Ayah, Yang Kulakukan Ini Apa Sudah Benar?

Penulis: Dwi Nanda

Suatu ketika, kamu melihat temanmu menangis keras di kamar. Bukan karena dia kehilangan sosok berharga, tapi karena dia harus jauh untuk sementara waktu dengan ayahnya.

Lain hari kamu melihat temanmu berwajah dingin, ekspresinya biasa saja saat ayahnya, orang yang selama ini menafkahinya telah pergi selama-lamanya. Kamu tanya kenapa pada teman yang lain.

Mereka jawab, "Dia gak Deket sama ayahnya, jadi ada atau enggak sama aja." Melihat dua kondisi tadi kamu jadi bingung, mengapa yang satu bisa merasa begitu kehilangan padahal hanya berpisah sementara, sementara yang satu bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa? [Ayah, Cinta Pertama Anak Perempuannya dan Pahlawan Pertama Anak Lelakinya]

Tahun 2018 ke atas, istilah "ayah adalah cinta pertama anak perempuannya", membanjiri quote-quote sosial media. Tentu saja ini bukan tanpa alasan. Secara ilmiah dan psikologi, standar seorang pria (ayah) yang memperlakukan anak perempuannya juga istrinya adalah alasan mengapa ia didambakan.

Ayah adalah sosok yang mau mendengar curhatnyaz lembut perkataannya dan memberi rasa aman di saat fisiknya terlihat kekar dan kuat.

Di saat yang sama, ayah juga menjadi pahlawan pertama anak lelakinya sebelum ia mengenal pahlawan-pahlawan super di komik dan televisi. Itu karena ayah menunjukkan perilaku langsung seperti menolong nenek menyebrang jalan, berkata yang sopan pada orang tua, juga tidak segan membantu di rumah meski sudah sibuk di luar.

Ayah menanamkan model maskulinitas yang sehat, di mana ia tidak hanya mengajar cara mengelola fisik yang sehat dan bugar, tapi juga pengelolaan emosi dan menajemen diri. Serta pemberian legitimasi yang baik untuk membangun kepercayaan diri anak.

Anak perempuan merindukan cinta pertamanya, anak lelaki merindukan pahlawannya. Namun krisis fatherless kadang membuat mereka tak merasakannya demikian. [Fatherless,

Di Mana Ayahku?]

Di media sosial sempat berkembang topik hangat, deep dan cukup sensitif tentang keluarga. Tentang sosok ayah di hidup mereka. Tak jarang mereka sebenarnya memiliki keluarga lengkap, ada ayah ada ibu, namun rumah terasa kosong saat pulang.

Selayaknya dua sosok itu hanya penyandang status orang tua di bumi. Tidak diperhitungkan keberadaannya. Fatherless atau secara bahasa artinya "tanpa ayah" atau "tidak punya ayah" bukan menggambarkan kalau ayahnya sudah tidak ada di dunia.

Tidak. Ayahnya ada. Namun dia tidak menganggapnya ada. Ini adalah pukulan besar bagi anak, dia pun sebenarnya tidak ingin kehilangan sosok itu, tapi dia pun tidak sadar sejak kapan tembok itu seakan memisahkannya secara alami dengan ayahnya sendiri.

Tidak ada anak yang ingin mengalaminya. Begitu masuk rumah dia tidak bersenda gurau dengan ayah, tapi langsung masuk kamar dan menutup diri. Di samping ayah sendiri menutup wajah dengan ponsel, laptop atau koran. Jangan sampai ada pernyataan "ayah?

Aku bisa hidup sendiri kok tanpa ayah". [Kenapa Harus Ayah?] Sering kita mendengar istilah "ibu adalah madrasah pertama", di mana peran ibu seakan dilambungkan tinggi, seakan semua beban kependidikan anak ditaruh di pundaknya. Padahal tidak sama sekali.

Sebagaimana Allah menciptakan makhluk berpasangan bukan tanpa alasan, maka saat mereka punya anak pun bukan tanpa alasan. Jika hari ini kamu merasa fatherless, maka ingat.

Kamu harus meminta kelapangan hati pada Allah untuk bisa memaafkan. Entah apapun alasannya, kita tidak akan pernah bergerak jika kaki dan hati masih tertahan oleh bayang-bayang kelam masa lalu atas ketidakhadiran sosok ayah dalam hidup.

