Selasa, 12 Januari 2021
Ferdina kurniawati
Sejak kemunculannya di akhir tahun 2019, virus corona masih menjadi perbincangan paling hangat di seluruh dunia. Dari keseluruhan korban virus corona, lansia merupakan yang paling banyak.
Meski demikian, bukan berarti anak muda kebal terhadap virus ini. Di Indonesia khususnya Balikpapan jumlah anak yang terinfeksi virus covid 19 semakin meningkat.

Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Balikpapan Andi Sri Juliarty saat pers rilis update harian kasus Covid-19 Balikpapan, Rabu (22/12) sore di halaman Pemkot Balikpapan.
“Yang menonjol kasus anak. Berusia di bawah 10 tahun dalam kurun waktu 14 hingga 22 Desember 2020 ada 24 kasus positif. Semuanya berasal dari cluster keluarga,” katanya kepada wartawan.
Sementara untuk kasus positif anak berusia 10-18 tahun sebanyak 11 kasus, dan usia muda 19-25 tahun 28 kasus.
“Peningkatan kasus pada usia anak ini jadi perhatian dalam dua minggu terakhir,”ungkapnya.
Di awal pandemi Covid-19, anak-anak disebut sebagai kelompok usia yang relatif tidak rentan terkena virus corona ini.
Namun pada kenyataannya justru sebagian dari pasien covid 19 ini adalah anak anak. Ini membuktikan bahwa covid 19 tidak memilih milih siapa korbannya.
Fakta bahwa tingkat penularan virus corona pada anak-anak di Indonesia tergolong cukup tinggi sehingga harus membuat orangtua waspada. Kebijakan pemerintah mengatasi wabah saat ini pun belum efektif menahan lonjakan kasus pasien positif covid 19.
Presiden mengeluarkan Keppres Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona (Covid-19).
Pembentukan gugus tugas ini dalam rangka menangani penyebaran virus corona Covid-19 di Indonesia.
Salah satunya new normal life, mengajak masyarakat untuk dapat hidup berdamai dengan Covid-19.
Masyarakat dipaksa tinggal di rumah (stay at home), Bekerja, sekolah, hingga beribadah juga harus dilakukan di rumah. Terkecuali bagi mereka yang memang harus beraktivitas di luar rumah dengan menerapkan protokol kesehatan di lapangan, seperti penggunaan masker hingga menghindari kerumunan.
Namun angka positif Covid-19 di Indonesia masih membumbung tinggi. Angka penambahan pasien positif masih pada kisaran ratusan perharinya.
Meningkatnya kasus covid 19 ini, bukti bahwa negara gagal melindungi kesehatan setiap individu rakyatnya terlebih lagi anak, sehingga menimbulkan banyak dampak bagi anak. Tak hanya itu wabah covid 19 ini telah merenggut hak anak untuk bisa bebas belajar dan bermain di usianya yang belia.
Mereka terpaksa putus sekolah demi membantu ekonomi keluarga. Apalagi hari ini kita berada dalam sistem demokrasi sekuler, di mana negara memang berlepas tangan terhadap permasalahan rakyatnya. Rakyat dibiarkan menyelesaikan sendiri permasalahan yang menimpanya.
Kebijakan demokrasi yang diterapkan dari akal manusia yang lemah ini lah yang membuat anak dan generasi menjadi korban dari covid 19.
Mereka harus menanggung beban yg tidak seharusnya dibebankan kepada mereka seperti bekerja. Harus diakui, kegagalan demokrasi menangani pandemi Covid-19 telah mengakibatkan berbagai persoalan serius pada berbagai aspek kehidupan, termasuk sistem kesehatan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kesehatan berkualitas membutuhkan biaya yang tinggi di sistem ini. Hak anak mendapatkan kesehatan pun secara tidak langsung diserahkan kepada keluarga sedangkan keluarga sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari hari akibat terdampak pandemi.
Negara seolah berlepas tangan dari periayahannya. Ini semua karena demokrasi menganut asas kebebasan individu dimana kepentingan individu di atas segalanya. Tak heran mereka menyerahkan pembiayaan kesehatan berkualitas yang mahal kepada rakyatnya hanya untuk memenuhi kantong kantong para kapital. Wajar jika uang lebih berharga dari nyawa.
Karena dalam kapitalisme uang adalah segalanya. Untuk itulah pandemi ini butuh solusi yang benar benar bisa menyelesaikan sampai akarnya yaitu kapitalisme.
Dalam islam, kesehatan adalah kewajiban dan tanggung jawab negara yang harus dijamin bagi rakyatnya. Keselamatan dan kesehatan warga negara menjadi perkara yang diutamakan terlebih lagi anak dan generasi ketimbang perkara ekonomi atau yang lainnya.
Islam sebagai satu satunya aturan yang benar berasal dari al khaliq, dalam penyelesaiannya punya solusi yang komprehensif dan sentralisasi.
salah satunya islam punya tujuan pokok penanggulangan pandemi dalam waktu singkat Yaitu menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar areal terjangkiti wabah dan memutus rantai penularan secara efektif, yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian.
Sebagaimana dalam hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa "nyawa seorang muslim lebih utama dari pada dunia dan seisinya." Pemikiran inilah yang dimiliki oleh negara islam dalam menjalankan sistem kesehatan, bukan pemikiran bisnis atau yang lainnya.
Pandemi memang telanjur sangat parah, namun tidak ada istilah terlambat untuk melakukan yang baik. Semua konsep sahih Islam hanya serasi dengan metode pelaksanaannya menurut Islam, yakni negara Khilafah.
Sungguh, tidak ada jalan lain bagi penyelesaian persoalan bangsa ini, khususnya pandemi dengan berbagai persoalan yang menyertainya, kecuali dengan kembali pada pangkuan kehidupan Islam kaffah yaitu Khilafah Islamiyah.
Sudah saatnya penguasa dan kaum muslim saat ini membuang jauh sikap antikhilafah, baik kepada para pejuangnya. Karena negeri ini hanya akan sejahtera di bawah naungan Khilafah. (**)