Pembajakan dan Perusakan Generasi

Rabu, 31 AGUSTUS 2022

Oleh : Riska Nilmalasari D.A

(Aktivis Muslimah)

Fenomena yang terjadi di kalangan para remaja akhir-akhir ini sangat meresahkan, salah satunya penyelenggaraan Citayam Fashion Week yang sangat ramai diperbincangkan.

Dimana para kaum muda Indonesia menunjukkan potret pergolakan budaya dan pemikiran, seakan mereka memiliki ruang bebas untuk mengekspresikan segala bentuk pikiran dan gaya hidup yang menurut mereka kekinian.

Banyak jurnalis mengatakan fenomena Citayam ini sebagai anti mainstream (arus utama) seolah-olah memberi ruang kepada kelompok yang terpinggirkan.

Belum lagi berbagai kasus perundungan anak, kasus kekerasan, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi dan berbagai kasus bullying, hingga kasus bunuh diri hanya karena tidak melulusi perguruan tinggi yang diinginkan.

Ditengah kasus para remaja semakin menyeruak belakangan ini semua yang terjadi juga tidak terlepas dari pola asuh orang tua, lingkungan, sistem pendidikan dan negara. Remaja juga teracuni dengan hedonisme, memburu kesenangan fisik, hiburan, mencari materi, dan popularitas.

Meski remaja yang datang dari kaum termarginalkan (terpinggirkan) para remaja ingin tenar di media sosial seperti para pemuda kaya dari keluarga kaya yang bisa hidup mewah.

Kesenangan fisik ini juga tidak membuat mereka takut dalam berhubungan seks sebelum menikah baik untuk kesenangan maupun prostitusi. Penelitian Reckitt Benkiser Indonesia pada tahun 2019 terhadap remaja di lima ibu kota besar 33% remaja pernah melakukan hal tersebut.

Negeri ini berlimpah dengan penduduk muda dan produktif 60 juta penduduk rentang usia 15-34 tahun yang merupakan bonus demografi yang seharusnya akan memunculkan generasi penerus berkualitas.

Namun faktanya banyak anak muda justru hidup dalam berbagai permasalahan jeratan kemiskinan yang selalu menjadi problem utama sehingga kemiskinan menjerat, putus sekolah, terlibat kriminalitas, hedonis, dan tidak punya tujuan hidup, hal ini semakin membuat miris walaupun dengan bonus demografi yang diprediksi.

Bahkan pendidikan yang merupakan harapan tidak mampu menjaga para generasi saat ini. Terkait riset UNICEF akibat pandemik selama 2 tahun lebih, 40% penduduk miskin baru pada tahun 2020 adalah remaja berusia di bawah 18 tahun, 4,3 juta pelajar putus sekolah.

Belum lagi ancaman Learning Loss yaitu berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis yang memperlihatkan bahwa siswa dianggap kehilangan pembelajaran atau tidak belajar apa-apa.

Namun disayangkan negara hari ini justru mendorong penguatan karakter profil Pancasila sebagai solusi krisis sosial serta moderasi beragama sebagai cikal bakal menjaga kemaslahatan. Tapi ini juga tidak mampu menjamin mampu menyelematkan generasi dan terlihat seperti harapan kosong semata.

Bahkan Menurut Darmanyngtias selaku kritikus pendidikan pernah mengatakan Mendikbudristek saat ini tidak memiliki visi untuk pendidikan, melainkan menyerahkan pengelolaan pendidikan pada (kebutuhan) pasar.

Generasi diformat sebagai salah satu faktor produksi bagi kebutuhan industrialisasi sistem kapitalistik sehingga jelas mereka akan dijauhkan dari nilai-nilai agama yang membahayakan eksistensi kapitalisme.

Tentu sekularisme dan liberalisme ini disponsori oleh Barat dengan berbagai macam program-program yang terarah melanggengkan liberalisme dan sekuler kapitalis.

Peran mereka didorong ke arah pemuda yang memiliki nilai-nilai sekuler Barat, mengusung toleransi, pluralisme, dan nilai-nilai kebangsaan yang kosong dari nilai Islam.

Generasi terseret arus liberalisasi karena tipu daya Barat yang diterima dengan tangan terbuka oleh penguasa yang kian hari semakin memperburuk dan merusak generasi. Generasi saat ini adalah harapan pada masa yang akan datang. Islam mencurahkan perhatian besar kepada generasi muda.

Islam jelas memberikan solusi dengan mengukuhkan kepribadian Islam, hingga mereka akan menjadi generasi yang mulia dan terjaga dari melakukan kesalahan dan kemaksiatan. Hal pertama adalah kukuhnya akidah. Akidah Islam ibarat akar dari sebuah pohon dan fondasi dari sebuah bangunan.

Kuat lemahnya akar (fondasi) akan sangat berpengaruh pada kuat lemahnya pohon dan bangunan di atasnya.

Ketika ia memiliki keyakinan bahwa Allah adalah Ar-Razâq akan muncul tampilan profil kepribadian tidak mudah galau dan gelisah karena ia paham, tidak ada satu hewan melata pun dan makhluk Allah mana pun sekecil apa pun, tidak diberi jaminan rizkinya oleh Allah.

Kedua, yang akan mengokohkan kepribadian dan profil mereka itu adalah keterkaitan akidah tadi dengan pilihan jalan hidup yang ia ambil. Akidah sebagai benih akan menumbuhkan pohon.

Pohon itu adalah bagaimana dia menjalani setiap episode berikutnya sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah Al-Khaliq, Al- Mudabbir. Ketiga, melengkapi dirinya dengan tsaqafah Islam, hukum-hukum Islam, pemahaman-pemahaman Islam yang ia butuhkan, ditambah dengan kondisi nafsiyah yang senantiasa terkoneksi dengan Tuhannya (idrak silah billahnya) kuat.

Keempat, pohon ini akan tumbuh subur tanpa ada yang merusak kalau ia tinggal dan hidup di tengah tanah, udara, serta air yang tidak ada polusinya hal ini mengibaratkan sebuah masyarakat yang kondusif sangat baik untuk tumbuh kembangnya pribadi-pribadi kuat.

Kelima, keberadaan negara yang berkarakter ra’in, memelihara urusan rakyatnya termasuk para pemuda dan anak-anak, dan juga junnah (tameng) yang akan melindungi seluruh warga negara dari kerusakan.

Semua keburukan itu terjadi karena mencampakkan Islam kafah, dan dengan senang hati mengambil sekularisme, kapitalisme, bahkan dipimpin oleh sekularisme kapitalisme tersebut.

Untuk menciptakan profil generasi muslim yang mulia dan tangguh, membutuhkan penerapan Islam secara menyeluruh, membutuhkan berfungsinya seluruh pelaku pendidikan generasi secara harmonis, secara sinergis dengan kerja sama baik individu, masyarakat hingga negara.