Kaltim Steril, Solusi Nihil

Minggu, 21 Pebruari 2021

Rini Astutik

(Pemerhati Sosial Dan Pendidikan)

Instruksi Gubernur Kaltim, tentang kebijakan Kaltim Steril menuai banyak pro dan kontra. Disamping kebijakan ini ditujukan mengurangi angka penyebaran COVID-19, namun nyatanya banyak UMKM dan Industri Pariwisata yang dirugikan, (Sapos, 10/2/2021).

RINI ASTUTIK
Pemerhati Sosial

Menyikapi hal tersebut, Juru Bicara COVID-19 Kaltim, Andi M Ishak mengatakan, pihaknya masih mendalami kebijakan tersebut. Dan melihat hasil evaluasi yang dilakukan dalam waktu dekat.

“Harus ada pilihan lain, dimana satu sisi dilonggarkan dan dikencangkan. Dimana rumah sakit juga sudah banyak tidak bisa menampung ketika ini dilonggarkan," ucapnya pada Sapos, Selasa (9/2 2021) kemarin.

Dirinya mengatakan, jika nanti kasus Covid-19 ini menurun maka bisa saja kebijakan tersebut akan dihapus. Sehingga, dirinya meminta prokes dan kebijakan ini bisa berjalan bersamaan.

Akan tetapi pada kesempatan lain, Ishak menyebut, kebijakan ini bukan kemauan Isran Noor semata. Melainkan hasil kesepakatan dari Forkompinda yang didalamnya ada unsur Polri dan TNI juga pejabat di Kabupaten/Kota.

Tidak dipungkiri kebijakan PPKM yang saat ini diterapkan pemerintah justru menuai polemik baru di tengah- tengah masyarakat, sehingga masyarakat makin dibuat bingung dengan kebijkan yang selalu bergonta ganti.

Dampaknya pun banyak masyarakat yang tidak memperdulikan bahkan merasa sudah jenuh dengan kebijakan - kebijakan yang hingga saat ini belum juga membuahkan hasil yang signifikan bahkan sangat nihil.

Bahkan, dari kebijakan PPKM baik yang pertama maupun yang kedua terlihat jelas bahwa kebijakan Kaltim steril hanya solusi tambal sulam yang benar benar tidak mampu memberantas masalah wabah hingga keakar masalah.

Sehingga wajar jika kebijakan Kaltim steril saat weekend ini dikritisi bahkan ditolak oleh sebagian masyarakat. Sebab penyebaran virus tidak hanya terjadi saat weekend akan tetapi terjadi disetiap harinya.

Diberlakukannya Kaltim steril bukannya memberikan solusi tapi justru membebani bahkan terkesan menyusahkan masyarakat khususnya bagi masyarakat kelas kecil dan menengah. Inilah kondisi ketika kita hidup disistem Kapitalis- Demokrasi, selamanya tidak akan pernah membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat, sebab arah tujuan yang dicapai dalam sistem tersebut hanyalah mengejar materi dan keuntungan semata.

Sehingga apapun solusi yang ditawarkan akan bertumpu pada kepentingan selagi itu menguntungkan. Maka menjadi wajar jika wabah ini masih terus berlangsung hingga saat ini bahkan akan semakin meluas penyebarannya.

Sebab dalam sistem kapitalis- Demokrasi setiap solusi yang diambil hanyalah bersifat pragmatis yang membuat kehidupan masyarakat semakin teriris. dalam sistem kapitalis- demokrasi juga menyandarkan setiap kebijakan dengan sudut pandang akal manusia yang jelas sangat lemah dan terbatas.

Hal ini tampak dalam penanggulangan wabah hari ini yang lebih mementingkan ekonomi dibanding keselamatan jiwa manusia, menyuruh rakyat untuk optimal mencegah COVID-19, tapi negara sendiri lalai dalam kewajibannya. Sehingga solusi dan hasil yang dicapai pun nihil adanya.

Oleh karena itu masyarakat saat ini sudah mampu mengindera bahwa sejak terjadinya wabah langkah pencegahanya pun seadanya mulai dari program 3T dan tidak mau memenuhi secara penuh seluruh kebutuhan rakyat di wilayah wabah. Inilah kebijakan keliru penanganan wabah dalam sistem kapitalis- demokrasi.

Akibatnya rakyatlah yang menjadi korban. Tentu hal ini berbeda dalam sistem Islam (khilafah) dimana Islam mempunyai Solusi Shohih Atasi Pandemi.

Islam juga telah memberikan aturan dalam mengatasi wabah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu ,Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu.” (HR al-Bukhari).

Secara teknis penanganan wabah kuncinya adalah peran negara, yaitu dengan memisahkan antara yang sakit dan yang sehat. Dan Juga tetap melakukan sosialisasi di masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan dengan 5M.

Sehingga untuk masyarakat yang tidak terdampak tetap bisa beraktifitas seperti biasa, begitu juga perekonomian masyarakat juga tetap bisa berjalan normal.

Dan yang terpenting negara harus berani mengambil kebijakan lockdown total baik antar negara maupun antar kota paling tidak selama 14 hari yang tentunya juga harus disertai dengan tanggungjawab penuh kepada masyarakat dengan menyuplai serta mencukupi persediaan dan kebutuhan makanan selama masa lockdown 14 hari.

Sungguh hanya dengan penerapan syariat Islam nyawa manusia akan terjaga, jangankan nyawa banyak orang nyawa seorang hambapun sangat berharga dimata Allah SWT.

Oleh karena itu kini sudah saatnya kita kembali pada aturan islam yang terbukti mampu memberikan solusi yang tepat tanpa menambah beban masalah baru. Sebab Islam solusi tuntas atasi problematika umat khususnya dalam menangani wabah yang tak pernah tahu kapan berakhirnya, islam juga mampu memberantas wabah sampai keakar akarnya.

Lalu tidakkah kita rindu dengan sistem pemerintahan Islam (khilafah). Tentunya kita semua pasti akan rindu dengan sistem yang mampu memberikan rasa keamanan, perlindungan serta kesejahteraan dan semua itu hanya didapat dalam sistem pemerintahan Islam.

Wallahu A'lam bishowabh.