Hari Keluarga dan Hari Anak: Sudahkah Anak Benar-Benar Terlindungi?

Penulis: Martinah, S.Pd.

Peringatan Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum untuk kembali bertanya: sudahkah anak-anak kita benar-benar terlindungi? Tema “Ayah Wajib Hadir” dan “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” mengingatkan pentingnya keluarga dalam tumbuh kembang anak.

Namun, berbagai kasus kekerasan, pelecehan, perundungan, eksploitasi, hingga ancaman di ruang digital menunjukkan bahwa perlindungan anak masih menjadi persoalan serius. Kehadiran ayah tentu penting, tetapi perlindungan anak tidak cukup dibebankan kepada keluarga.

Kondisi ekonomi, lingkungan sosial, pendidikan, perkembangan teknologi, dan lemahnya perlindungan terhadap korban turut memengaruhi kehidupan anak. Karena itu, keluarga, masyarakat, dan negara harus menjalankan perannya secara bersama.

Dalam pandangan Islam kaffah, anak adalah amanah dari Allah SWT yang wajib dijaga. Orang tua bertanggung jawab memberikan nafkah, kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan yang membentuk kepribadian Islam.

Anak tidak cukup hanya dibekali kecerdasan akademik, tetapi juga akidah, akhlak, tanggung jawab, dan kemampuan membedakan yang benar dan salah. Islam juga menempatkan masyarakat dan negara sebagai bagian penting dalam perlindungan anak.

Masyarakat harus membangun kepedulian dan mencegah kemungkaran, sementara negara berkewajiban menjamin keamanan, pendidikan, kesejahteraan, serta memberikan perlindungan dan keadilan ketika terjadi kekerasan terhadap anak. Karena itu, Harganas dan HAN jangan berhenti pada seremoni dan slogan.

Momentum ini harus menjadi evaluasi dan dorongan untuk menghadirkan perubahan nyata. Menjaga anak berarti menjaga amanah Allah SWT.

Ketika keluarga, masyarakat, dan negara menjalankan tanggung jawabnya berdasarkan nilai-nilai Islam, insyaallah akan lahir generasi yang aman, berakhlak, berilmu, bertakwa, dan siap membangun masa depan.