Perang Baliho Ditengah Pandemi, Menyingkap Kedok Politisi Dalam Demokrasi

Senin, 23 AGUSTUS 2021

Oleh : Nurbayah Ummu Tsabitah, A.Md

(Pemerhati lingkungan)

Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 memang masih jauh. Namun, para bakal kandidat sudah mulai ancang-ancang sejak sekarang.

NURBAYAH UMMU TSABITHAH

Sejumlah baliho mulai terlihat di pinggir-pinggir jalan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno justru meragukan strategi pengenalan diri lewat baliho yang dilakukan sejumlah elite partai politik itu akan membuahkan hasil baik.

Adi menyebut, baliho hanya benda mati dan tidak membuahkan apa-apa tanpa diiringi kerja nyata, apalagi di tengah pandemi Covid-19.

Alih-alih diapresiasi, baliho itu justru jadi bulan-bulanan di media sosial.”Bukan dapat simpati, malah cibiran dan makian. Jadi baliho tidak ada artinya,” kata Adi, Minggu 8 Agustus 2021.(PikianRakyat.com).

Ia menilai, wajar protes publik atas baliho itu. Soalnya, baliho tersebut dinilai tak punya empati dan tak membantu apa pun masalah saat ini.

Apalagi di tengah dampak pandemi Covid-19 yang membuat banyak orang butuh sembako. Kondisi pandemi covid-19 yang belum berakhir, semakin bertambahnya jumlah masyarakat yang terinfeksi virus, masih tingginya angka kematian akibat covid-19, dan belum lagi masyarakat yang harus kehilangan mata pencaharian akibat PHK dan pembatasan aktivitas di luar rumah adalah sederet kisah pilu yang tengah dihadapi masyarakat saat ini.

Namun bukannya bersimpati terhadap kondisi masyarakat dan bersama-sama mencari solusi penutasan pandemi, para politisi ini justru sibuk berlomba-lomba mempromosikan diri demi mendapatkan kursi presiden tahun 2024. inilah wajah asli para politisi pada sistem demokrasi.

Seolah tak punya hati nurani. Inilah Sistem demokrasi yang merupakan buah dari ideologi kapitalisme, yang berakidah sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan.

Oleh sebab itulah, sungguh mustahil para calon pemimpin dalam sistem ini menjadikan aturan Islam sebagai landasan hidup dalam berpikir maupun bertindak, justru mereka haus akan kekuasaan, dan sedikit kepekaan untuk menjadi pelayan rakyat.

Realitas inilah yang sudah berulang kali dipertontonkan setiap mendekati pilpres, pilkada, atau pemilu lainnya, kebanyakan perilaku para wakil rakyat setelah menjabat yang hanya berupaya untuk memperkaya diri dan berusaha mendapatkan untung sebanyak-banyaknya tanpa peduli nasib rakyat.

Hal ini seharusnya dapat dijadikan cambuk untuk menyadarkan masyarakat akan hakekat sistem demokrasi yang buruk. Bahkan akan sangat sulit ditemukan sosok pemimpin sebagaimana sosok pemimpin teladan pada masa sistem Islam yang justru menolak ketika ditawarkan padanya untuk memimpin umat.

Semisal Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika beliau mengetahui kabar penunjukannya sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz langsung mengucapkan, "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un."

Setelah dibaiat, dalam berpidatonya di hadapan rakyat, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan bahwa Dia tidak menghendaki jabatan khalifah.

Diapun tidak pernah diajak musyawarah atas jabatan itu, juga tidak pernah memintanya. Sehingga dia ingin rakyat mencabut baiat mereka dan memilih orang lain.

Namun, rakyat tidak ingin mengganti pilihan mereka dan telah sangat berbahagia atas terpilihnya Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah. Maka dengan terpaksa Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan tersebut dan berpesan, "Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah. Apabila aku maksiat kepada Allah, maka tidak ada (kewajiban) kalian taat kepadaku."

Saat memimpin pun Umar bin Abdul Aziz sangat adil hingga tidak ada lagi orang berhak menerima zakat mau menerima zakat, sehingga dana zakat disumbangkan ke negeri lain yang membutuhkan.

Sosok pemimpin Islam yang juga dapat diteladani adalah Khalifah Umar bin Khattab yang setiap malam memilih tidak tidur untuk berkeliling ke pemukiman penduduk untuk mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung.

Dalam sebuah riwayat yang ditulis dalam buku Sang Legenda Umar bin Khattab karya Yahya bin Yazid Al-Hukmi Al-Faifi, Abdullah meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam riwayatnya, Umar bin Khattab selalu puasa dahr (sepanjang tahun).

Ketika pada musim kemarau dan rakyat dilanda paceklik, Umar bin Khattab sebagai khalifah selalu membawa roti jika pulang petang. Apabila Umar bin Khattab telah tiba di rumah, roti itu hanya disiram minyak dan disantap untuk berbuka puasa dahrnya.

Kholifah Umar bin Khattab mengharamkan dirinya memakan daging dan mentega saat masa paceklik melanda. Saat Beliau sebagai Khalifah beliau selalu berpidato di hadapan rakyatnya dalam keadaan perut keroncong sambil menahan lapar.

Umar bin Khattab mengatakan kepada perutnya, "Hai, perut, walau engkau terus meronta-ronta, keroncongan, saya tetap tidak akan menyumpalmu dengan daging dan mentega sampai umat Muhammad merasa kenyang," dikutip dari buku Sang Legenda Umar bin Khattab karya Yahya bin Yazid Al-Hukmi Al-Faifi.

Umar bin Khattab juga mengatakan, "Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin aku adalah orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin aku adalah orang terakhir yang menikmatinya.”

Begitu luar biasanya sistem Islam melahirkan calon pemimpin dan pemimpin umat yang sangat takut kepada Allah SWT, sehingga justru menolak ketika ditawarkan padanya kekuasaan dan sangat berhati-hati ketika memimpin rakyat, sebab mereka sangat memahami begitu berat pertanggung jawaban kepemimpinannya kelak di hadapan Allah SWT.

Oleh sebab itulah jika masyarakat merindukan para pemimpin yang akan menjadi pelayan rakyat, sudah selayaknya masyarakat kembali pada kepemimpinan berdasarkan sistem Islam.

Dan segera meninggal sistem kufur ciptaan manusia yang tidak memberikan kebaikan dan keridhoan dari Sang pencipta alam semesta dan kehidupan ini. Wallahu A’lam Bisshowab. (**)