuti apel rutin di halaman Kantor Disdikbud Balikpapan, Senin pagi (20/10).
Menurut Irfan, masa usia dini—terutama pada rentang usia 0 hingga 12 tahun—merupakan periode emas (golden age) yang menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
"Pendidikan usia dini itu krusial, karena di usia 12 tahun pertama inilah pondasi karakter, moral, dan kemampuan berpikir anak dibentuk. Kalau kita ingin mewujudkan Indonesia Emas, maka investasi terbesar harus diberikan pada pendidikan di masa ini,” ujarnya.
Irfan menambahkan, perhatian pada pendidikan usia dini bukan sekadar persoalan akademik, tetapi juga pembangunan karakter dan pembiasaan nilai-nilai luhur.
Ia menilai bahwa setiap lembaga pendidikan, baik PAUD, SD, maupun lembaga non-formal, harus menjadi ruang yang menumbuhkan rasa ingin tahu, empati, serta semangat belajar anak-anak.
"Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dan teladan. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan,” tambahnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang menempatkan pendidikan usia dini sebagai prioritas nasional.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, Indonesia menargetkan peningkatan mutu pendidikan dasar sebagai prasyarat utama menuju Indonesia Emas 2045, yakni era ketika bangsa Indonesia diharapkan memiliki sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing global, serta berkarakter Pancasila.
Hasil riset dari UNESCO juga menunjukkan bahwa setiap satu dolar yang diinvestasikan dalam pendidikan anak usia dini dapat menghasilkan manfaat ekonomi hingga tujuh kali lipat di masa depan, karena anak-anak yang memperoleh stimulasi dan pembelajaran sejak dini memiliki kemampuan kognitif dan sosial yang lebih baik.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa partisipasi anak usia dini di Indonesia masih perlu ditingkatkan, terutama di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses dan tenaga pendidik.
Untuk itu, Irfan menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
"Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan masyarakat dan dunia industri sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berdaya tahan dan adaptif terhadap perubahan zaman,” katanya.
Apel pagi yang menjadi rutinitas setiap hari Senin tersebut juga diikuti oleh seluruh pejabat struktural, staf, dan pegawai Disdikbud Kota Balikpapan.
Dalam kesempatan itu, Irfan mengajak seluruh jajaran untuk memperkuat komitmen dan kolaborasi dalam membangun pendidikan yang berkarakter dan berkelanjutan.
"Kita ingin memastikan anak-anak Balikpapan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan semangat kebangsaan yang tinggi. Dari sinilah generasi emas itu akan lahir,” tandasnya. (SS/*)