Rabu, 28 April 2021
Milda, S.Pd
(Aktivis Muslimah)
Selama dua hari berturut-turut polisi Israel melarang warga Palestina buka puasa di Masjid Al Aqsa, Yerusalem, menurut kantor berita Palestina.
WAFA News Agency pada 14 April melaporkan polisi Israel juga menyerang warga Palestina sepulang dari salat tarawih di masjid, menurut saksi mata.
"Mereka mengatakan bahwa polisi menolak untuk mengizinkan makanan masuk ke dalam kompleks suci bertembok, yang menampung Masjid Al Aqsa dan Kubah Batu, bagi jamaah yang menjalankan puasa Ramadan untuk berbuka puasa saat matahari terbenam," lapor WAFA, dikutip 16 April 2021.
https://ramadan.tempo.co/read/1453213/polisi-israel-larang-warga-palestina-buka-puasa-di-masjid-al-aqsa Serangan demi serangan masih terus-menerus dialami kaum muslimin di masjid yang menjadi kiblat pertama umat muslim Palestina.
Ini bukan kali pertama para agresi menyerang kaum muslim, disaat seluruh umat muslim menjalankan ibadah puasa dengan penuh suka cita namun berbeda dengan warga Palestina mereka justru mengalami konflik yang tak berkesudahan.
Sebagai umat muslim kita mesti sadar bahwa masalah yang tengah dihadapi warga Palestina merupakan masalah bersama. Ini menyangkut saudara seiman kita "kalian itu ibarat satu tubuh, jika salah satu ada yang sakit maka semua ikut merasakan sakit" umat rasakan saat ini.
Disaat saudara seiman kita mengalami kezaliman dari para zionis Israel. Apakah sesama muslim diberbagai belahan dunia diam saja melihat mereka dibantai?
Tidak, kita harus membela mereka dengan penuh perjuangan demi membebaskan mereka dari cengkraman para zionis Israel.
Saat ini para petinggi yang duduk di kursi kekuasaan tidak mampu membela saudara sesama muslim padahal fakta menunjukkan penduduk muslim di seluruh penjuru dunia sekitar 1,9 Miliar.
Muslim justru mampu membela kaum muslim tetapi faktanya justru sembunyi tangan dengan menganggap itu konflik Palestina tidak ada hubungannya dengan kaum muslim lainnya.
Ini menggambarkan penguasa muslim tak berdaya dibawah sistem kapitalisme dengan segala kebijakan-kebijakan yang membuat konflik makin tak bisa terelakkan.
Hidup dalam kungkungan sistem kapitalis-sekuler yang mana memisahkan agama dari kehidupan sehingga segala sesuatu bisa dilakukan termasuk pembungkaman terhadap kezaliman yang nyata terjadi pada umat muslim Palestina dan bahkan di negeri-negeri muslim lainnya.
Sistem kapitalis telah menutup mata umat terhadap bentuk penindasan yang terjadi saat ini.
Bahwa dengan dalih, "bukan urusan kami terhadap apa yang dialami sebagian umat muslim, bahkan menganggap itu urusan negeri mereka yang berkonflik dengan negara lain."
Ini jelas menyakitkan hati umat yang terzalimi disaat pengharapan begitu besar akan pertolongan dari para petinggi muslim namun mereka hanya mendapat kekecewaan dari ketidak pedulian penguasa muslim.
Tidakkah hati ini tersentuh melihat sekian lama derita Palestina yang begitu menyiksa batin ini, bukanlah kita seluruh umat muslim akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka.
Tidakkah ada rasa malu sedikitpun kepada para syuhada yang telah gugur berjuang membela agama Allah, tidakkah hati ini tersentuh melihat anak-anak Palestina berjuang, yang mestinya mereka mendapatkan pendidikan yang layak sebagaimana anak-anak pada umumnya.
Namun mereka memilih untuk berjuang demi agama Allah. Sekali lagi malu dengan perjuangan mereka.
Sedangkan sebagian umat muslim hanya sebagai penonton dari kezaliman para tentara zionis dimana hati nurani kita disaat mereka sangat berharap akan pertolongan dari saudara seiman kita justru bersenang-senang diatas kezaliman umat muslim Palestina.
Sejatinya jika kebahagiaan hanya di nilai dari pencarian materi tanpa melihat perjuangan para saudara keakidah, pasti Allah pemilik kekuasaan alam semesta tidak akan memberikan sedikitpun rasa aman dan akan terus mencari kesenangan dunia yang tak ada habisnya.
Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara yang mana manusia di tuntut hanya semata-mata beribadah kepada Allah SWT, termasuk ikut serta berjuang membebaskan masjid Al-Aqsa.
Tanpa khilafah kehormatan dan martabat manusia hilang. Sebab hidup dalam kungkungan sistem bathil memang meniscayakan segala tindakan sah-sah saja dilakukan tanpa melihat status sosial.
Termasuk segala bentuk kezaliman. Seperti, mengorbankan diri sendiri demi mendapatkan predikat gaul dan mendapatkan penghargaan dari manusia dengan mengikuti tren yang digandrungi oleh para generasi.
Sehingga para generasi tidak lagi mengenal rasa peduli terhadap umat muslim dalam hal ini muslim Palestina. Sehingga, untuk dapat menolong kaum muslimin maka perlu adanya sistem Islam yang tepat dalam memberantas segala bentuk penjajahan dari kolonial barat.
Sistem Islam akan memberikan mengembalikan kehormatan, keadilan serta kebermanfaatan ummat karena sistem Islam berpegang teguh para Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Hingga kehidupan akan senantiasa mendapat keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.