Senin, 14 September 2020
Oleh : Ade Farkah
Gelaran pilkada serentak 2020 tinggal beberapa bulan lagi. Berbagai skenario telah disiapkan. Para peserta mulai mendaftarkan diri ke KPU setempat.

Seperti dilakukan oleh pasangan Nina Agustina Da'i Bachtiar - Lucky Hakim yang resmi mendaftarkan diri dalam kontes pilkada kabupaten Indramayu (ayobandung.com, 4/9/20).
Seperti diketahui, bahwa Nina Agustina merupakan putri dari bapak Da'i Bachtiar mantan Kapolri (2001 - 2005).
Sedangkan Lucky Hakim adalah selebriti kondang yang mengklaim dirinya sebagai putra daerah. Karenanya, Lucky merasa terpanggil untuk berlaga dalam pilkada demi memajukan Indramayu.
Isu kedaerahan memang hal yang sensitif untuk diangkat. Mudah untuk menarik simpati masyarakat. Maka, tak heran jika embel-embel sebagai putra daerah sering kali disematkan menjelang pemilihan.
Selain itu, pasangan Nina - Lucky (Nicky) merupakan kandidat yang memiliki modal dasar berupa popularitas. Pasalnya, nama besar orang tua tersemat dibelakang nama Nina. Sedangkan Lucky Hakim adalah seorang selebriti.
Sebagaimana disampaikan oleh pengamat komunikasi politik UNIKOM, Adiyana Slamet dalam galamedia.com (5/8/2020) bahwa selebriti memiliki modal dasar untuk meraih kemenangan lantaran popularitasnya.
Begitulah skenario menjelang Pilkada. Apapun caranya yang pasti harus menang. Para donatur politik jelas terlibat didalamnya. Inilah fakta yang selalu mengiringi pemilihan pemimpin dalam sistem demokrasi.
Pemimpin dipilih berdasarkan suara terbanyak. Meski tak selalu mewakili suara rakyat yang sebenarnya. Money politik hingga dugaan KKN kerap mewarnai ajang pemilihan kepala daerah.
Sebagaimana fakta yang dibeberkan oleh KPK, bahwa sebanyak 300 kepala daerah terjerat kasus korupsi (kompas.com, 7/8/20) sebagai akibat diberlakukannya Pilkada serentak ditahun 2005.
Hal ini jelas menunjukkan buruknya kualitas pemimpin yang dihasilkan dari sistem demokrasi. Kesejahteraan rakyat hanyalah jargon tanpa realisasi.
Lalu, adakah sistem yang mampu menghasilkan pemimpin berkualitas dan memiliki integritas yang tinggi? Di sinilah perlu kiranya ada perubahan paradigma berfikir jika ingin mengakhiri sistem bobrok kapitalis-demokrasi.
Menuju perubahan hakiki yang akan memberikan perubahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistem Islam sebagai Solusi. Berbeda dengan sistem demokrasi. sistem Islam diturunkan Allah SWT tidak sebagai agama, namun sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan.
Sejarah mencatat bagaimana pemilihan kepemimpinan Islam. Pemimpin yang terpilih takwa, amanah dan memprioritaskan rakyat. Siapa yang tak mengenal khalifah Umar Bin Khattab ra. yang rela berkeliling kampung di malam hari demi memastikan keadaan rakyatnya.
Umar rela memanggul sekarung gandum seorang diri untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan.
Demikian pula, kisah khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang mampu mensejahterakan rakyatnya hingga tidak ada seorangpun yang menjadi mustahik zakat. Hal itu membuktikan bahwa, kesejahteraan rakyat benar-benar telah diwujudkannya.
Kualitas pemimpin yang demikian, jelas merupakan buah kesempurnaan suatu sistem. Sistem yang mampu menempa manusia menjadi insan yang memiliki kepribadian yang luhur.
Integritas dan loyalitas yang tinggi, semata-mata demi menunaikan misi untuk memakmurkan bumi.
Editor: Ahmad Yani