Sabtu, 19 NOPEMBER 2022
Oleh: Patimatul Jahroh.SEI
Berita tewasnya satu keluarga di perumahan Citra Garden 1 Extension, Kalideres Jakarta Barat menjadi tamparan keras buat Indonesia.
Tiga minggu barulah terdeteksi 4 mayat dengan kondisi mengering, hingga kini penyidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap penyebab kematian mereka.
Beragam asumsi bermunculan mulai dari kelaparan, anti sosial, hingga tak bisa bayar listrik yang nuansanya sama yakni kesulitan ekonomi.
Memang benar bahwa rakyat Indonesia masih belum mampu keluar dari rantai ekonomi yang sulit, angka kemiskinan terus meningkat, pemutusan hubungan kerja juga masih bertambah termasuk ancaman resesi ekonomi yang siap menghantui bangsa ini.
Sehingga rakyat selalu menjadi korbannya. Apalagi sikap individualisme khas masyarakat kapitalisme menambah parah hubungan sosial di masyarakat.
Ketidakpedulian antar tetangga menjadi pemandangan biasa di negri sekuler ini, pun sibuk dengan diri sendiri adalah fokus utama rakyat sekuler dan di Indonesia makin kental terasa.
Akibatnya kehidupan yang sulit di langit kapitalisme semakin sesak karena tak ada yang merangkul lagi, baik itu tetangga apalagi negara, kita harus segera intropeksi bersama demi perbaikan hakiki untuk negri tercinta.
Sejatinya kehadiran pemerintah tak boleh absen dalam mengurus rakyatnya. Mulai dari perhatian hingga kebijakan haruslah berfokus pada kesejahteraan rakyat.
Sebab tujuan utama keberadaan pemerintah adalah mengurus dan mengatur rakyatnya dengan baik dan benar.
Hingga penguasa terbukti mencintai rakyatnya setulus dan semurni seorang ibu mencintai anaknya. Pun rakyat akan membalas cinta penguasa dengan sesadar-sadarnya.
Namun hari ini kita belum bisa menyaksikan pemandangan itu sebab Indonesia masih percaya pada sistem demokrasi kapitalisme yang menyembah kebebasan dan mengejar keuntungan sebesar-besarnya, maka rakyat bukan lagi prioritas demokrasi kapitalisme.
Berbeda dengan sistem Pemerintahan Islam (Khilafah), rakyat adalah prioritas yang harus di selamatkan dengan penerapan aturan pencipta secara total sehingga kebaikan hidup diperoleh pun kemuliaan didapatkan sebab senantiasa tersuasana untuk taat pada pemilik sejati dalam semua kondisi dan keadaan. Termasuk sistem Ekonomi Islam pun di aplikasikan dengan apik dan hebat.
Maka terbukti kesejahteraan peradaban islam masih mengungguli dibandingkan dengan peradaban kapitalisme maupun sosialisme.
Sebagai contoh dimasa kholifah umar bin abdul Aziz, penguasa siap membayarkan utang rakyatnya, membantu para bujang untuk menyiapkan biaya nikah, memberikan beragam bantuan mulai uang hingga makanan, namun yang terjadi semua rakyat menolak karena mampu secara finansial.
Akhirnya stok makanan di alihkan untuk para binatang di hutan, laut maupun pegunungan. Maka keberadaan khilafah ditengah-tengah umat manusia haruslah diperjuangkan sampai tegak dan tersebar di seluruh penjuru dunia.
Sehingga akan kembali lagi potret ideal kehidupan masyarakat yang saling perduli, perhatian, dan berlomba dalam kebaikan (ketaatan total pada Allah SWT).
Maka jelaslah sudah hanya dalam naungan peradaban khilafah Islam saja lah hubungan sosial kemasyarakatan dapat terjalin dengan baik bahkan meski berbeda keyakinan, Rosulullah SAW dan para khalifah di masa lalu telah membuktikannya, lantas bagaimana dengan generasi kita, sudah siapkah?