Selasa, 1 Maret 2022
Oleh : Nor Hilmi
(Mahasiswi)
Belum sampai dua bulan lamanya sejak PTM (Pertemuan Tatap Muka) 100% diberlakukan, kini PTM kembali dibatasi karena lonjakan Covid-19 kembali terjadi untuk kesekian kalinya.
Banyak sekolah kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh karena besarnya kasus positif Covid-19 di wilayah sekolah tersebut atau juga karena terdapat kasus positif di sekolah yang bersangkutan.
Seperti yang terjadi di kota Balikpapan, dikutip dari kompas.com sebanyak 10 sekolah di Balikpapan, Kalimantan Timur terpapar Covid-19 saat PTM. Dari total sekolah yang terpapar setidaknya 8 di antaranya ditutup dengan tuntutan keadaan terpaksa kembali melakukan pembelajaran secara online.
Sementara dua sekolah lainnya tetap melangsungkan pembelajaran di sekolah dengan kebijakan menutup ruang kelas yang terpapar selama tiga hari.
Sebelumnya penerapan PTM 100% di tengah pandemi diharapkan dapat mengatasi fenomena learning loss pada peserta didik, namun sayangnya dengan lonjakan kasus Covid-19 beberapa waktu belakang ini peserta didik kembali terancam mengalami learning loss.
Sejak kehadiran pandemi di tengah-tengah kehidupan istilah learning loss sudah tidak asing lagi di telinga karena merupakan satu hal baru bagi pendidikan dalam negeri ini untuk beralih dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh.
Sehingga tidak heran jika baik peserta didik maupun pendidik mengalami kesulitan dalam penerapannya hingga menyebabkan terjadinya learning loss.
Masalah pendidikan makin hari semakin bertambah, pun jauh sebelum pandemi terjadi sudah banyak masalah pendidikan di negeri ini. Bukan tanpa alasan, pasalnya jauh sebelum pandemi sistem sekuler telah merasuk ke dalam seluruh aspek kehidupan.
Dipisahkannya agama dari kehidupan termasuk dalam pelaksanaan pendidikan menghasilkan generasi sekuler yang hanya cerdas secara intelektual tapi cacat dalam kepribadian. Sehingga bukan suatu hal baru apabila ditemukan orang-orang cerdas yang tidak memberikan manfaat tapi justru merugikan orang-orang di sekitarnya.
Hal ini diperparah dengan keadaan pandemi saat ini, dimana generasi terancam mengalami learning loss atau kehilangan kemampuan dalam memahami materi pelajaran yang diajarkan dan dikhawatirkan akan semakin cacat kepribadiannya.
Terjadinya learning loss dan cacat kepribadian pada pelajar semata-mata bukan hanya karena diterapkannya pembelajaran jarak jauh tapi juga karena diterapkannya kurikulum sekuler dan kegagalan kapitalisme dalam mengatasi wabah.
Penerapan kurikulum sekuler mengaburkan tujuan pendidikan yang sebenarnya, memisahkan agama dari pendidikan membuat generasi hanya terpaku pada pemenuhan kepuasan intelek semata tanpa memahami esensi dari pendidikan itu sendiri. Generasi cenderung mudah menyerah dan kehilangan motivasi belajar karena tidak tertanamkan niat yang benar dalam menuntut ilmu.
Belum lagi tidak adanya kurikulum baku yang diterapkan, kurikulum selalu berubah-ubah dengan alasan menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan zaman agar pendidikan menjadi lebih baik tapi menutup mata pada sistem pendidikan yang menjadi sumber masalah.
Terlalu banyak waktu dan biaya dihabiskan untuk merealisasikan kurikulum-kurikulum baru, sementara hal ini justru malah menambah masalah baru.
Selanjutnya kegagalan rezim kapitalis dalam mengatasi wabah berperan andil dalam keadaan generasi saat ini. Pandemi tidak kunjung selesai akibat rezim yang terus menerus mengalihkan fokus pada hal-hal yang tidak seharusnya, kesehatan dan keselamatan rakyat yang seharusnya diutamakan justru dinomor sekiankan.
Untuk mengatasi learning loss dan cacat kepribadian pada generasi bukan dengan mengganti kurikulum dalam kurun waktu tertentu atau menerapkan kebijakan-kebijakan baru yang dianggap sebagai gebrakan inovatif karena hal ini tidak mengatasi permasalahan yang menjadi penyebab utama. Solusi yang tepat ialah dengan mencampakkan sistem sekuler-kapitalisme dari sendi kehidupan dan menerapkan Islam secara kaffah.
Islam menawarkan sistem pendidikan pencetak generasi sholih berkepribadian luhur dan pemimpin masa depan. Sebab tujuan pendidikan dalam sistem Islam jelas, menuntut ilmu semata-mata untuk meraih ridho Allah SWT dan dapat menjadi manusia yang bermanfaat untuk sekitarnya.
Selain itu juga sistem kesehatan yang terbukti tuntas atasi wabah bahkan sejak berabad-abad lalu. Penerapan sistem shahih dan kehadiran pemimpin amanah menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi permasalahan yang ada.
Oleh karena itu mari kembali pada sistem Islam kaffah, tinggalkan sistem kehidupan rusak sekuler-kapitalisme dengan begitu akan tercipta generasi unggulan yang tidak hanya sekadar cerdas secara intelektual tapi juga berkepribadian luhur dan pastinya memiliki takwa kepada Allah SWT. Wallahu’alam bisshawab. (**)