Jumat 14 APRIL 2023
Oleh: Jariyati
Di tengah ragam kerusakan yang menghantam negeri ini, ternyata negara tidak mampu menghentikan permasalahan yang ada, justru yang ada malah semakin ruwet.
Hal ini terlihat pada konser BlackPink yang banyak digandrungi oleh generasi muda beberapa waktu lalu.BlackPink memiliki penggemar yang cukup banyak di tanah air yang di sebut dengan 'Blink'.
Berbagai kalangan menyukai K-pop hanya sekadar mengisi hiburan atau menjadi fans fanatik. Sebagaimana dilansir dari www.cnbcindonesia.com( minggu, 12/3/2023)
Bahwasanya Blackpink menggelar konser bertajuk 'WORLD TOUR [BORN PINK]' di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Konser dibagi menjadi 2 hari, yakni 11-12 Maret 2023.
Miris. Ternyata generasi kita lebih mencintai K-pop, sehingga mereka rela mengeluarkan berapapun uang hanya untuk menyaksikan artis idola mereka bernyanyi dan membeli aksesoris BlackPink.
Tak ayal sifat hedonisme dan konsumtif telah menjadi life style generasi muda hari ini. Di tengah karut marut masalah negeri dan ditambah semakin merajalelanya potret buram generasi, negara justru memfasilitasi konser tersebut.
Sehingga tidak bisa dimungkiri demam K-pop masih terus menjangkiti generasi muda khususnya di negeri ini. Tentu saja bagi para pengusaha yang bergerak di bidang musik hal ini justru membawa angin segar.
Mereka pun tanpa ragu-ragu menjual ribuan tiket dengan harga fantastis. Di dalam sistem sekularis-kapitalisme tentu saja demam K-pop merupakan sesuatu yang lazim.
Betapa tidak, sudah menjadi habitatnya, sistem kufur tersebut menjadikan keuntungan materi dunia adalah diatas segala-galanya. Tidak heran jika generasi muda terlena dengan alunan musik yang tentu saja menjauhkannya dari mengingat agama.
Disamping itu, sungguh berbanding terbalik sikap penguasa terhadap pelaku kebaikan yang ditampilkan para pemuda seperti kegiatan membaca Al -Qur'an di sepanjang Malioboro dan kegiatan rohis di sekolah-sekolah.
Penguasa justru memberi citra negatif dengan cap ‘teroris’ yang di sematkan pada aktivis rohis. Tidak hanya itu, di tengah kemiskinan ekstrem yang melanda sebagain besar masyarakat negeri ini, namun sangat mudah mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk hiburan.
Negara Kosong Visi Terhadap Generasi
Terkait visi terhadap generasi justru negeri ini tampak acuh tak acuh terhadap nasib generasi muda di masa depan. Nampak sekali akibat dari diterapkannya sekularisme dan kapitalisme di negeri ini, dimana mereka menjadikan sumber kebahagian atas kenikmatan jasadiyah dan terpenuhinya segunung materi.
Sehingga wajar lahirlah generasi yang pemalas, individualistik, tempramental, gaya hidup yang konsumtif dan tentu saja jauh dari pemahaman agama.
Dengan diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme ini semakin membuat para pemilik modal dan pengusaha berpeluang meraup keuntungan sebesar-besarnya dari bisnis hiburan ini. Sementara penguasa hanya ikut mengaamiinkan para penguasa tersebut dan tanpa ada perasaan bersalah terhadap nasib generasi mudanya yang berada di ujung tanduk.
Islam dan Visi yang Jelas Terhadap Generasi
Tentu saja lain sekularisme kapitalisme lain pula dengan islam. Islam adalah sebagai ideologi, memiliki visi yang jelas atas generasi sebagai pembangun peradaban yang mulia. Islam mewajibkan negara menerapkan syariat secara kaffah dalam semua bidang kehidupan.
Sehingga kepribadian Islam (syahsiyah Islamiyah) pun akan terwujud dalam negara. Tentu saja munculnya generasi berkepribadian Islam tidak semerta-merta muncul dengam sendirinya, harus melalui proses pendidikan terlebih dahulu. Tentu saja pendidikan yang dimaksud adalah dengan pendidikan Islam.
Pendidikan Islam bertujuan mencetak generasi yang bertakwa bukan hanya banyak menguasai ilmu dan pintar berteori. Namun, pengetahuan yang membangun pemahaman yang dimilikinya yang tercermin dalam prilakunya.
Di dalam Islam keimanan adalah asas perbuatannya. Dalam kitab Usus Al Ta'lim Al Manhaji disebutkan tujuan pendidikan mencakup beberapa hal, diantaranya: 1. Membentuk kepribadian Islam bagi peserta didik 2. Membekali peserta didik dengan ilmu keIslaman ( tsaqafah Islamiyyah ) 3. Membekali peserta didik dengan ilmu-ilmu kehidupan seperti sains dan teknologi.
Sehingga dari sini didapati bahwasanya fungsi strategis pendidikan tak hanya mentransfer berbagai pengetahuan seperti sains dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Bahkan lebih dari itu, pendidikan adalah alat pembentuk peradaban dan pandangan hidup suatu bangsa atau umat. Begitu juga dalam bingkai keluarga, negara akan menyiapkan para orang tua dan kaum muslim untuk menjauhkan pemuda dari ideologi sesat, rusak dan merusak yaitu sekularisme dan kapitalisme.
Sekaligus mencetak mereka agar cerdas dan bermental pejuang. Karena sejatinya orang tua memiliki kewajiban atas pendidikan anak dalam keluarga mereka.
Menanamkan akidah Islam yang kokoh, sehingga generasi muda kita hari ini memahami bahwa seluruh amal perbuatannya dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Para orang tua juga harus membimbing para pemuda untuk membangun kebiasaan Islami sejak awal, menaati Allah SWT.
dan meninggalkan maksiat serta para pemuda didorong untuk melakukan berbagai kebaikan, berbakti kepada orang tua, rajin menuntut ilmu, inilah pemuda yang dicintai Allah SWT.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, "Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungannya pemuda yang tumbuh dalam ibadah pada Allah SWT ( HR. Al-Bukhari ).
Selain itu pemuda juga didorong memiliki kepedulian terhadap kondisi umat serta menjadikan mereka pengemban dakwah yang akan memperjuangkan tegaknya agama Allah SWT. bukan pemuda yang tempramental, mudah emosi, egois hanya memikirkan amalan pribadi dan tidak peduli pada nasib masyarakat dan umat.
Oleh karena itu, sudah seharusnya keluarga terutama negara menjadikan pemuda berkepribadian Islam pembangun peradaban mulia nan cemerlang. Wallahu'alam bi ash -shawab wa ahkam