Senin 4 Maret 2024
Oleh : Hasriana Akhmad, S.H.
Kemiskinan ekstrem adalah salah satu tantangan yang mengancam masa depan generasi di berbagai negara. Jumlah anak di seluruh dunia yang tak memiliki akses perlindungan sosial apa pun mencapai setidaknya 1,4 miliar.
Ini merupakan anak di bawah usia 16 tahun berdasarkan data dari lembaga PBB dan badan amal Inggris Save the Children.
Tak adanya akses perlinsos ini membuat anak-anak lebih rentan penyakit, gizi buruk dan terpapar kemiskinan.
"Secara global, terdapat 333 juta anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, berjuang untuk bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari 2,15 dolar AS (Rp33.565) per hari, dan hampir satu miliar anak hidup dalam kemiskinan multidimensi,” kata Direktur Global Kebijakan Sosial dan Perlindungan Sosial UNICEF, Natalia Winder Rossi, dikutip dari Antara, Kamis (15/2).
Bukti bahwa dunia, terutama anak-anak, sedang tidak baik-baik saja dalam dekapan kapitalisme.
Kemiskinan ekstrem menjadi problem dunia saat ini
Kemiskinan ekstrem sering kali berdampak pada kesehatan fisik dan mental generasi muda. Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, gizi yang buruk, dan lingkungan yang tidak sehat meningkatkan risiko penyakit dan kematian prematur.
Anak-anak yang lahir dalam kemiskinan ekstrem juga rentan terhadap stunting dan gangguan perkembangan, yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk berkembang secara optimal.
Belum lagi disebabkan kurangnya akses pendidikan yang layak. Banyak anak dari keluarga miskin terpaksa putus sekolah atau tidak mendapat pendidikan yang memadai, sehingga mengurangi peluang mereka untuk membangun masa depan yang cerah.
Kemiskinan ekstrem dapat menjadi siklus yang sulit diputus. Anak-anak yang lahir dalam keluarga miskin cenderung mengalami kesulitan yang sama atau lebih parah di kemudian hari. Faktor-faktor seperti terbatasnya akses pendidikan dan peluang ekonomi memperpanjang siklus kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Keterbatasan Akses Terhadap Peluang Ekonomi
Kemiskinan ekstrem membatasi akses generasi muda terhadap peluang ekonomi yang dapat membantu mereka keluar dari kemiskinan. Kurangnya pekerjaan yang layak, peluang pendidikan dan pelatihan keterampilan, serta akses terhadap modal menjadi hambatan utama bagi mereka yang ingin membangun masa depan yang lebih baik.
Anak-anak dan remaja yang hidup dalam kemiskinan ekstrem juga rentan mengalami keterpinggiran sosial dan emosional. Perasaan rendah diri, dan kurangnya dukungan sosial dapat menghambat perkembangan mereka dan mengganggu kemampuan untuk mencapai potensi mereka.
Sistem ekonomi kapitalis tidak akan membuat generasi sejahtera
Kemiskinan ekstrem menjadi problem dunia, menandakan adanya persoalan sistemik yang dihadapi dunia. Sumbernya adalah penerapan sistem kapitalis. Akibatnya anak akan mengalami banyak problem kehidupan yang akan berpengaruh pada Nasib dunia pada masa yang akan datang.
Di sisi lain, perlindungan sosial negara hari ini ibarat tambal sulam system ekonomi kapitalis, yang tak akan membuat generasi Sejahtera. Sistem ini memberi kebebasan dalam kegiatan ekonomi sehingga pengusaha dapat menguasai hajat hidup rakyat termasuk menguasai sumber daya Alam.
Kondisi ini merupakan konsekuensi dari reinventing goveerment, di mana negara hanya berperan sebagai regulator. Perusahaan jelas akan mengambil untung, sementara rakyat akan hidup miskin. Kondisi ini menjadi ancaman terhadap keselamatan generasi, dan masa depan bangsa.
Islam memiliki solusi sistemis dalam mengatasi kemiskinan ekstrem
Islam mewajibkan negara mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai mekanisme yang sudah ditetapkan dalam sistem Islam. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga, yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara.
Pembagian ini sangat penting agar tidak terjadi dominasi ekonomi, yakni hegemoni pihak yang kuat menindas yang lemah. Penguasaan sektor kepemilikan umum yang tidak semestinya dimiliki perindividu atau perusahaan swasta.
Misalnya, penguasaan individu atau swasta atas barang tambang, gas, minyak bumi, kehutanan, sumber daya air, jalan umum, pelabuhan, bandara, dan sebagainya yang menjadikan ekonomi mereka kuat, meluas, hingga mendominasi kekayaan.
Negara (Khilafah) wajib memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dalam hal kebutuhan sandang, pangan, dan papan, negara harus memberi kemudahan masyarakat untuk mendapatkannya.
Semisal harga terjangkau, kemudahan bekerja untuk memenuhi kebutuhan, serta kemudahan mengakses kebutuhan tersebut. Adapun dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, negara harus memenuhinya secara gratis tanpa dipungut biaya.
Tidak boleh ada komersialisasi dan kapitalisasi dalam tiga kebutuhan ini. Layanan pendidikan dan kesehatan harus diberikan kepada rakyat secara cuma-cuma. Jaminan keamanan setiap warga juga menjadi tanggung jawab negara sebagai pemelihara urusan rakyat. Melalui penerapan sistem Islam secara kaffah, kemiskinan dapat dicegah dan diatasi.