Self Love, Apakah Bentuk Egoisme ?

Selasa, 20 Oktober 2020

Aini Musthofiyah, Mahasiswa IAIN Samarinda

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa, mencintai diri sendiri (Self love) sangatlah diperlukan guna meningkatkan kualitas hidup.

Namun, untuk beberapa orang, mencintai diri sendiri bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk mereka yang pernah mendapatkan komentar negatif dari orang lain mengenai dirinya.

Komentar negatif inilah yang mendorong seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Sehingga tidak jarang perasaan tidak percaya diri, tidak pantas memperoleh hal yang diinginkan bahkan perasaan rendah diri karena kekurangan yang dimiliki kerap kali menghantui.

Perasaan-perasaan negatif inilah yang akan mendorong seseorang untuk memberikan sugesti negatif untuk dirinya sendiri. Jika hal ini terjadi dalam rentang waktu yang lama, maka hal ini adalah tindakan yang dapat melukai diri sendiri, dan bahkan pada sebagian orang berakhir dengan bunuh diri.

Mencintai diri sendiri (self love) adalah jalan agar dapat berdamai dengan diri sendiri, kita tidak hanya dapat menerima kelebihan diri.

Namun, kita juga dapat menerima kekurangan diri seperti kita menerima kelebihan diri kita, sehingga kita akan lebih mudah untuk bersyukur dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita sekarang.

Self love merupakan bentuk penerimaan diri secara untuk tanpa syarat. Mencintai diri sendiri akan membawa banyak manfaat untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang.

Seperti yang kita tahu, self love, tidak berarti hanya memelihara fisik saja, lebih dari itu, self love melibatkan beberapa aspek, yakni menghargai diri sendiri, menyadari diri sendiri, peduli kepada diri sendiri serta percaya diri.

Self love, tidak bisa didapatkan secara instan, namun harus melalui sebuah proses panjang penuh dengan kesadaran guna memenuhi beberapa aspek tersebut.

Adakalanya dalam menjalani kehidupan, seorang individu dituntut untuk memenuhi target-target dari lingkungan maupun dari individu itu sendiri, sehingga tidak jarang seorang individu tenggelam dalam aktivitasnya dan melupakan dirinya.

Perlu kita ketahui bahwa diri kitapun berhak untuk mendapat kedamaian, kebahagiaan, dan juga rasa aman.

Demikianlah self love sangatlah penting dimiliki individu, guna menjalani hidup dengan seimbang. Mungkin ada diantara kita yang menganggap bahwa mencintai orang lain adalah kebajikan namun mencintai diri sendiri adalah sebuah egoisme.

Namun, apakah benar demikian? Atau mungkin ada diantara kita belum bisa membedakan antara cinta diri dan egois. Erich Fromm seorang tokoh Psikologi Psikoanalisa menjelaskan konsep cinta diri dengan sangat menarik.

Menurut Erich fromm, cinta diri bukanlah suatu kesalahan. Jika mencintai sesama manusia adalah suatu bentuk kebaikan, maka mencintai diri sendiripun merupakan bentuk kebaikan, karena tidak ada konsep manusia yang menyatakan kita bukan termasuk didalamnya.

Cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain bukanlah sebuah pilihan, namun keduanya saling terkait.

Tidak hanya orang lain, diri kita sendiripun merupakan objek, objek dari perasaan dan sikap kita, sikap kita terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.

Berdasarkan keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap mencintai diri sendiri akan ditemukan pada mereka yang mampu mencintai orang lain. Pada intinya sikap mencintai diri sendiri dan orang lain tidak dapat dipisahkan.

Hal ini selaras dengan pendapat William James, yang mana orang mencintai keluarganya tapi tanpa mencintai “orang asing” merupakan tanda ketidakmampuan untuk mencintai.

Mencintai adalah bentuk aktualisasi diri dan pemusatan kekuatan cinta. Kembali pada teori cinta Erich Fromm, maka kita harus mencintai diri sendiri seperti kita mencintai orang lain. Afirmasi atas hidup, kebahagiaan, perkembangan, kebebasan, berakar dari kapasitas mencintai.

Jika seorang individu mampu mencintai secara produktif, berarti dia juga mencintai dirinya sendiri. Namun, jika dia hanya mampu mencintai orang lain, maka dia sama sekali tidak bisa mencintai. Jika cinta pada diri sendiri dan pada orang lain saling berkaitan, maka tentulah hal ini sangat berbeda dengan egoisme.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) egoisme merupakan tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain. Orang egois hanya menginginkan segalanya untuk dirinya sendiri, hanya tertarik pada dirinya sendiri, tak senang memberi, hanya senang jika menerima.

Segala yang dilakukannya hanya berdasarkan apa yang bisa diperolehnya, tidak menghormati martabat dan integritas orang lain, dia tidak tertarik pada kebutuhan orang lain.

Orang egois hanya memandang dari keuntungan dirinya, dia tidak memandang apapun kecuali dirinya.

Orang egois sungguh tidak dapat mencintai. Menurut Fromm egoisme dan cinta diri tidaklah sama, keduanya sangat bertolak belakang.

Orang egois tampak berlebihan dalam memperdulikan dirinya, namun sesungguhnya dia hanya berusaha menutupi dengan sia-sia kegagalan dalam memperdulikan dirinya yang berusaha ditebusnya.

Kurangnya rasa cinta dan kepedulian kepada diri sendiri, merupakan salah satu ekspresi kurangnya produktifitas, yang membuat orang egois hampa dan frustasi.

Sesungguhnya orang egois bukanlah orang yang mencintai dirinya secara berlebihan, jika mengutip dari teori cinta Erich Fromm, adalah benar bahwa orang egois tidak mampu mencintai orang lain, namun mereka juga tidak mampu mencintai diri mereka sendiri.

Mencintai diri sendiri bukanlah bentuk egoisme, cinta diri merupakan bentuk aktualisasi diri. Mencintai diri dan mencintai orang lain keduanya sangatlah berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, lalu bagaimana kita menjelaskan egoisme ? yang secara terang tidak peduli kepada orang lain.

Mengutip pendapat dari Meister Eckhart, “Jika kamu mencintai dirimu, kamu akan mencintai orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Selama kamu mencintai orang lain kurang dari mencintai dirimu, maka kamu tidak akan benar-benar berhasil mencintai dirimu sendiri.

Tetapi, jika kamu mencintai semua sama, termasuk dirimu, kamu akan mencintai mereka sebagai satu sosok dan sosok itu adalah Tuhan dan manusia.

Dengan demikian, dia adalah orang yang paling hebat dan bijak yang dappat mencintai dirinya dan mencintai sesamanya dengan setara."

Editor: Ahmad Yani