Jangan Sembunyikan Kebenaran Sejarah Islam, Atas Nama Moderasi

Kamis, 11 Maret 2021

Dewi Soviariani

Ibu dan Pemerhati Umat

Untuk kesekian kalinya umat Islam harus menerima kenyataan pahit. Sejarah membuktikan kejayaan Islam tak diraih hanya dengan berpangku tangan. Dan hari ini terbukti sudah kebencian barat terhadap Islam dan syariatnya.

Dewi Soviariani

Melalui kurikulum pendidikan mereka masuk untuk mengubah sejarah sesuai skenario yang mereka rencanakan. Mereka mengobok-obok dunia pendidikan sebagai gerbang kebangkitan generasi muda Islam. Kekhawatiran mereka akan bangkit nya Islam ideologis membuat beragam cara mereka gencarkan untuk menjegal pesatnya dakwah untuk melakukan penyadaran ditengah umat.

Salah satu materi pelajaran madrasah, sejarah kebudayaan Islam (SKI) diharapkan menjadi celah untuk menghambat lajunya gerakan radikalisme dan fundamentalis. Islam yang inklusif (terbuka) dan toleran harus diajarkan seorang guru Sejarah Kebudayaan Islam MA/MAK.

Demikian dikatakan Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kementerian Agama, Muhammad Zain kepada puluhan guru madrasah mata pelajaran SKI secara daring dalam Workshop Pengembangan Kompetensi Guru Sejarah Kebudayaan Islam MA/MAK.

Ia juga menekankan pentingnya menyampaikan fakta sejarah secara komprehensif. Targetnya adalah agar peserta didik memahami sejarah Islam masa lalu secara utuh dan akhirnya terbentuk generasi muda yang moderat. Menurutnya, para guru SKI memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan moderasi pengajaran sejarah Islam. (kemenag.go.id, 26/2/2021).

Melihat hal ini tentunya kita harus dapat menganalisa bagaimana upaya kaum kafir dengan gigih nya memasuki ranah pendidikan untuk menjauhkan generasi muda Islam dari pemahaman Islam yang sesungguhnya.

Dengan menjadi kan peserta didik memiliki pemahaman moderat. Hingga tidak anti-Barat (antikapitalisme), tidak bertentangan dengan sekularisme Barat, serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat.

Sebab, substansi moderasi Islam ialah Islam yang menerima nilai-nilai Barat, seperti demokrasi dan HAM, bahkan berkompromi dengan imperialisme Barat. Diwujudkanlah Islam yang “toleran, terbuka dan ramah," serta bisa menjadi mitra Barat.

Sejarah kegemilangan Islam

Upaya kaum muslimin untuk mengembalikan sejarah kegemilangan Islam semakin hari, kian mendapatkan titik terang.

Geliat kebangkitan umat melalui dakwah ideologis memperlihatkan pengaruh besar terhadap kondisi umat yang sedang terpuruk dibawah kungkungan sistem Kapitalisme sekuler. Sejarah kegemilangan Islam 1400 tahun yang lalu membuktikan bahwa ini berlangsung dengan menerapkan Islam sebagai aturan kehidupan secara kaffah dalam semua lini kehidupan.

Ketika itu sepertiga belahan dunia sejahtera dipimpin peradaban Islam yang dikenal dengan kekhalifahan Islam. Di bawah institusi politik yang menaunginya—Khilafah—penerapan Islam kafah justru memberi jaminan toleransi hakiki berupa perhatian besar terhadap aspek kemanusiaan tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Terkait hal ini, seorang orientalis dan sejarawan Kristen bernama T.W. Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of Propagation of The Muslim Faith, banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan dalam negara Khilafah.

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmaniyah, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Ini adalah serangkaian bukti sejarah yang tak terbantahkan dan menghantui para antek Kapitalisme. Jika umat Islam mengetahui dan memahami sejarah kejayaan Islam seutuhnya yaitu lewat penerapan Islam kafah, dakwah, dan jihad, hal ini tentu akan membahayakan Barat.

Akan muncul di kemudian hari generasi Islam yang “ekstrem atau radikal”, yang menolak ideologi kapitalisme sekuler, antidemokrasi, juga tak mau berkompromi dengan Barat.

Pada akhirnya generasi emas peradaban jauh dari harapan umat. Karena itu penting dan harus waspada terhadap setiap arah perubahan yang diwacanakan.

Menyadari setiap kebijakan yang diputuskan dalam rangka menyerang ajaran Islam. Kekhawatiran mereka atas cahaya kebangkitan Islam semakin menjadi, upaya untuk memutar balikkan sejarah gencar dilakukan.

Karena mereka menyadari melalui pendidikan sejarah ide dan pemikiran Kapitalisme sekuler dapat masuk mempengaruhi arah berpikir generasi muda Islam. Dengan menyingkirkan ajaran Islam yang dianggap radikal, yang dianggap tidak moderat.

Mereka tahu persis bahwa masa depan umat ini terletak pada para pemudanya. Bahkan di tangan pemuda hari inilah gambaran peradaban Islam di masa depan akan ditentukan.

Jika para pemuda muslim hari ini memiliki kesadaran ideologis Islam yang kuat, tentulah akan menjadi ancaman kematian bagi peradaban kapitalisme di masa depan.

Oleh karenanya, umat—termasuk para pemuda—semestinya segera sadar, justru hanya dengan berpegang teguh pada Islam kaffah mereka akan kembali mulia.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah : 32) Wallahu a’lam.