Dididik untuk Menjadi Buruh Industri, Pergeseran Makna Pendidikan

Sabtu 15 Juni 2024

Oleh: Ns. Rizqa Fadlilah, S.Kep

Deputi Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Alimuddin menyampaikan metode pendidikan di Ibu Kota Nusantara (IKN) harus selaras dengan daerah mitra.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di IKN dengan daerah mitra. Menurutnya, pendidikan di IKN lebih berpihak kepada kebutuhan siswa, atau mengikuti apa yang menjadi kebutuhan siswa.

Kedepannya, pihak OIKN akan lebih memperbanyak sekolah di bidang vokasi atau kejuruan, dengan tujuan mencetak SDM siap kerja. Karena pendidikan vokasi terkoneksi dengan kebutuhan-kebutuhan industri dan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar, mengingat rencana pembangunan IKN hingga 2045 (kaltim.antaranews.com, 23/05/2024).

Adapun yang menjadi tantangan adalah peningkatan SDM sebagai tenaga pendidik, sambung Alimuddin. Ia menegaskan bahwa harus mendahulukan warga lokal untuk bersaing dengan melakukan akselerasi peningkatan mutu pendidikan di IKN, termasuk tenaga pendidik (kaltim.antaranews.com, 23/05/2024).

Alimuddin juga menyampaikan bahwa kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur telah dilaksanakan sejak tahun 2023 (kaltim.antaranews.com, 18/05/2024).

Alimuddin menyatakan Otorita IKN sedang menyusun peta jalan pendidikan di IKN, yang kedepannya diharapkan dapat menjadi panduan untuk perbaikan dan penyempurnaan kebijakan pendidikan yang telah ada.

Ia menegaskan pentingnya mengubah pola pikir ekosistem pendidikan, mulai dari kepala sekolah hingga guru. Ia juga menekankan dalam rangka meningkatkan kapasitas sektor pendidikan, penting untuk mengadopsi praktik terbaik dari sekolah-sekolah swasta yang telah menunjukkan hasil yang baik.

Menurutnya, saat ini IKN memiliki kesempatan untuk mengimplementasikan ‘Merdeka Belajar” secara utuh, mengingat jumlah sekolah yng masih terbatas dan jumlah penduduk yng lebih kecil dibandingkan dengan Jakarta (kaltim.antaranews.com, 18/05/2024).

Pendidikan untuk Kepentingan Pasar Pasalnya Pendidikan vokasi atau kejuruan digencarkan karena digadang-gadang akan menjadi support dunia industri, serta mencetak lulusan siap kerja sesuai kebutuhan pasar.

Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesempatan kerja dan menjunjung perekonomian. Terlebih di wilayah IKN yang sedang dalam proses pembangunan besar-besaran hingga 2045. Memiliki tenaga terampil merupakan suatu kebutuhan.

Hal ini pun akan menjadi kesempatan besar bagi warga lokal untuk meningkatkan perekonomian dan taraf hidup mereka. Namun jika kita mau melihat sedikit lebih dalam, dibalik tujuan-tujuan indah tersebut diatas terdapat makna pahit yang terselubung.

Pendidikan vokasi yang digadang-gadang akan menghasilkan lulusan siap kerja, sejatinya menjadi mesin produksi buruh industri. Terlebih jika pendidikan vokasi hanya dicukupkan sampai jenjang Sekolah Menengah atau SMK, maka perusahaan bisa memperkerjakan tenaga mereka dengan upah yang murah.

Secara ringkas bisa dikatakan maknanya adalah menghasilkan tenaga buruh industri dengan upah murah. Alih-alih membawa keuntungann bagi warga lokal, sejatinya keuntungan terbesar justru dirasakan oleh para kapital industri.

Hal demikian menunjukkan bahwa negara tidak memiliki visi Pendidikan mandiri, karena visi Pendidikan diarahkan untuk kepentingan pasar dan korporasi. Semakin terlihat apik karena disahkan oleh sistem demokrasi bawaan kapitalisme. Dimana tujuan dari segala hal adalah keuntungan atau materi.

Hajat hidup rakyat pun dikomersilkan, termasuk pendidikan. Biaya pendidikan mahal, tujuan pendidikan pun diarahkan untuk mencari cuan. Guru hingga siswa dibentuk untuk memiliki pola pikir yang sama, yaitu pemikiran kapitalistik.

Guru mendidik tidak lagi fokus untuk membentuk kepribadian siswa namun mencetak buruh industri. Begitu pula siswa, belajar tidak dengan tujuan menimba ilmu agar dapat bermanfaat bagi umat, melainkan agar bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Menjadi buruh industri seolah menjadi cita-cita tertinggi yang diinginkan setiap siswa.

Menjadi suatu kebanggaan bagi mereka jika berhasil masuk dan bekerja di Perusahaan besar. Sungguh miris, makna pendidikan telah bergeser sedemikian jauh.

Makna Pendidikan dalam Islam

Berbeda dengan sistem Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh negara. Dalam sistem Islam, negara wajib menjamin kebutuhan pokok warganya yang meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, serta keamanan.

Seluruh warga dari semua kalangan berhak mendapatkannya dengan harga murah atau bahkan gratis. Terlebih pendidikan, negara wajib memastikan setiap warga mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Hal ini karena penguasa dalam sistem Islam sadar bahwa dirinya adalah pengurus rakyat dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Rasulullah saw bersabda: “Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR.Al-Bukhari dan Ahmad)

Disisi lain Allah juga mewajibkan setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu. Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)

Islam pun memiliki tujuan pendidikan yang khas, yaitu membentuk generasi berkepribadian Islam dan mahir dalam bidang sains dan teknologi. Dengan sistem pendidikan demikian, tidak akan ada ketimpangan pendidikan atau ketimpangan SDM di seluruh wilayah negara.

Semua warga negara mendapat hak dan kesempatan mengenyam pendidikan yang sama. Sistem pendidikan Islam pun telah terbukti berhasil melahirkan generasi emas yang bermanfaat bagi umat.

Tidak sekedar menjadi buruh industri, namun menjadi pendiri dan pembangun perindustrian. Sebagai contoh, Al-Khawarizmi seorang ilmuan muslim yang dikenal masyarakat berkat temuan hebatnya, yaitu ilmu algoritma. Dimana algoritma ini berperan penting sebagai pembuka gerbang teknologi terutama dalam bidang komputer.

Kemudian, Al-jazari seorang ilmuan muslim yang menciptakan konsep dasar robot pertama kali, beliau juga dikenal sebagai bapak robot. Lalu ada Ibu Firnas, seorang ilmuan muslim yang ahli pada bidang aerodinamika dan merupakan konseptor pesawat terbang pertama, dan masih banyak lagi ilmuan muslim lainnya.

Tentu semangat mereka untuk menjadi seorang ilmuan tidak hanya sekedar agar terkenal dan mendapatkan banyak uang, namun agar dapat bermanfaat bagi umat dan mempermudah umat untuk menjalankan kewajiban serta memenuhi kebutuhan hidup. Wallahu a’lam………………….