Setelah ingat satu hal, kamu tidak bisa membuat anakmu, atau generasi ke depan sama seperti ayahmu dulu. Karena di sini ada peran ayah. Peran yang tak kalah urgent dari peran ibu sebagai madrasah pertama.

Karena bagaimanapun, kapal yang baik tidak dikayuh seorang diri. Pada dasarnya, tugas ayah bukan sekedar mencari nafkah. Para ayah terlalu fokus pada ayat tentang kewajiban mencari nafkah. Sampai lupa ada ayat lain yang membuatnha tetap bertanggung jawab dengan urusan rumah.

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (TQS at-Tahrim: 6)

Juga hadits riwayat Bukhari: " ... Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka ..."

Mandat agung ini ditaruh di bahu para suami, para ayah agar ia tidak mencukupkan diri dengan mentransfer sejumlah uang ke rekening ibu dan anaknya, tapi juga bertanggung jawab langsung terhadap adab, moral dan perilakunya. Percaya atau tidak.

Anak-anak sekarang kurang memahami istilah aqil baligh. Sehingga mereka kebanyakan sudah baligh duluan namun pikirannya belum matang. Tidak adanya sosok ayah membuat dia sulit untuk menentukan mana yang boleh dan tidak, mana yang benar dan salah, mana yang haram dan halal.

Maka jangan heran jika banyak kita temukan kasus perzinaan, atau narkoba atau judi online atau kelainan orientasi seksual. Itu karena sosok ayah memang tidak hadir dalam perkembangan anak sebelum mencapai usia Aqil baligh.

Ya Bunayya

Luka itu harus dibasuh, dan basuhan terbaik selain memaafkan adalah dengan pendidikan. Camkan diri bahwa anakmu nanti tidak akan hilang pengawasan atau nantinya kamu tidak dianggap.

Menyebut tugas ayah hanya sebagai "pencari nafkah" adalah istilah sempit yang merusak generasi. Jika kita rindu melihat generasi tangguh, maka lihatlah bagaimana teladan terbaik di berikan Luqman kepada anaknya.

Dia tidak memanggil dengan namanya, tapi dengan sebutan sayang. Luqman mengajarkan hal paling mendasar dalam sosial manusia adalah berkomunikasi menggunakan kata "Ya Bunayya".

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ “

Artinya: “Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar.” (QS. Luqman: 17)

Ini bukan sekedar kata. Dalam bahasa arab ini adalah bentuk tashgir (pengecilan untuk kasih sayang) (kursuskuba.com/blog/artikel-1/panggilan-ya-abati-dan-ya-bunayya-28).

Maknanya secara mendalam adalah "anakku, yang kecil dan kusayang". Hal ini menunjukkan keindahan bahasa Arab dalam bentuk panggilan yang istimewa ketimbang menyebut nama langsung.

Menyebut nama langsung semisal, "Anto sini!" Terkenal formal dan seakan berkata dari bis ke bawahan, hingga jarang memunculkan rasa kedekatan. Beliau mengajarkan bahwa interaksi anak dan ayah seharusnya bukan interaksi yang kaku dan mengendapkan ego.

Melainkan interaksi hangat yang penuh perhatian, berpikir dan filosofis. Komunikasi yang baik tentang penanaman tsaqofah Islam, berupa pola pikir dan pola sikap Islam yang sesuai perintah dan larangan, akan membuat anak tidak ragu untuk memilih jalan.

Ayah, Ayo Pulang

Ruang aman itu harus dikembalikan. Rumah kosong itu harus diramaikan kembali dengan ilmu dan hikmah. Para ayah, ada anakmu yang menunggumu sekedar duduk membuka telinga untuk mendengar curhatnya, ada mereka yang berdiri di persimpangan jalan, pada pilihan sulit yang membutuhkan arahan.

Kini pilihannya ada di tangan para ayah, para calon ayah dan ayah yang masih mau belajar: apakah sanggup membiarkan darah daging sendiri bersikap dingin layaknya orang asing.

Atau engaku ingin menempanya jadi pribadi luhur yang mengharumkan nama agama dan bangsa? Wallahu 'alam bishawaab.