Selasa 23 Juli 2024
Oleh : Novita Mayasari, S.Si
Pengamat Generasi
Tidak dimungkiri bahwa saat ini kita memasuki era digital, ini membuktikan bahwa zaman dan teknologi semakin maju.
Semua informasi dapat kita peroleh secara cepat dan mudah. Tidak hanya itu tren-tren yang jauh dari manfaat pun cepat sekali menyebar dikalangan anak muda khususnya gen Z. Walhasil gen Z sangat mudah terpengaruh dalam era digitalisasi ini.

Sebagaimana yang terjadi baru-baru ini di kota Banjarmasin sedang viral bahwa pemuda disana mabuk kecubung yang sayangnya berujung kematian. Dikutip dari Kompas (Rabu, 10/07/2024), dikatakan bahwa mabuk kecubung menewaskan 2 orang di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (KalSel).
Kedua korban diketahui mengoplos kecubung dengan alkohol dan obat-obatan. Direktur RSJ Sambang Lihum, Yuddy Riswandhy menjelaskan bahwa fenomena mabuk kecubung di Banjarmasin merupakan masalah serius.
Bahkan saat ini pihak RSJ Sambang Lihum sedang merawat 35 pasien yang diduga mengonsumsi kecubung. Para pasien tersebut alami gangguan mental dengan kondisi yang bervariasi dari ringan hingga akut.
Senada dengan apa yang di himbau oleh Kepala Kepolisian Resort Kota Banjarmasin, Kombes Cucun Kurniadi beliau menyampaikan bahwa, "Hindari mengkonsumsi tanaman kecubung yang tidak seharusnya dikonsumsi sembarangan. Jika tanaman itu dikonsumsi dapat berdampak menyebabkan gangguan mental sementara atau permanen."
Fenomena mabuk kecubung ini membuktikan bahwa semakin rusaknya generasi muda saat ini dan makin sempitnya pemikiran mereka dalam menjalani hidup termasuk menyelesaikan masalah kehidupan.
Akankah kita hanya diam melihat generasi muda yang di ambang kehancuran ini?
Liberalisasi Perilaku Menjadikan Pemuda Bertindak Suka-Suka
Maraknya mabuk kecubung ini nyatanya menunjukkan bahwa rendahnya ketahanan mental pada pemuda, mereka tidak siap dan tidak mampu dalam menyelesai permasalahan hidupnya sehingga lebih memilih mabuk dengan mengoplos kecubung dan alkohol serta obat-obatan tanpa berpikir akibat dari perbuatannya itu dapat merusak diri, menyebabkan gangguan mental bahkan kematian.
Sebenarnya wajar jika saat ini anak-anak bangsa mengalami krisis jati diri dan akhlak mulia. Tentunya kesemua ini tidak muncul secara tiba-tiba, semua kerusakan ini terjadi tidak lain karena negara hari ini menerapkan sistem kapitalisme yang berakidah sekularisme -pemisahan agama dari kehidupan- sehingga generasi muda pun sedari dini tidak dikenalkan dengan agama dan seperti apa profil pemuda sejati itu.
Disisi lain sistem kapitalisme juga melahirkan liberalisme yaitu paham kebebasan. Sehingga para pemuda pun dengan leluasa untuk berbuat, berbicara dan berprilaku sesuai dengan yang dikehendakinya tanpa memperdulikan lagi norma-norma masyarakat apalagi norma agama.
Bahkan masyarakat hari ini pun enggan dan terkesan cuek apalagi peduli terkait kejadian-kejadian yang berada disekitarnya, beginilah hasil dari penerapan sistem kapitalisme yang membuat masyarakat menjadi sosok individualis yang hanya mementingkan diri sendiri.
Tidak hanya itu rusaknya generasi hari ini pun tidak lepas dari gagalnya sistem pendidikan hari ini, dimana sistem pendidikan yang sekuler ini tidak mampu mencetak generasi yang bersyaksyiah (berkepribadian) islam justru mencetak generasi-generasi yang miskin akhlak dan berperilaku serba bebas.
Pendidikan Islam Mampu Mencetak Generasi yang Berkualitas
Tentu saja islam bukan hanya sekadar agama, namun Islam juga merupakan ideologi atau pandangan hidup beserta aturan-aturan yang dapat menyelesaikan semua problematika dalam kehidupan. Termasuk masalah generasi islam sangat memperhatikan terkait tumbuh kembang generasi.
Islam menaruh perhatian yang tinggi terhadap generasi, karena generasi muda merupakan aset suatu peradaban dan merupakan calon-calon pemimpin di masa mendatang.
Orang tua di dalam islam misalnya, memiliki peran penting dalam membentuk dan mendidik anak-anak menjadi anak yang sholih dan sholiha. Anak-anak akan ditanamkan aqidah islamiyah sejak dini dari orang tuanya, karena ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Maka penting bagi seorang ibu untuk memiliki ilmu islam guna menuntun tumbuh kembang dan perilakunya anaknya sesuai islam dari rumah.
Masyarakat pun di dalam islam juga mempunyai peran yang tak kalah penting, yaitu sebagai pengontrol di dalam masyarakat.
Mereka tidak segan dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi negara di dalam islam, tentu saja memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan generasi muda ini tumbuh menjadi generasi yang berkualitas, bermental sehat, serta berkepribadian islam.
Maka di dunia pendidikan, negara akan menerapkan sistem pendidikan islam berbasis akidah islamiyah. Anak-anak akan terbiasa menjalani kehidupan sesuai dengan syariat islam.
Dengan terbentuknya syaksiyah (kepribadian) islam di dalam diri anak-anak maka anak-anak akan dengan mudahnya memilah dan memilih mana aktivitas yang membawa keharaman mana yang membawa kebaikan.
Negarapun akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan dan melindungi generasi muda, seperti dengan menutup situs-situs yang merusak mental dan akal generasi.
Negara juga akan menjamin kebutuhan pokok rakyatnya baik secara langsung maupun tidak langsung seperti memberikan kemudahan bagi ayah dalam mengakses pekerjaan (mencari nafkah) dan kemudahan dalam harga.
Dengan begitu harapannya generasi saat ini tidak akan mudah terjerumus bahkan ikut-ikutan tren yang sedang viral sehingga bebas melakukan apapun sesuai dengan kemauannya sendiri.
Oleh karena itu agar semua ini bisa berjalan sebagaimana seharusnya maka butuh penerapan islam secara kaffah atau totalitas.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara kaffah (menyeluruh/totalitas)". (Q.S. Al Baqarah : 208) Wallahu'alam Bishowwab