Islam Solusi Tuntas Atasi Sistem Pendidikan Sekuler

Rabu 28 Agustus 2024

Oleh : Nurhalisa. S

(Aktivis Muslimah Universitas Mulawarman)

Pendidikan hari ini sedang tidak baik-baik saja, permasalahan di dunia pendidikan hari ini kian menjadi. Mulai dari uang kuliah tunggal (ukt) yang mahal, perundungan yang dilakukan senior terhadap juniornya di lingkungan kampus, serta banyaknya oknum pendidik yang melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa yang membuat mereka trauma atau depresi hingga pada puncaknya sebagian dari mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Dilansir dari Kumparan News 13/08/2024, seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggal bunuh diri di kamarnya bertempat di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman (12/8). Mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2021.

Seorang mahasiswa bernama Sulthan Nabinghah Royyan (18 tahun) ditemukan meninggal dunia karena gantung diri di kamar mandi sebuah penginapan OYO di dekat Kampus IPB University Dramaga Bogor, Jawa Barat.

(Rejabar.republika.co.id /09/08/2024) Aulia Risma Lestari, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Undip yang bunuh diri karena diduga tak kuat atas perilaku bullying yang dialaminya di kampus.

Aulia seorang dokter muda di RSUD Kardinah Tegal itu, bunuh diri dengan cara menyuntikkan obat bius jenis Roculax. Beliau nekat mengakhiri hidupnya lantaran tak tahan dengan perundungan yang dialaminya selama menempuh pendidikan. Bersamaan dengan temuan jasad mendiang Aulia, didapati pula buku diary yang berisi curahan hati yang diduga menjadi saksi penderitaannya sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

Di dalam catatan tersebut, tersirat makna bagaimana Aulia tampak tersiksa dan merasa tidak kuat dengan apa yang dialaminya. (Alfa Kamila 20/08/2024)

Potret Pendidikan Sekuler

Dari beberapa kasus di atas menggambarkan bahwa situasi pendidikan hari ini sungguh menghawatirkan. Hal ini disebabkan oleh pendidikan ala kapitalis sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan.

Berbagai masalah timbul bisa dilihat dari beberapa kasus perundungan dan bunuh diri di dalam satuan pendidikan ibarat gunung es yang tidak kunjung selesai.

Selain itu pendidikan juga dikapitalisasi oleh elit global. Mereka membuat sistem pendidikan yang tujuannya untuk dijadikan sebagai alat pemuas hasrat finansial para pemangku kebijakan dalam mencapai kepentingannya. Karenanya pendidikan menjadi mahal.

Akibat penerapan pendidikan sekuler menghasilkan krisis adab dan moral pada generasi yang mengakibatkan generasi hari ini jauh dari agamanya.

Bagaimana generasi beradab, jika moralnya hancur terlibas gaya hidup bebas? Sistem pendidikan sekuler terbukti gagal mewujudkan generasi cemerlang.

Apa kontribusi positif pendidikan sekuler bagi generasi ini? Sistem ini hanya menjadi beban masalah bagi orang tua, pendidik, peserta didik, dan negara. Sistem ini juga hanya bisa menghasilkan generasi minus akhlak, berkepribadian labil, dan bimbang dengan dirinya sendiri alias krisis identitas.

Dalam penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalisme, kurikulum senantiasa berubah mengikuti selera pasar dan arus global. Akibatnya membuat masyarakat tidak bisa menggali potensi mereka padahal seharusnya mereka dapat bermanfaat untuk menyelesaikan berbagai masalah umat hari ini akan tetapi mereka malah sibuk dengan kegiatan-kegiatana yang menghilangkan potensi agen perubahan didalam dirinya.

Asas sekuler memengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya pada proses penguasaan tsaqafah Islam dan pembentukan kepribadian Islam sebagai agama mayoritas yang ada di negeri ini.

Inilah akibat dari sistem pendidikan sekuler, semua berasal dari penerapan sekularisme di lingkup pendidikan yang meniadakan Islam sebagai aturan kehidupan.

