Rusaknya Fitrah Keibuan dalam Sistim Sekularisme

Jumat, 10 PEBRUARI 2023

Oleh: Hj. Padliyati Siregar,ST

Bikin geger publik terkait kasus pelecehan di Jambi. Wanita pemilik rental PS di Jambi lecehkan 11 anak laki-laki dan perempuan hingga diajak nonton fim dewasa, Minggu (5/2/2023).

Hj. Padliyati Siregar, ST

Pelaku diketahui berinisial YN dan masih berusia 25 yahun. Ibu muda itu membuka rental playstation di kedimannya di kawasan Alam Barajo, Kecematan Alam Barajo, Kota Jambi.

Bikin geger publik, Wanita pemilik rental PS di Jambi lecehkan 11 anak laki-laki dan perempuan dari disuruh nonton live berhubungan intim hingga diajak nonton fim dewasa.

Aksi pencabulan tersebut dilakukan pelaku dengan cara anak-anak dirayu untuk melihat pelaku berhubungan intim dengan suaminya dari sebuah lubang atau celah jendela rumahnya.

Setelah pelaku berhubungan intim dengan suaminya, pelaku menghampiri anak-anak menyuruh memegang payudaranya.

Selain itu, 11 anak-anak disuruh menonton film porno juga oleh wanita yang kini dilaporkan ke polisi oleh keluarga korban.

"Anak saya bersama korban anak lainnya disuruh menonton dewasa dan pelaku juga menyuruh korban mengintip dari luar melalui celah di jendela saat pelaku berhubungan intim dengan suaminya," ujar Ayah dari salah satu korban inisial E yang dilansir dari VIVA.

Diketahui juga, kekerasan seksual terjadi berulang kali, sehingga Ayah dari salah satu korban melapor ke Polda Jambi. Kasus ini benar-benar membuktikan betapa rusaknya sistem kehidupan yang berlandaskan kepada sekulerisme kapitalisme. 

Fitrah keibuan pun menjadi rusak, dan ini adalah bukti nyata bobroknya sistem ini.  Perempuan yang selama ini dianggap sebagai korban, ternyata bisa menjadi pelaku, bahkan dalam perbuatan yang sangat keji. 

Karena itu, tidak sepantaasnya umat berharap kebaikan dalam sistem ini, karena sistem ini merusak kehidupan manusia.

Islam memiliki aturan kehidupan yang sempurna dan menyeluruh, untuk mengatur kehidupan dunia, dan menetapkan adanya pertanggungjawaban di akherat.   

Di mana kah sekarang fitrah ibu yang lembut dan mencurahkan kasih sayang berlimpah pada anak-anak mereka?

Mengapa kini para ibu seolah tercabut fitrah keibuannya? Apa yang menjadi akar permasalahannya dan bagaimana cara untuk meghentikan fenomena ini?

Bagaimana tidak, sekularisme yang memisahkan kehidupan dan agama—telah sukses menghilangkan fitrah keibuan. Keimanan yang memudar dalam dirinya serta ketakwaan yang tak bersemayam pada tingkah lakunya adalah satu faktor terbesar yang menyebabkan sang ibu tega melakukan nya.

Tak Paham Agama Jika sang ibu paham terhadap agamanya yaitu Islam, ia tidak akan melakukan hal demikian.

Sebab dia mengetahui konsekuensi dari perbuatan nya.   Namun sungguh sayang, sekularisme memenjarakan agama hanya pada ruang sempit, yaitu ibadah mahdhah semata. Sehingga, agama tak dijadikan solusi atas permasalahan kehidupan.

Padahal, Allah Swt. telah membekali manusia untuk hidup di dunia berikut seperangkat aturan agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah.   Siapa saja yang memakai aturan Allah Swt. dalam hidupnya, dia akan selamat dan menjadi sebaik-baik manusia. Sebaliknya, jika aturan Allah SWT.

Ditinggalkan, siap-siap celaka dan menjadi manusia error yang tak tahu ke mana harus melangkah. Inilah yang menyebabkan tingginya kriminalitas yaitu saat manusia mencampakkan aturan pencipta.  

Oleh karena itu, tercabutnya fitrah seorang ibu yang harusnya sebagai pelindung anak-anakk dari segala macam bahaya diakibatkan oleh sekularisme yang bercokol terlalu lama.

