Kamis, 13 OKTOBER 2022
Oleh: Yuni Damayanti
Beberapa wilayah di Indonesia menjadi langganan banjir jika curah hujan mulai tinggi . Di wilayah Aceh Utara banjir sejak Selasa 10/10/2022 semakin meluas.
Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari mengatakan hingga Kamis sore sebanyak 18.160 warga terpaksa mengungsi. Menurut Ahmad warga terdiri dari 5.014 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke meunasah atau musala dan dataran tinggi yang tersebar di 28 titik.
Kepala Pelaksana BPDB Kabupaten Aceh Utara, Asnawi mengatakan meluasnya banjir dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain curah hujan tinggi yang masih sering terjadi, kondisi tanggul daerah aliran sungai (DAS) besar juga kehilangan kemampuan menampung debit air yang meningkat, (katadata.co.id, 06/10/2022).
Selain di Kabupaten Aceh Utara, banjir juga terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya berakibat munculnya korban jiwa. Sebanyak tiga orang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19, Jakarta Selatan meninggal usai tembok sekolah mereka rubuh diterjang banjir.
Banjir terjadi karena luapan air saluran penghubung Pinang Kalijati yang berada di belakang sekolah. Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) DKI, sebanyak 270 warga diungsikan ke tempat aman. Ini karena 41 rukun tetangga (RT) terendam banjir.
“Ada 17 ruas jalan dan 41 rukun tetangga yang terendam. Sedikitnya 270 jiwa diungsikan ke Masjid Al Mustaghfirin, Kelurahan Kalibata, Jakarta Selatan,” kata Kepala Pelaksana BPDB DKI Isnawa Adji, (katadata.co.id, 07/10/2022).
Bencana banjir hampir selalu berulang setiap tahunya di beberapa wilayah Indonesia, namun sepertinya upaya antisipasi dan mitigasi bencana belum diperhatikan secara serius dan seksama padahal peringatan BMKG terus diberikan.
Hal ini menunjukan ketidakseriusan penguasa dalam mengurusi rakyatnya, khususnya dalam mitigasi bencana yang rutin terjadi. Padahal penyebab banjir bukan semata mata faktor alam, ada banyak hal yang harus dievaluasi dari perilaku manusia, utamanya terkait kebijakan struktural dalam pembangunan.
Begitupun dengan dampak yang ditimbulkan. Seringkali negara gagap melakukan mitigasi bencana sehingga berbagai dampak tidak terantisipasi sebaik- baiknya.
Curah hujan yang tinggi pun tidak akan menjadi masalah jika hutan-hutan tidak ditebang, tanah resapan tidak dibetoni, daerah aliran sungai tidak abrasi dan sistem drainase dibuat terintegrasi. Bukankah Allah SWT menurunkan hujan sebagai rahmat bagi alam semesta?
Meluasnya bencana banjir di berbagai wilayah ini tidak lepas dari keserakahan kaum kapitalisme. Mereka seenaknya mengeksploitasi lahan tambang, alih fungsi lahan dan deforestasi faktanya memang kian tidak terkendali.
Mirisnya, semua itu terjadi di depan mata penguasa. Sejatinya Islam benar-benar mengajarkan harmoni dan keseimbangan. Adab terhadap alam bahkan dinilai sebagai bagian dari Iman.
Fungsi kekhalifahan adlah refleksi dari fungsi penghambaan, maka siapa pun ynag melakukan kerusakan terhadap keseimbangan alam dianggap sebagai pelaku kejahatan dan dinilai sebagai bentuk kemaksiatan.
Mari menilik cara Islam dalam mengatasi banjir yaitu membangun bendungan-bendungan untuk menampung curahan air hujan, curahan air sungai dll. Memetakan daerah rawan banjir dan melarang penduduk membangun pemukiman di dekat daerah tersebut.
Pembangunan sungai buatan, kanal, saluran drainase yaitu untuk mengurangi penumpukan volume air dan mengalirkan aliran air, membangun sumur-sumur resapan di daerah tertentu, sosialisasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan kebijakan atau persyaratan tentang izin pembangunan bangunan.
Pembangunan yang menyangkut tentang pembukaan pemukiman baru. Penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah dsb. Selain itu Islam juga menyertakan solusi penanganan banjir seperti penyediaan tenda, makanaan, pengobatan, dan pakaian dan keterlibatan warga sekitar yang berada di dekat kawasan yang terkena bencana alam banjir.
Namun semua itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang betul-betul berperan sebagai pengurus dan penjaga umat. Semuanya bisa berjalan saat syariat Islam diterapkan secara keseluruhan.
Syariat inilah yang mengatur halal dan haram, sehingga melahirkan seorang pemimpin yang takut melihat rakyatnya menderita, wallahu a'laem bisshowab.