Rawan Stunting di Negeri Kaya SDAE

Annisa Putriawantiko

Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan wilayah dengan prevalensi balita stunting tertinggi di Kalimantan Timur pada 2022, yakni mencapai 27,1%.

Berikutnya, Kota Samarinda menempati peringkat kedua wilayah dengan prevalensi balita stunting terbesar di Kalimantan Timur yaitu 25,3%. (databoks.katadata.co.id)

Selanjutnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Balikpapan mencatat sekiranya ada 700an ibu hamil di Kota Balikpapan berisiko melahirkan anak stunting. untuk menekan jumlah kasus stunting, pihaknya telah mencanangkan program satu telur satu hari hari bagi ibu hamil.

Program ini juga menyasar anak-anak yang mengalami stunting. Tercatat berkisar 1.436 balita di Kota Balikpapan mengalami stunting. (Balikpapan.prokal.co)

Kemudian, adapun upaya yang dilakukan terkait hal itu yakni Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Balikpapan meluncurkan program Kader Bergerak Melawan Stunting (Karamunting), dalam rangka mendukung percepatan penurunan angka stunting.

Di bawah program Karamunting ini juga terdapat Pokja 1 dengan tagline parenting, lalu Pokja 2 dengan vouche PKK, Pokja 3 dengan gertak yang sudah dilakukan penilaian di setiap wilayah Kota Balikpapan.Kemudian Pokja 4 dengan tagline 101, yang berarti Satu hari satu telur yang dikonsumsi balita terdampak stunting.(Kaltim.tribnunnews.com)

Butuh Penanganan Serius!

Melihat fakta diatas, fenomena stunting tidak boleh dianggap remeh sebab amatlah berbahaya bagi generasi. Bukan hanya terganggunya tumbuh kembang pada fisik melainkan berpotensi juga mempengaruhi kinerja otak anak.

Perkara stunting ini pun bukan lagi masalah individu per individu atau keluarga per keluarga, sebab yang terkena stunting juga bukan dua atau tiga anak saja akan tetapi hampir dipenjuru wilayah tanah air ada kasus stunting.

Dengan begitu, ada factor yang mengkondisikan banyak anak-anak akhirnya terkena stunting. Selanjutnya jika kita lihat, terlepas dari pemberian makan yang kurang atau pola asuh yang salah bukan pure kesalahan orang tua.

Tak bisa dipungkiri stunting erat kaitannya dengan masalah ekonomi bahkan bisa dikatakan factor terbesar munculnya stunting ialah karena ekonomi. Bagaimana tidak, realita hari ini bahan pangan mahal, lapangan pekerjaan terbatas belum lagi yang terkena PHK.

Sedangkan seorang ayah punya tanggungan anak istri yang harus dinafkahi, maka dengan terpaksa memberi makan anak dengan makanan seadanya yang bahkan tak sehat.

Boro-boro mikirin gizi, sehari ada yang bisa dimakan saja sudah sangat cukup bagi mereka. Dengan begitu, wajar banyak anak yang terganggu pertumbuhan dan perkembangannya, bahkan mengalami gizi buruk dan akhirnya lagi-lagi kasus stunting tak pernah berhenti bahkan terus merangkak naik.

Ironinya hal itu terjadi ditengah suburnya sumber daya Alam di tanah air. Betapa kaya negeri ini, di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) saja banyaknya perkebunan sawit, tambang batu bara, minyak dsb yang jika dikelola dengan baik hasilnya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga kaltim.

Namun sayangnya, saat ini nampak kekayaan bumi pertiwi belum banyak dirasakan hasilnya oleh anak-anak negeri, sebaliknya justru hari ini dikuasai oleh asing dan pemilik modal yang sedang asyik menikmatinya.

Maka, jika begitu kondisi warga pun tak ada perubahan, masih sulit mencari kerja, masih belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, dan anak-anak tidak mendapat asupan gizi maksimal.

Maka, jika benar ingin menekan atau menghapus angka stunting, harus ada penanganan yang serius, stunting persoalan sistemik.

Tentu nampak tidak bisa diselesaikan hanya dengan progam yang tidak menyentuh akar masalah. Tidak cukup imbauan satu telur satu hari, tidak hanya menyasar bumil dan calon pengantin.

Tetapi perlu peran negara dalam hal mengentaskan kemiskinan, memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk bidang kesehatan dan pendidikan.

Islam Solusi Hakiki 

Dalam paradigma Islam, negara adalah khodim al ummah. Yakni pelayannya umat, mengurusi kepentingan dan kemaslahatan umat. Negara bertugas memberi jaminan dan pelayanan.

Menjamin penghidupan, kesejahteraan, keamanan, serta kebutuhan dasar rakyat. Dalam Islam, negara akan menjalankan roda perekonomian sesuai dengan syariah Islam. Mengelola kekayaan alam yang telah Allah berikan untuk rakyat.

Kekayaan alam tersebut harus dikelola mandiri oleh negara, tidak dimiliki oleh segelintir individu atau negara asing. Hasilnya sepenuhnya dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dan sisanya menjadi salah satu pos pemasukan keuangan negara untuk membiayai sejumlah layanan yang dibutuhkan rakyat. Penguasaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh negara tersebut menjadikan perekonomian negara akan stabil dan rentan terkena resesi, sebab tidak lagi bergantung dengan negara asing.

Sehingga negara mampu memenuhi segala kebutuhan pokok warga negaranya, termasuk pekerjaan akan dijamin penuh oleh negara. Alhasil, para suami atau ayah bisa dengan mudah menjalani kewajibannya dalam mencari nafkah.

Dengan begitu, warga negara bisa hidup dengan tenang tanpa rasa takut dan khawatir sebab seluruh kebutuhan pokoknya sudah dipenuhi negara.

Anak-anak dapat tumbuh dengan sehat dan kuat serta mendapat pendidikan dengan kualitas terbaik. Maka, lahirlah generasi emas yang cerdas dan bertakwa kepada Allah membawa manfaat bagi orang lain.

Demikianlah, sedikit gambaran jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan, niscaya keberakahan dan kedamaian akan datang bagi umat manusia. Wallahu’alam bisshawab.