Agama sebatas pelajaran formal yang diajarkan di sekolah dengan jam yang minim. Agama Islam hanya dikenal pada peringatan hari besar. Islam tidak menjadi dasar dan acuan dalam pendidikan.

Islam Solusinya

Dalam sistem pendidikan sekuler, peran Agama Islam dikerdilkan. Akibatnya sangat fatal, diantaranya adalah krisis moral di kalangan mahasiswa yang makin parah, sebagaimana telah disinggung di atas. Hal ini disebabkan para mahasiswa tersebut tidak dibekali dengan bekal pendidikan agama yang cukup.

Oleh karena itu, di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, sistem pendidikan bukan saja harus mengikutsertakan Agama Islam. Bahkan, sudah seharusnya Islam menjadi dasar bagi sistem pendidikan sekaligus mewarnai seluruh kebijakan pendidikan di tanah air.

Islam memiliki sistem pendidikan yang kuat, karena berbasis akidah Islam dan dengan dukungan sistem lain yang sesuai dengan syariat, dengan islam akan tercipta lingkungan hidup yang mendukung terwujudnya kepribadian Islam.

Ada beberapa yang perlu diperhatikan ketika untuk membentuk karakter kepribadian anak yang islami. Pertama, keluarga memiliki peran kunci dalam pembentukan kepribadian anak.

Kehidupan keluarga yang tidak stabil, kurangnya perhatian orang tua, dan pola asuh yang salah akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak. Pola pikir orang tua sekuler akan melahirkan generasi sekuler yang tidak paham agama.

Jika kita menginginkan anak saleh dan salihah, bukankah harus dimulai dari orang tua yang saleh pula? Kesalehan hanya dapat terwujud tatkala pola pendidikan keluarga merujuk pada Islam.

Jika anak tidak memiliki teladan yang baik di keluarga, mereka akan cenderung mencari dukungan atau identitas di luar keluarga yang terkadang membawanya pada pergaulan yang salah. Di sisi lain, meski banyak sekolah berbasis agama (Islam), tetap belum mampu menghalau rusaknya generasi.

Mau sebaik apa pun orang tua mengasuh dan mendidik dengan suasana iman, mereka tetap waswas dengan lingkungan masyarakat sekuler yang tidak kondusif. Inilah pentingnya sistem sosial masyarakat yang islami, bukan hanya keluarga Islami.

Kedua, masyarakat. Kekondusifan masyarakat sangat diperlukan dalam membentuk kepribadian saleh bagi anak. Kontrol dan pengawasan masyarakat sangat dibutuhkan dalam mencegah perilaku. Ketika kontrol ini hilang, masyarakat cenderung apatis dan tidak peduli.

Dalam sistem sekuler, cara pandang masyarakat sekuler cenderung menormalisasi perilaku yang sebenarnya menyalahi aturan Islam, seperti budaya pacaran, hedonistik, konsumtif, permisif, serta gaya hidup liberal.

Bahkan, sebagian masyarakat menganggapnya sebagai bentuk modernisasi kehidupan. Alhasil, generasi sangat dekat dengan kehidupan sekuler liberal yang mendegradasi nilai moral dan akhlak.

Ketiga, peran negara. Dalam negara Islam pendidikan merupakan kebutuhan wajib yang harus dipenuhi. Hal yang dilakukan diantaranya penanaman tsaqofah Islam, berupa akidah, pemikiran, dan perilaku Islam ke dalam akal dan jiwa anak didik yang dimasukkan kedalam kurikulum di sekolah.

Dalam negara islam pemikiran (fikrah) menjadi prioritas karena pendidikan Islam ini tidak bisa dilepaskan dari metodologi penerapan (tharîqah)-nya, yaitu sistem pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam.

Oleh karena itu, dalam Islam penguasa bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan warganya. Sebabnya, pendidikan adalah salah satu di antara banyak perkara yang wajib diurus oleh negara.

Rasulullah SAW bersabda:

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).