Minggu, 20 JUNI 2021
Oleh: Anis Zakiah (Mahasiswi USN Kolaka)
Dilansir Viva.co.id, Mentri luar negeri Indonesia, Retno marsadi, menegaskan pentingnya Palestina dan Israel kembali kemeja perundingan untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng, menyusul pengumuman gencatan senjata di Gaza.
Menlu menyampaikan pernyataan itu dalam pertemuan tertutup dan sejumlah Mentri luar negeri dan presiden sidang majelis umum ke-75 (PBB) Yolkan Bazkir di new York, yang dilakukan setelah sesi debat yang digelar badan dunia khusus untuk membahas situasi Palestina pada Kamis 20 Mei 2021.
"Jadi setelah genjatan senjata dilakukan, harus diberikan tekanan agar negosiasi segera dilakukan untuk menyelesaikan isu mendasar nya,“ kata Menlu Retno dalam pengarahan media secara virtual pada jum’at pagi waktu Jakarta, atau Kamis malam waktu New York.
Pandangan yang sama, menurut Retno, juga disuarakan oleh para Menlu yang hadir dalam pertemuan tersebut yaitu agar tekanan internasional diberikan kepada Palestina dan Israel serta pihak-pihak terkait lainnya, untuk menangani isu utama pendudukan agar kekerasan tidak terus menerus berulang.
Sekuler, Akar Masalah Sebagaimana yang kita ketahui konflik antara Palestina dan Israel sampai saat ini belum juga berakhir.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengakhiri konflik kedua negara ini, bahkan narasi two state solution (solusi dua negara) dianggap oleh sebagian mayoritas adalah solusi yang realistis untuk konflik Palestina-Israel. Adapun isi dari solusi dua negara adalah Israel-Palestina “dua negara untuk dua warga.”
Dengan adanya solusi dua negara, maka negara Palestina harus berdampingan dengan Israel, di sebelah barat sungai Yordan.
Seharusnya yang perlu kita ketahui solusi dua negara yang ditawarkan adalah solusi dzalim. Mengakui entitas Yahudi yang sebenarnya tidak berhak sama sekali atas tanah Palestina.
Solusi dua negara yang ditawarkan Amerika ini, perdamaian yang digagas negara-negara barat. Upaya perundingan damai two state solution (solusi dua negara) merupakan pola pikir yang sekuler, sebab secara terang-terangan memberi hak Israel bermukim, padahal notabenenya adalah penjajahan.
Lantas bagaimana bisa diadakan two state solution (solusi dua negara)? Jika secara terang-terangan di mata publik ambisi Israel ingin menguasai sepenuhnya tanah Palestina, sehingga normalisasi dengan penjajah Yahudi yang dilakukan para penguasa Arab adalah solusi palsu.
Menyadari solusi yang ditawari adalah solusi palsu yang hanya akan melanggengkan penderita bagi Palestina, maka solusi syar’i atas masalah Palestina tidak lain adalah mencabut penjajah hingga akar-akarnya dari bumi Palestina yang diberkati. Sebab, penjajah entitas Yahudi menjadi dasar persoalan krisis di Palestina.
Islam Solusi Mengakhiri Penjajahan Allah SWT telah menjadikan tanah Palestina sebagai tanah yang diberkahi melalui kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 15 Hijriyah. Palestina telah dibebaskan dari kekuasaan Romawi dan pemilik dari tanah ini tidak lain adalah kaum muslimin.
Khalifah Umar bin Khattab menerima tanah Palestina dari Safruniyus pada sebuah perjanjian Umariah. Kaum Yahudi tidak pantas berada di tanah Palestina mereka adalah penjajah. Sebagaimana yang tertulis di Al-Quran, “Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.” (Qs. Al-Baqarah ayat 191)
Dari ayat ini, sudah sangat jelas Allah SWT menyuruh kaum muslimin untuk memerangi siapapun yang merampas, menjajah dan mengusir kaum muslimin dari tanah mereka.
Sungguh disayangkan penguasa Arab dan negeri-negeri muslim lainnya tidak berbuat banyak untuk menghentikan kejahatan penjajah Yahudi yang terus berulang. Pemimpin-pemimpin negara muslim sekadar menyalurkan bantuan sosial kemanusiaan baik berupa logistik, pakaian, selimut, dan obat-obatan serta tenaga medis ataupun aksi solidaritas doa bersama untuk saudara kita di Palestina.
Sejatinya ini semua tidak cukup dan tidak menyentuh akar persoalan. Bantuan sosial memang diperlukan, namun selama Israel masih menduduki dan leluasa melakukan serangan kepada kaum muslimin Palestina kekejaman Israel tak pernah usai.
Ditambah lagi para pemimpin-pemimpin kaum muslimin saat ini, hanya melakukan kecaman dan meminta bantuan masyarakat internasional, terutama komite Quartet, PBB dan Yunho.
Meminta agar menjaga Al-Quds dan masjid Al-Aqsa. Sungguh apa yang dilakukan penguasa negeri-negeri muslimin, sejatinya bentuk berlepas dirinya dari kewajiban menyelamatkan negeri Palestina.
Akan tetapi, nyatanya memilih bungkam dan tidak peduli atas apa yang terjadi di negeri Palestina. Penyelesaian masalah Palestina wajib dikembalikan pada Islam.
Persoalan Palestina bukan hanya sekadar persoalan rakyat Palestina atau orang Arab saja, tetapi merupakan persoalan kaum muslimin. Sebab, ummat Islam adalah ummat yang satu (ummah Wahidah) tidak boleh dipisahkan oleh ras, suku, warna kulit atau bangsa. Ummat Islam adalah umat yang dipersatukan oleh akidah Islam.
Bukankah Rasulullah saw memberikan gambaran tentang ukhuwah Islamiyyah yang harus kita bangun ? Disatukan oleh akidah Islam, ummat Islam bagaikan tubuh yang satu.
Kalau satu bagian sakit maka bagian tubuh yang lain juga menjadi sakit. Ummat Islam bagaikan satu bangunan yang saling memperkuat satu sama lain.
Solusi mengatasi persoalan saudara kita di Palestina adalah mengirimkan pasukan-pasukan militer untuk mengusir penjajah Israel dari tanah Al-Quds.
Semua hanya dapat dilakukan pemimpin-pemimpin negara muslim untuk bersatu dan melawan Israel Laknatullah.
Sebagaimana perjuangan dari pemimpin-pemimpin ummat Islam terdahulu seperti “panglima Salahuddin Al Ayyubi yang membebaskan tanah Palestina dari tentara salib, dan sikap tegas sultan Abdul Hamid II yang menyerukan Jihad untuk menjaga Palestina dari kompromi theodov herzl yang menginginkan etnis Yahudi tinggal di Palestina.
Kekuatan tunggal yang tidak mengenal batas Nation state kepemimpinan ini akan menjadi pelindung bagi kaum muslimin, sehingga bagi siapapun yang ingin menyerang kaum muslimin akan berpikir ulang mengahadapi kekuatan kaum muslimin yang ada di satu kekuatan kepemimpinan. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) Akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dan (kekuasaannya)." (HR. Al-Bukhari, muslim, Ahmad, abu Dawud, dll).
Kepemimpinan ini hanya akan hadir ketika kaum muslimin di seluruh dunia bersatu dan kembali kepada syari’at Islam di bawah naungan Khilafah Islam. (**)