
Catatan: Syarif Syamsul.
Mandar kembali menorehkan jejak di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Putra-putra terbaik dari tanah Mandar menunjukkan bahwa identitas daerah bukan batas untuk menembus panggung akademik nasional.

Terbaru, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., putra asli Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, resmi dilantik sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak oleh Menteri Agama Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Pelantikan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Sulawesi Barat, khususnya masyarakat Mandar. Seorang akademisi kelahiran Mandar kembali dipercaya mengemban amanah memimpin perguruan tinggi keagamaan negeri di Indonesia.
Dilansir Radar Sulbar, Prof. Wajidi Sayadi merupakan akademisi yang memiliki rekam jejak panjang di dunia pendidikan. Ia juga dikenal sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hadis di IAIN Pontianak.
Sementara dilansir Pojok Sulsel, Prof. Wajidi dilantik bersama tiga pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) lainnya. Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam arahannya meminta para rektor yang baru dilantik segera menghadirkan inovasi dan perubahan nyata sejak 100 hari pertama kepemimpinan.
Para pimpinan perguruan tinggi juga diminta menjaga stabilitas akademik di tengah berbagai dinamika yang akan datang.
Kehadiran Prof. Wajidi di pucuk pimpinan IAIN Pontianak menambah panjang daftar putra Mandar yang dipercaya memimpin institusi pendidikan tinggi di luar tanah kelahirannya.
Jauh sebelumnya, di Kalimantan Timur, masyarakat Mandar juga pernah mencatatkan sejarah melalui Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si., putra Mandar kelahiran Su'bi, Polewali Mandar. Ia dipercaya memimpin Universitas Mulawarman (Unmul) di Samarinda selama dua periode sebagai rektor.
Kiprah Prof. Masjaya menjadi bukti bahwa putra daerah dari tanah Mandar mampu bersaing dan dipercaya memimpin perguruan tinggi besar di tingkat nasional.
Dari Samarinda hingga Pontianak, jejak tersebut menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak berhenti pada tempat ia dilahirkan. Mandar memiliki sejarah panjang tentang perantauan.
Orang Mandar dikenal berani meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari ruang pengabdian yang lebih luas. Jika dahulu keberanian itu banyak diwujudkan melalui pelayaran dan perdagangan, kini semangat tersebut hadir dalam bentuk ilmu pengetahuan, pendidikan, birokrasi, dan kepemimpinan akademik.
Prof. Masjaya di Universitas Mulawarman dan Prof. Wajidi Sayadi di IAIN Pontianak adalah dua nama yang memperlihatkan wajah lain dari perantauan orang Mandar: merantau membawa ilmu, pulang membawa nama baik. Yang lebih penting, capaian tersebut tidak semestinya berhenti sebagai kebanggaan.
Prestasi para akademisi Mandar harus menjadi inspirasi bagi generasi muda di Sulawesi Barat bahwa kampus-kampus besar di Indonesia bukan sesuatu yang jauh dari jangkauan. Mandar tidak hanya memiliki sejarah, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang mampu menulis sejarah baru. Dari Polewali Mandar, menuju Samarinda dan Pontianak, putra-putra Mandar membuktikan satu hal: akar boleh tumbuh di kampung halaman, tetapi pengabdian tidak mengenal batas wilayah.
Selamat mengemban amanah kepada Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. Semoga kepemimpinannya membawa IAIN Pontianak semakin maju, berintegritas, dan memberi manfaat luas bagi bangsa.
Sebab ketika seorang putra Mandar berdiri di puncak sebuah institusi, yang ikut berdiri bukan hanya dirinya—tetapi juga nama tanah yang membesarkannya.