Paham inilah yang menyebabkan seorang ibu tak paham agama, sehingga mampu melakukan apa saja sesuai dengan hawa nafsu nya. Mengembalikan Kiprah Ibu Sesuai Islam Islam telah menempatkan kaum ibu sesuai dengan kapasitasnya.

Ibu memiliki beberapa peran penting. Pertama, peran sebagai al umm wa rabatul bait, ibu dan pengatur rumah tangga suaminya. Di sini ibu mendapatkan amanah untuk mendidik putra-putrinya di rumah sebagai madrasatul ula, pendidikan awal.  

Kedua sebagai pengatur rumah tangga suaminya, ibu sekaligus berperan sebagai istri diamanahi mengurus rumah.

Kedua peran ini merupakan kewajiban bagi setiap ibu. Di dalamnya terdapat pahala yang luar biasa. Bahkan kualitas generasi muda tergantung pada peran ibu dalam mendidiknya.

Peran selanjutnya adalah kiprah ibu dalam masyarakat. Upaya memperbaiki masyarakat tak sepenuhnya dibebankan pada laki-laki. Perempuan termasuk di dalamnya seorang ibu, memiliki peran yang penting di masyarakat.  

Seorang ibu dibolehkan menjadi pegawai atau pemimpin dalam suatu departemen atau pemerintahan.

Dengan catatan bukan pemimpin yang berada pada wilayah al-hukm/al-amr (seperti Khalifah, muawwin, qadhi qudhat, qadhi mazhalim, dan wali). Jadi, seorang ibu boleh menjadi kepala Baitulmal, anggota Majelis Wilayah, anggota Majelis Umat, qadhi khushumat (hakim yang menyelesaikan perselisihan antar rakyat), qadhi hisbah (hakim yang langsung menyelesaikan pengurangan atas hak-hak rakyat).  

Seorang ibu juga dibolehkan menjabat kepala departemen kesehatan, departemen pendidikan, departemen industri, departemen perdagangan, rektor perguruan tinggi atau kepala sekolah, kepala perusahaan, dan lain lain. 

Ibu memiliki akal sebagaimana laki-laki. Meskipun ia tak dibolehkan menjadi pemimpin negara atau wilayah, ibu tetap memiliki peran penting dalam mengurusi umat.  

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya mengubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim).

Kapitalisme Menggerus Peran Ibu Diakui atau tidak, penerapan kapitalisme telah memusnahkan fitrah seorang ibu. Hasil turunan dari mabda kapitalisme adalah hedonisme, feminisme, dan materialisme berhasil memalingkan para ibu.  

Kapitalisme sendiri memiliki akidah sekularisme, yaitu tak mengakui keberadaan agama di dalam hidup manusia. Agama hanya dipakai sebagai hiasan pemanis manusia. Kalaupun nol agamanya, juga tak mengapa.

Hedonisme adalah pemikiran turunan dari mabda kapitalisme. Pemikiran bahwa hidup hanya untuk bersenang-senang. Pemikiran ini mengutamakan food, fun, dan fashion.

Materialisme adalah pemikiran yang hanya mementingkan materi saja. Segala sesuatu hanya diukur dengan kesenangan duniawi. Hal ini membuat para ibu menjadi materialistis.

Oleh karena itu, kita perlu mengembalikan peran ibu agar ibu dapat menempatkan diri sesuai fitrahnya.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ 

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)  

Peran yang tak kalah penting bagi seorang ibu adalah berdakwah di tengah-tengah umat.

Dengan aktivitas amar makruf nahi mungkar ibu mampu mengubah masyarakat yang awalnya tak paham Islam menjadi paham Islam. Menyadarkan masyarakat yang terpengaruh kapitalisme, sekularisme, hedonisme, materialisme, dan feminisme, menjadi paham pada Islam.  

Itulah peran strategis para ibu. Sehingga seorang ibu tak hanya menjadi istri atau ibu. Tapi juga bermanfaat bagi masyarakat, menghancurkan kapitalisme yang merusak dan membangun peradaban Islam yang berkah Dengan demikian manusia terjaga tetap dalam fitraahnya sebagai manusia yang merupakan sebaik-baik ciptaan.