Diawal penghujung akhir menyambut tahun baru, media social digemparkan perihal wabah penyakit yang menyerang pernapasan.

Virus Corona atau biasa diikenal juga dengan Novel Coronavirus (2019 -nCoV) adalah virus baru penyebab sakit pernafasan, satu keluarga dengan virus penyebab SARS dan MERS.
Menurut penuturan WHO menyatakan bahwa 29 negara telah menjangkau virus ini bahhkan hingga saat ini korban pun masih terus bertambah. Wabah ini masih menjadi keresahan dunia.
Di luar China, angka kematian dan kasus orang terinfeksi virus corona juga terus bertambah. Data pada hari Minggu 23/2/2020 juga terus merangkak naik. Melansir SCMP, hingga Minggu pagi ini, total kasus orang terinfeksi virus corona Covid-19 tercatat 78.583 kasus. Sementara, angka kematian akibat virus corona mencapai 2.364 jiwa di seluruh dunia.
Adapun, data hingga Sabtu 22/2/2020 jumlah pasien sembuh sebanyak 20.863. Di Hubei, China, provinsi yang menjadi pusat penyebaran virus corona, tercatat ada 64.084 kasus terinfeksi dan 2.346 kematian sejak Desember 2019. Semakin hari semakin banyak korban yang berjatuhan.
Sebagai seorang muslim yang taat, sudah sepatutnya kita mengetahui bahwa Al-Qur'an dan As-sunnah yang Allah turunkan kepada manusia merupakan petunjuk dari-Nya dan kita wajib untuk mematuhi segala perintah dan larangan-Nya. Sehingga, apa yang Allah katakan haram, akan tetap haram, walaupun zaman kian berubah tetapi segala isi yang ada didalam Al-Qur'an selalu mengikuti perkembangan zaman, bahkan akan tetap sesuai dengan perkembangan zaman.
Sama halnya terkait dengan memakan-makanan yang halal, Allah mengatur dengan sangat jelas.
Allah menciptakan sesuatu sesuai dengan kadarnya, Sama halnya dengan segala perintah yang Allah berikan kepada manusia melalui Alquran itu merupakan kebaikan yang diberikan kepada manusia itu sendiri. Tetapi ada beberapa manusia yang justru tidak menerima apa yang Allah sampaikan sama halnya terkait dengan makanan-makanan yang tidak boleh dikonsumsi, Allah memerintahkan bahwa segala hal yang akan mengakibatkan kemudharatan yang lebih banyak, maka tinggalkanlah, mengkonsumsi makanan-makanan haram seperti babi, anjing juga kekelawar mudharat yg didapatkan lebih banyak ketimbang manfaatnya.
Jika mengingat sebuah kejadian pada masa kekhilafahan Umar, pada masa itu terjadi sebuah wabah tho'un, wabah yang sangat mematikan terjadi diAmwas, Palestina. Banyak kaum muslim yang meninggal.
Bahkan gubernur mulia Palestina Abu Ubaidah Bin Al jarrah juga meninggal dunia akibat wabah itu. Namun Khalifah Umar memanggil Amr Bin Al Ash RA. Ia bukan seorang dokter tetapi beliau dikenal dengan ketaatannya kepada Allah, beliau sangat cerdas, jika ditanya tingkat kecerdasan pada masa kejayaan Islam dengan sistem kapitalis jelas jauh berbeda.
Amr bin Al Ash mengatakan hal yang perlu dilakukan yaitu melakukan karantina bahwa yang di luar tidak boleh masuk ke Amwas dan yang dari dalam tidak boleh keluar dari Amwas.
Dan yang kedua penyakit ini luar biasa menularnya ketika orang berkumpul maka mereka memisahkan diri sehingga banyak orang yang mengasingkan diri ke lembah ke goa dan ke tempat-tempat terpencil lainnya.
dalam waktu beberapa hari saja masalah tersebut selesai Jika sahabatnya saja super-super kehebatannya. Lantas bagaimana Rasulullah? Pemimpin mereka semua, pengajar mereka, mentor mereka, sumber ilmu mereka semua? sungguh dalam nan panjang memandang penuh visi kedepan.
Sebab Beliau mengucap dihari dimana Beliau jauh dari yang namanya wabah "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi di suatu tempat dimana kalian berada, maka janganlah meninggalkan tempat itu" (HR. Bukhari) maka dari itu Islam mengatur mengenai kesehatan itu sendiri yakni masing-masing dari kita diwajibkan untuk mengatur pola hidup sehat.
Sehingga lingkungan bersih karena kebersihan akan mengurangi segala bakteri yang masuk dampaknya juga positif, akal sehat, tubuh sehat, dan jiwa sehat. Pelayanan Kesehatan Dalam Islam seperti yang kita tahu bahwa sistem sekuler- liberalis menganggap bahwa segala penyakit itu sebagai ladang manfaat (berbayar) padahal dalam Islam pelayanan kesehatan itu gratis ditanggung oleh negara. Sehingga masyarakat fokus beristirahat yang total sehingga penyakit dapat sembuh, tidak memikirkan hal-hal lainnya termasuk dengan biaya kesehatan itu sendiri.
Harus ada institusi negara yang mengatur terkait hal ini, karna jika dilakukan oleh individu-individu hasil yg didapatkan tidak maksimal. Jadi sangat-sangat diperlukan dukungan negara terkait wabah Corona yang menghantui masyarakat hingga saat ini. Dengan solusi yang benar maka hasil yang didapatkan akan memuaskan.
Wallahu a'lam bish-shawab
Penulis: Siti Aisyah-Aktivis muslimah Remaja, Kalimantan Timur