Biang Masalah Meningkatnya Kasus TBC

Rabu 5 APRIL 2023

Oleh : Mentari Fitriana, S.Pd.I

Pengajar TK dan Pemerhati Generasi

Diketahui bahwa Kasus Tuberkulosis (TB) anak di Kota Bontang meningkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang menyebutkan di 2021 ada 81 kasus, 2022 meningkat menjadi 237 kasus.

Mentari Fitriana

Artinya dari 2021 ke 2022 naiknya mencapai tiga kali lipat. Tingginya penemuan kasus TBC anak menunjukkan masih banyaknya sumber penularan TB pada orang dewasa yang belum ditemukan (https://www.niaga.asia).

Adapun Berdasarkan data Global TB Report (GTR) 2022, perkiraan kasus TBC sebanyak 969.000 dengan incidence rate atau temuan kasus sebanyak 354 per 100.000 penduduk.

Sedangkan saat ini Indonesia berada di peringkat dua penderita tuberkulosis (TBC) terbanyak dunia. Kasus TBC di Indonesia mengalami peningkatan signifikan, terutama pada anak-anak.

Angka TBC pada anak melonjak hingga 200%. Dari 42.187 kasus pada 2021, meningkat menjadi 100.726 kasus pada 2022 dan 18.144 kasus pada 2023. Tuberkulosis (TBC) atau TB adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri.

TBC umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.

Adapun faktor penyebab berkembangnya ialah lingkungan dan kemiskinan, dimana tempat tinggal yang kumuh dan sanitasi buruk memperberat kasus TBC pada kelompok masyarakat ekonomi ke bawah.

Daerah dengan kondisi kumuh dan kurang terawat dapat menjadi faktor penyebaran TBC, terutama jika masyarakat cenderung abai  terhadap gejala TBC yang dialaminya. TBC juga rentan menyerang anak-anak dengan kondisi gizi yang  buruk.

Terbatasnya akses dan sarana kesehatan bagi masyarakat miskin serta rendahnya pendidikan dan pemahaman masyarakat terkait TBC menjadikan penularan TBC tidak dapat dicegah atau terlambat ditangani.

Sudah  banyak di temukan masalah warga miskin yang kesulitan mengakses layanan kesehatan secara optimal. Kalaulah dapat layanan, itu pun ala kadarnya, dengan minimnya edukasi terhadap masyarakat.

Oleh sebab itu perlu andil negara untuk menjalankan fungsinya dalam memenuhi layanan pendidikan dan kesehatan merata untuk seluruh warga negaranya.

Saat ini sistem kapitalisme masih menjadi biang masalah atas meningkatnya kasus penularan TBC, dimana sistem ini meniscayakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat dikapitalisasi dan dikomersialisasi dalam setiap kebijakan negara.

Masyarakat miskin lebih kesulitan menerapkan pola dan gaya hidup sehat ketimbang masyarakat menengah ke atas.

Perbedaan kondisi ekonomi inilah yang membuat kelompok sosial ekonomi rendah lebih rentan dan riskan terhadap penyakit menular seperti TBC, inilah jurang ekonomi yang lebar anatar masyarakat miskin bawah dan menengah atas yang hadir ditengah penerapan sistem kapitalisme hari ini.

Dalam sistem Islam berbeda jauh dengan sistem sekuler kapitalisme. Dalam pandangan Islam, kesehatan adalah kebutuhan pokok setiap individu yang menjadi kewajiban syar’i bagi negara untuk memenuhinya, tanpa memandang apakah mereka kaya atau miskin.

Oleh karenanya, negara wajib mengupayakan semua cara agar hak rakyat tersebut bisa dipenuhi sebaik-baiknya dan diakses dengan semudah-mudahnya.

Bahkan jika perlu, semua layanan bebas biaya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah – olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari).

Semua ini adalah niscaya karena Islam memiliki mekanisme jaminan kesehatan dari hulu hingga hilirnya.

Prinsip-prinsip penjagaan kesehatan pun diatur sedemikian rupa sebagai bagian dari hukum syara’, mulai yang mengikat individu, masyarakat, hingga negara; Mulai dari aspek yang bersifat preventif (pencegahan penyakit), kuratif (penyembuhan penyakit), rehabilitatif (pemulihan kesehatan), dan promotif (peningkatan kesehatan). Rasulullah bersabda, “Pemimpin itu laksana gembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban akan gembalaannya (rakyatnya).” (HR Imam Bukhari dan Ahmad).

Dalam sejarah peradaban Islam, tercatat keagungan sistem layanan kesehatan. Sejak masa Rasulullah hingga era khalifah sesudahnya, negara Islam membangun konsep layanan kesehatan terbaik bagi semua orang.

Termasuk konsep bimaristan (kerumahsakitan) yang menjadi model bagi kerumahsakitan di era sekarang. Layanan prima diberikan, mulai dari infrastruktur, layanan medis, hingga pemulihan.

Bahkan, pada era kejayaan Khilafah, rakyat sehat pun berbondong-bondong ingin coba merasakan kenyamanan fasilitas di bimaristan.

Untuk rakyat yang ada di pelosok, rumah sakit keliling pun disediakan oleh negara, yakni berupa kafilah unta yang membawa dokter dan alkes untuk melayani orang sakit di tempat tinggalnya. Dengan begitu, semua rakyat, miskin atau kaya, bisa mendapatkan haknya dengan sebaik-baiknya, tanpa biaya.

Tidak hanya itu, kehadiran ilmuwan-ilmuwan muslim di bidang kesehatan membuktikan support system negara terhadap urusan jaminan kesehatan.

Lembaga-lembaga riset dan universitas didirikan sejalan dengan optimasi layanan kesehatan. Semua pendanaannya diambil dari kas negara, sama sekali tanpa berhitung soal rugi laba.

Serta harus diketahui bahwa sistem kesehatan dalam islam ditopang dengan sistem ekonomi dan keuangan (APBN) negara Islam yang sangat kuat.

Sumber-sumber pemasukan negara dari kepemilikan umum, seperti hasil pengelolaan sumber daya alam yang jumlahnya luar biasa dan sumber-sumber lainnya.

Akan sangat cukup untuk menutup kebutuhan modal bagi pemberian layanan terbaik bagi seluruh rakyatnya, mulai dari pengadaan faskes, alkes, tenaga kesehatan, obat-obatan, hingga riset dan pengembangan sistem kesehatan.

Oleh karenanya, pencegahan TBC dapat dilakukan dengan menerapkan kembali Sistem Islam dan mimpi keadilan dan kesejahteraan bisa benar-benar diwujudkan serta umat ini bisa kembali meraih kemuliaan. (**)