Krisis Guru, Mutu SDM Dipertanyakan

Oleh: Lenny Ummu Najid

(Aktivis & Pemerhati Masyarakat)

Kabupaten Paser tengah menghadapi krisis tenaga pendidik yang mengancam kelancaran proses belajar mengajar di sejumlah sekolah.

Disdikbud Kab Paser resmi mengajukan tambahan 250 guru melalui skema Pegawai Jasa Layanan Perorangan (PJLP) untuk mengatasi kekurangan sekitar 300 tenaga pengajar yang tersebar hampir merata di seluruh kecamatan.

Defisit ini mencakup berbagai jenjang pendidikan dan menjadi tantangan serius bagi efektivitas belajar di kelas. Meskipun PJLP dianggap solusi cepat, implementasinya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran daerah sehingga menghadapi tekanan tambahan dari kebijakan efisiensi anggaran dan pemangkasan Transfer Pusat ke Daerah (TKD).

Meskipun 250 guru PJLP diusulkan, jumlah ini masih belum sepenuhnya menutupi kebutuhan. Sebagai langkah jangka panjang, Disdikbud berharap proses seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) formasi guru dapat segera direalisasikan. 

Kalau ditelusuri lebih dalam masalah ini bukan hanya "kurang guru". Ini bom waktu struktural yang kalau dibiarkan akan melumpuhkan mutu SDM di Paser.

Tak hanya Paser, krisis guru juga terjadi di beberapa wilayah besar di Kaltim, seperti Kota Samarinda dan Balikpapan. Selain Kaltim, beberapa wilayah di Indonesia pun senasib bahkan kekurangan siswa.

Beberapa penyebabnya adalah jumlah anak usia sekolah yang makin minim di sekitarnya (karena pertumbuhan penduduk menurun, generasi menua, dan urbanisasi). Dengan banyaknya wilayah yang kurang guru setidaknya gambaran krisis tata kelola terlihat.

Pemerintah tidak memprioritaskan pendidikan sehingga keberadaan guru pun terpinggirkan. Andai ada alokasi penempatan yang terjadi peta kebutuhan guru terhadap penempatan tidak ketemu.

Paser penyangga IKN. Gaji UMR Kaltim 3.2 juta + proyek. Bandingkan dengan guru honorer. Anak muda lulusan FKIP lebih milih kerja di IKN atau yang lebih menjanjikan.

Kehidupan Kapitalisme sekuler saat ini membuat status guru rendah tak dihargai, dianggap sekedar kerja di bidang jasa tak lagi mulia. Sekolah kehilangan "regenerasi guru."

Krisis guru di Paser adalah krisis kepemimpinan dan keberanian mengambil keputusan. Bukan tidak ada uang dan orang dari negara tapi sistem tata kelola yang salah karena menyerahkan kekayaan SDAE bukan untuk rakyat. Sangat berbeda ketika dikelola dengan sistem Islam.

Negara dalam Islam wajib memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat (kebutuhan komunal), sehingga ketersediaan dan kesejahteraan guru merupakan hal prioritas dan maksimalis.

Guru dalam Islam dimuliakan hal ini bisa dilihat dari sistem pendidikan yang bermutu tinggi di masa lalu lahir pribadi-pribadi istimewa yang mampu menjadi pemimpin politik dan pemerintahan serta militer seperti Abu bakar ra, Khalid bin Walid ra, dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Pada saat yang sama lahir pula sosok-sosok yang luar biasa seperti Imam Abu Hanifah dan al-Khuwarizmi yang ahli dalam ilmu Fikih maupun cabang ilmu tsaqofah Islam yang lain.

Dengan demikian mutu SDM akan berkualitas menjadi generasi emas ketika Islam diterapkan dalam kehidupan. Mari perjuangkan Islam agar guru mulia dan generasi emas terwujud. Wallahu'alam.