Menelisik Paham Kebebasan Berpikir

Rabu, 4 November 2020

DASIH WIDOWATI 

Pengamat Sosial Agama

Presiden Perancis telah melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhamad Saw, dan melukai hati dua milyar Masyarakat Muslim Dunia.

Dia mengatakan tidak akan menghentikan penerbitan kartun Nabi Muhamad, karena itu adalah bagian kebebasan berekspresi warga negara.

Pertama kali, kartun karya satire Cherly Hebdo diterbitkan tahun 2006 oleh majalah Denmark Jyllands-Posten, telah memicu gelombang protes luar biasa.

Berikutnya di awal tahun 2020, Perancis dengan sengaja melakukan penerbitan ulang, secara besar- besaran.

Dilansir dari Republika.Com, Emmanuel Macron telah menuding Islam dan komunitas gerakan Islam sebagai gerakan separatis yang menginginkan masa depan kita.

Sebuah kejadian tragis, ketika seorang Guru Sejarah Samuel Paty menunjukkan berbagai karikatur Nabi Muhamad di depan kelas.

Seorang pemuda berketurunan Chechnya, dengan serta merta memenggal kepalanya. Dalam pidato menjelang pemakaman jenazah, Macron bersumpah bahwa, "Prancis tidak akan menghentikan kartun (karikatur Nabi) dan menyebut Sang Guru dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kita."

Merespon tindakan Macron yang semakin brutal, negara negara Islam Timur Tengah, seperti Arab, Qatar, kuwait, Turki, Maroko bergabung melakukan pengecaman dan boikot produk Perancis.

Termasuk menyerukan kepada Uni Eropa agar menghentikan agenda permusuhan terhadap Islam, Kompas.com (29/10/20).

Tidak ketinggalan Kementerian Luar Negeri ikut memanggil Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Olivier Chambard meski akhirnya belum memberikan respon atas kecaman tersebut.

Menteri Polhukam Prof. Mahfud MD, menilai Macron telah gagal paham dalam memahami agama terbesar masyarakat dunia, Detiknew.com, (27/10/20 ).

Ulama tersohor, Ustaz Abdul Somad ikut bereaksi atas pernyataan Macron.

Beliau mengunggah postingannya dalam Journal Al Azhar di Instagramnya dengan judul: Al-Azhar Tegas Tolak Negosiasi Perancis.

Beliau menyertakan kutipan Syaikh Ali Junnah, "orang yang menggambar dan menistakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, adalah orang dungu anaknya orang dungu dan orang tuanya telah gagal mendidiknya."

Asas Kebebasan Perancis Sebuah Revolusi Besar yang terjadi di Perancis, telah merubah tatanan pemerintahan dari sistem kerajaan menjadi republik.

Ini terjadi abad ke-18 saat mana kondisi masyarakat Perancis benar- benar parah. Kaum Borjuis menganggap kelompok Bangsawan dan Gereja telah semena- mena sehingga berjuang menggantikan kedudukan mereka, dalam tampuk ekonomi dan pemerintahan.

Revolusi Perancis, memiliki tiga prinsip yang dijadikan sebagai semboyan perjuangan, yaitu : liberte (kebebasan), egalite ( persamaan), fratenite (persaudaraan) Paham-paham tersebut di atas, muncul setelah adanya gerakan renaissance dan humanisme, dengan tokohnya yang paling terkenal Montesque dan Voltaire.

Mereka menghimpun sebuah gerakan yang berprinsip pendewaan terhadap akal manusia. Segala sesuatu yang tidak masuk akal, tidak dapat dibenarkan.

Padahal jika ditelaah, akal manusia memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan. Prinsip persamaan, kebebasan, dan persaudaraan yang mereka gaungkan terbukti selalu menyebabkan konflik dan kegoncangan di tengah kehidupan umat yang lainnya.

Ini wajar, karena bertumpu pada sesuatu yang serba tidak pasti, senantiasa berubah mengikuti pandangan akal, ada tidaknya maslahat di dalamnya.

Lebih jauh Perancis beranggapan, kemerdekaan adalah tercapainya kebebasan itu sendiri. Memperjuangkan kebebasan sama artinya mempertahankan kemerdekaan Perancis.

Tidak ada alasan untuk menyerah, kecuali berakibat menghancurkan idealisme Bangsa nya sendiri. Sungguh sangat naif dan hina, apabila ide kebebasan tanpa batas ini berkembang pesat tanpa kendali.

Semboyan dan asas batil telah memberikan semangat bagi pembentukan hak asasi manusia. Di İndonesia, diadopsi dalam dalam Pemerintahan menganut konsep Trias Politika, ala Montesque. Meski sudah jelas cacat, masih saja diakui.

Ditingkat Dunia, tranformasi pemikiran ini telah diratifikasi oleh PBB, sejak tanggal 10 November 1948 dan dikenal sebagai hari lahirnya paham demokrasi dunia.

Islam, Risalah Nabi Yang Sempurna Konsep İslam berbeda jauh dengan Montesque. Islam merupakan ajaran sempurna yang bersumber dari Al Khaliq.

Dikatakan sempurna, karena İslam bukan sekedar konsep iman, tapi sekaligus memiliki aturan- aturan berupa syariat yang menjangkau semua persoalan manusia. Terbukti shahih, karena bersandar kepada wahyu, yang bersifat pasti sumber dalilnya. İslam diturunkan kepada manusia di dunia, melalui risalah yang diemban oleh Rasulullah Saw.

Beliau semata- mata hanya menerima dari Malaikat Jibril, dan menyampaikan ke tengah -tengah umat nya. Sebagaimana tercantum dalam surat An Najm ayat 3-4,

وماينطق عنالهى ان هو الاوحي يوح نطِقُ عَنِ ٱلْهَوى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Allah memberikan kita nikmat akal, untuk memahami perintah dan laranganNya. Bukan sebagai modal untuk berlaku sombong, menciptakan hukum/ aturan sendiri. Dia lah Yang Paling Tahu, urusan hambaNya.

Sehingga tidak diragukan lagi, aturanNya bersifat shahih, sesuai fitrah, dan membawa ketenangan. Berdasarkan uraian di atas, perbuatan menghina Nabi Muhamad Saw, jelas merupakan kesalahan besar dan pelakunya harus diberikan sanksi.

Menurut Qodhi İyadh, dalam kitab Ta,' rif Huquq Al Musthofa karangan Al Basyiir Al Mustofa (hal 760-884) hukum bagi penghina Nabi adalah dibunuh.

Jika pelakunya individu saja cukup menerapkan sanksi uqubat berupa ta'zir. Jika pelakunya adalah peguasa/ negara maka harus dipeangi, jihad fii sabiillah. Kecaman maupun boikot , hanya berefek jera sesaat.

Maka, agar sanksi İslam tegak diperlukan peran Khalifah yang memang memiliki kewenangan terhadap hal tersebut. Tanpa Khalifah, banyak kedzaliman yang belum mendapat sanksi sebagaimana mestinya. Waallahu 'alam. (**)

Editor: Ahmad Yani