Jumat 6 September 2024
Oleh : Risnawati
(Pegiat Literasi)
Setelah publik diramaikan dengan kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia, dan mengunjungi Masjid Istiqlal. Dan hal ini kembali menjadi perbincangan soal toleransi antar umat beragama, hingga Imam besar Masjid istiqlal juga menanggapi hal tersebut.
Melansir dari laman TEMPO.CO, Jakarta - Iman Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengatakan Masjid Istiqlal bukan sekedar rumah ibadah bagi umat Islam, melainkan rumah besar bagi kemanusiaan.
Pernyataan itu disampaikan di hadapan Paus Fransiskus dalam kunjungannya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Pagi ini. "Masjid Istiqlal yang telah direnovasi oleh Presiden Jokowi, bukan hanya rumah ibadah umat Islam, tapi rumah besar kemanusiaan. Kita berprinsip humanity is only one," kata Nasaruddin saat membacakan pidatonya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis 5 September 2024.
Barat Merusak Pemahaman Toleransi Rusaknya pemahaman toleransi, sehingga salah kaprah menoleransi perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam adalah akibat masuknya pemahaman toleransi ala Barat. Pada perkembangan selanjutnya, kata toleransi digunakan dalam agenda “Islamophobia" oleh negara kafir imperialisme.
Tujuannya untuk meneguhkan paham demokrasi sekuler liberal dan menyerang ajaran dan simbol Islam. Pada saat praktik eljibiti disebut sebagai perilaku bejat, amoral, dan menyimpang dari Islam, penyebutan ini dianggap intoleran.
Sebaliknya, mengakui kebenaran agama selain Islam, melegalkan praktik eljibiti, malah disebut sebagai wujud toleransi.
Demikianlah, kata toleransi dipakai dengan tak berdasar hujjah untuk menyerang ajaran dan identitas Islam, serta meneguhkan sistem demokrasi sekuler liberal. Bahkan, Barat sebetulnya bersikap inkonsistensi terhadap makna toleransi yang mereka bangun.
Jika mereka konsisten, semestinya umat Islam yang melaksanakan ajaran Islam juga harus mereka hormati. Faktanya, muslimah yang berkerudung dan berjilbab mereka sebut sebagai intoleransi. Lebih ironis, saat Barat mencederai makna toleransi, justru tidak dianggap intoleran.
Sungguh disayangkan, tanpa disadari, atas nama toleransi, umat Islam banyak yang terjebak pada racun akidah sekuler demokrasi dengan mencampuradukkan kebatilan dan kebenaran.
Mengambil kebenaran dikatakan intoleran dan menerima kemaksiatan dianggap toleran. Astaghfirullah. Menelaah kondisi saat ini, dimana pemutarbalikan makna toleransi dan intoleransi, kita bisa melihat ada ide yang diharuskan bersamaan dengan pengharusan moderasi beragama yang semakin masif, yaitu ide penerimaan atas semua perbedaan, khususnya perbedaan yang menyelisihi syariat Islam.
Umat seolah sedang digiring ke dalam pemahaman bahwa perbedaan adalah bagian dari pluralitas yang perlu ditoleransi keberadaannya, tanpa melihat lagi esensi perbedaan tersebut. Perbedaan yang memang muncul dari perbedaan pendapat atas dalil memang layak kita terima.
Namun, jika lantas semua perbedaan ini digeneralisasi, baik benar ataupun salah, baik berdalil dengan dalil islami ataupun tanpa dalil sama sekali, semua harus ditoleransi, ini sama artinya dengan mengaburkan umat dari agamanya dan menjauhkan mereka dari kebenaran agamanya.
Islam Mengajarkan Toleransi Yang Sahih
Islam sebagai agama yang sempurna datang dengan seperangkat aturannya termasuk toleransi. Karena itu sesungguhnya, toleransi bukanlah hal yang baru di dalam Islam.
Jauh sebelum wacana ini dihembuskan, Islam adalah agama pertama yang menerapkan sikap toleransi ini. Islam agama yang mengajarkan toleransi, dengan dibawa oleh Rasulullah SAW, sebelum Islam hadir dimuka bumi, bangsa Arab hidup dalam berbagai pertikaian, permusuhan, dan berbagai keterpurukan moral yang menjangkiti masyarakatnya.
Mereka saling berselisih satu dengan yang lainnya, saling mengkotak-kotakkan suku, ras, dan warna kulit masing-masing. Sehingga banyak sekali permusuhan yang merebak di antara mereka. Nabi Muhammad SAW.
Diutus oleh Allah SWT sebagai seorang Rasul dan membawa ajaran Islam dengan seperangkat aturan yang datang dari-Nya. Sejak itulah tatanan kehidupan bangsa Arab yang saling bertikai dan tidak saling menghargai satu sama lain pun sirna. Kedamaian dan kerukunan menyelimuti bangsa Arab, baik Muslim maupun non muslim.
Disisi lain, Islam mengajarkan untuk tidak membedakan kasta atau etnis. Dan tidak pernah ada sentimen mayoritas terhadap kaum minoritas. Sehingga non muslim yang hidup di Negara Islam dan tunduk patuh pada kekuasaan Islam dalam batas-batas tertentu mendapatkan perlakuan yang sama sebagaimana yang dirasakan kaum Muslim.
Harta dan jiwa mereka dilindungi. Hal tersebut dilakukan semata-mata karena kaum Muslimin menjalankan syariat Islam. Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Barangsiapa membunuh seorang mu'ahid (orang non muslim yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekalipun." (HR. Ahmad)
Demikianlah indahnya toleransi yang diwujudkan dalam Negara Islam ketika hukum Islam diterapkan. Negara Islam memperlakukan semua rakyat dengan adil baik muslim maupun non muslim, baik rakyat jelata maupun pejabat negara.
Meskipun umat Islam memimpin baik dari segi kekuasaan dan juga jumlahnya, tidak ada kezaliman yang menindas kaum minoritas di dalam negara Islam. Walhasil, Islam mengajarkan toleransi selama toleransi itu bukan dalam hal yang berkaitan dengan agama. Karena, untukku agamaku dan untukmu agamamu. Wallahu a'lam.