PAD Pariwisata “Terjun Bebas," Saatnya Pilih Tata Kelola yang “Pas”

Selasa, 8 JUNI 2021

Oleh: Dhevy Hakim

"Besar pasak daripada tiang.”

Begitulah sebuah peribahasa yang menggambarkan perilaku boros dikarenakan pengeluaran untuk kebutuhan lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh.

Ditengah situasi wabah Corona yang sudah setahun lebih lamanya, peribahasa tersebut berlaku bukan karena perilaku boros. Namun, dikarenakan pendapatan turun sementara kebutuhan tetap menuntut untuk dipenuhi.

DHEVY HAKIM

Penurunan pendapatan sebagai akibat dari adanya pandemi covid-19 telah menimpa baik di skala nasional sampai daerah. Balikpapan sebagai kota yang terkenal dengan sebutan kota minyak pun tak luput terkena imbasnya.

Melansir dari prokal.co (24/5/2021) menyebutkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Balikpapan khususnya pada sektor pariwisata mengalami “terjun bebas."

Catatan dari Disporapar hingga April 2021 PAD sektor wisata baru menyentuh angka Rp. 753.470.000 atau 0,16 persen dari target murni Rp. 4.630.500.000. PAD Turun Bukan Hanya Salah Corona Adanya wabah covid-19 mengharuskan masyarakat patuh pada 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak,

Mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari kerumunan). Akibatnya masyarakat lebih banyak di rumah dan berbagai sektor pekerjaan ada yang bekerja dari rumah, tutup sementara ataupun mengurangi jam kerja.

Sejumlah kebijakan pun keluar tidak lain dalam rangka pencegahan atau setidaknya mengurangi penyebaran virus-virus. Sebut saja PSBB, PPKM, Kaltim Steril maupun PPKM Mikro.

Saat diberlakukannya kebijakan tersebut telah berdampak pada berbagai sektor termasuk sektor pariwisata. Pantai Manggar contohnya.

Sekalipun terkenal sebagai pantai favorit baik bagi penduduk Balikpapan maupun sekitarnya rupanya juga mengalami penurunan jumlah pengunjung secara drastis. Berdasarkan data dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, sejak Januari 2021 sejumlah 7.559 orang kemudian turun menjadi 2.935 orang pada bulan Februari. (tribunnews.com, 24/5/2021).

Penurunan jumlah pengunjung tersebut berpengaruh pada jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal selama ini pendapatan dari pajak, pungutan-pungutan di tempat fasilitas umum dan investasi menjadi andalan untuk mendapatkan pendapatan daerah.

Oleh karenanya seakan adanya pandemi ini menjadi sebab pemukul turun drastisnya pendapatan. Namun, apabila dilihat secara luas ternyata turunnya jumlah pendapatan sebenarnya tidak hanya gara-gara korona.

Menilik akhir tahun 2019 kondisi ekonomi secara global mengalami penurunan bahkan sudah diprediksi akan terjadi resesi global.

Pasalnya resesi global terus berulang berkali-kali, seperti siklus yang kerap terjadi setiap lima tahun ataupun sepuluh tahun. Artinya, sekalipun tidak ada wabah corona kemungkinan besar resesi memang melanda dunia.

Kalau sudah begini jangankan PAD bahkan pendapatan nasional pun juga turun. Saatnya, masyarakat memahami bahwa persoalannya terletak pada sistem ekonomi yang dipakai.

Tanpa sadar negeri ini telah mengelola keuangan dan ekonominya berdasarkan sistem ekonomi kapitalistik.

Sistem ekonomi yang rentan mengalami krisis. Roda ekonomi dijalankan secara spekulasi di pasar bebas maupun bursa saham layaknya praktek spekulasi dalam berjudi dan melalui perbankan dengan sistem ribawi.

Butuh Sistem “Pas” Anti Wabah Sistem ekonomi yang “pas” tentu saja sistem yang stabil dalam segala kondisi, baik kondisi aman ataupun sedang terjadi wabah dan bencana. Dulu, semasa Khalifah Umar bin Khattab pernah terjadi wabah. Namun, hebatnya ekonomi tidak terguncang.

Ya, saat itu sistem Islam kaffah lah yang diterapkan. Sistem ekonominya dijamin stabil setidaknya bisa dilihat dari sisi berikut ini. Pertama, pemasukan keuangan berasal dari penataan kepemilikan yakni pos kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara.

Saat ini sumber utama pendapatan bertumpu pada pajak dan utang. Saat terjadi wabah seperti pandemi covid-19 saat ini akhirnya pendapatan turun drastis.

Padahal bila kepemilikan umum dikelola dengan baik, pendapatan negara luar biasa dan sangat mungkin tak perlu lagi berhutang ataupun memungut pajak.

Kedua, mata uang yang dipakai yakni Dinar dan dirham ataupun mata uang kertas dengan di-backup emas dan perak.

Dengan sistem moneter seperti ini menjadikan keuangan negara stabil. Sedangkan saat ini mata uang kertas tidak di-backup dengan emas atau perak sehingga rentan berfluktuasi. Inilah salah satu penyebab resesi selalu terjadi berulang-ulang.

Ketiga, struktur ekonomi berjalan secara riil yakni terwujudnya mekanisme pasar syariah. Namun saat ini struktur ekonominya semu atau non riil yakni bertumpu pada pasar modal, bursa saham dan perbankan.

Akibatnya, situasi ekonomi benar-benar penuh spekulasi dan berbasis ribawi. Dampaknya saat terjadi wabah seperti pandemi saat ini ekonomi terpuruk.

Insya Allah dengan menggunakan sistem ekonomi Islam lah satu-satunya sistem yang “pas” digunakan sepanjang masa. Bilapun datang wabah mendera tak kan gagap menghadapinya. Tak khawatir akan nasib pendapatan daerah. Rakyat sejahtera dan negara pun berkah.

Wallahu a’lam bi showab.