Pandemi Covid-19 Semakin Mengancam, Butuh Solusi Mendalam

Sabtu, 14 AGUSTUS 2021

Oleh: Rina Rusaeny (Mahasiswi)

Pandemi Covid-19 di Indonesia semakin mengancam telah banyak membawa krisis multidimensi yang secara sistematis dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

RINA RUSAENY

Baik dalam aspek ekonomi, kesehatan, dan sosial. Indonesia disebut juga sebagai negara demokratis saat ini justru mendapatkan peringkat terburuk dalam menangani Covid-19 di dunia, yaitu peringkat ke-53 dari 53 negara di dunia.

Menurut laporan Bloomberg pada Selasa (27/7/2021), beberapa indikatornya mulai dari kualitas fasilitas kesehatan, cakupan vaksinasi, kematian, proses perjalanan hingga pelonggaran perbatasan.

Angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia sangat tinggi. Tercatat, lebih dari 1.300 orang meninggal setiap harinya.

Vaksinasi di Indonesia juga masih rendah yaitu 11,9 persen dari total penduduk. Lihat:https://www.tribunnews.com/nasional/2021/07/31/tanggapan-pemerintah-setelah-indonesia-disebut-negara-terburuk-di-dunia-dalam-menangani-covid-1 9 Terkhusus di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pun mengalami krisis oksigen dan obat-obatan dalam penanganan Covid-19.

Kasus konfirmasi positif Covid-19 sendiri menembus hingga 123 ribu. Gubernur Kaltim juga mengungkap empat persoalan yang sedang dihadapi.

Seperti soal insentif tenaga kesehatan, soal kekurangan vaksin Covid-19. Berikutnya, soal ketersediaan obat-obatan dan oksigen di Kalimantan Timur.

Pernyataan itu disampaikan Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor di hadapan Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito, yang juga Ketua Satgas Nasional Penanganan Covid-19, saat kunjungan kerja di Balikpapan, Kalimantan Timur. Lihat: https://www.merdeka.com/peristiwa/gubernur-kaltim-curhat-masalah-insentif-nakes-hingga-krisis-oksigen.html Perkembangan kasus covid di negeri ini yang tidak menunjukkan pertanda baik.

Seharusnya menjadikan momentum untuk mengevaluasi solusi yang diterapkan selama dua tahun ini. Siapapun tak bisa menyangkal, sejak masuknya virus covid-19 nampak pemerintah sangat lamban dalam menanggulangi.

Bukan hanya lamban, buruknya pengurusan penguasa dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri dimana ditengah rakyat yang berjuang mencari makan untuk menyelamatkan hidup, justru penguasa terlihat malah sibuk menyelamatkan ekonomi yang tidak berimplikasi pada kesejahteraan rakyat.

Dengan memberikan suntikkan dana untuk para korporasi demi berjalannya proyek-proyek investasi. Inilah watak rezim kapitalis yang lebih mementingkan ekonomi daripada nyawa rakyat.

Belum lagi, kebijakan yang selama ini diambil tak memberikan lampu merah bagi virus untuk berhenti menularkan pada manusia. Gonta-ganti peraturan malah membuat virus berkeliaran ke mana-mana. Korban pun banyak berjatuhan.

Bahkan, banyak yang gugur dalam pertempuran melawan Covid-19. Parahnya, Kapitalisme memandang kasus penularan, yang sakit, dan yang meninggal karena Covid-19 hanya sebagai angka.

Jika tidak segera mengambil gebrakan kebijakan penanganan pandemi yang tepat, bisa-bisa negara masuk ke dalam jebakan pandemi yang tidak jelas kapan akan berakhir. Inilah yang terjadi saat ini hampir di seluruh dunia.

Banyaknya korban yang berjatuhan dan salah mengambil solusi sebaiknya mendorong umat untuk mencari solusi yang mendalam.

Solusi yang mendalam ini tentu tidak lain mengambil solusi Islam. Islam sebagai iseologi yang memiliki pengaturan hidup sempurna yang berasal wahyu Allah swt. Islam memiliki solusi tuntas dalam mengatasi wabah.

Pandemi Covid-19 hampir serupa dengan wabah Tha'un Amwas yang pernah terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab. Upaya yang dilakukan oleh Umar ra. ini tegolong berhasil dalam menangani wabah saat itu.

Tentu saja keberhasilan bisa dicapai karena semua dilakukan berdasarkan aturan Sang Khalik, bukan dengan membuat kebijakan yang sembrono buatan akal manusia.

Langkah awal yang di lakukan Khalifah Umar bin Khattab adalah melakukan karantina wilayah dan megunci tempat wabah. Urgensi diberlakukannya karantina wilayah (lockdown) sedini mungkin, salah satunya adalah berusaha penyebaran wabah hanya di daerah yang telah terdampak, tidak masuk ke daerah lain.

Sehingga masyarakat yang tidak berada dalam daerah wabah tetap dapat melakukan aktivitasnya secara normal. Dengan begitu, krisis ekonomi, pangan dsb. dapat diminimalisir.

Selain itu agar tidak terjadi kelaparan maka khalifah atau pemimpin dalam Islam selalu menjaga stok pangan, ketika keadaan normal maupun pandemi, semua tetap stabil.

Jika terjadi kelaparan hal ini dapat diminimalisir. Juga ketika lockdown telah di berlakukan, maka khalifah harus menjamin kebutuhan pangan rakyatnya. Dengan demikian, penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi solusi terbaik bagi segala problematika kehidupan. Terlebih masa pandemi seperti saat ini.

Negara pengemban Kapitalisme seperti USA telah nampak tak berdaya mengatasi pandemi. Sudah saatnya memperjuangkan syariah Islam kaffah dan campakkan system kapitalisme. (**) 

Wallahu a'lam bishawab.