Fatherless dan Krisis Generasi: Saatnya Pembenahan Sistemik

Penulis: Nurlinda

Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang digencarkan Kemendukbangga/BKKBN Kalimantan Timur menunjukkan adanya kesadaran bahwa peran ayah sangat penting dalam membentuk generasi berkualitas.

Program ini diharapkan mampu menekan fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak tumbuh tanpa keterlibatan optimal seorang ayah dalam pengasuhan dan pendidikan.

Tentu, upaya tersebut patut diapresiasi. Ayah memiliki peran strategis sebagai pemimpin, pelindung, pemberi nafkah, sekaligus pendidik bagi keluarga. Kehadiran ayah yang berkualitas terbukti berpengaruh terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan kesehatan mental anak.

Namun, pertanyaannya, apakah persoalan fatherless dapat diselesaikan hanya dengan program peningkatan peran ayah? Faktanya, berbagai problem yang menimpa generasi hari ini masih terus bermunculan.

Mulai dari krisis akhlak, pergaulan bebas, kekerasan, kecanduan gawai, hingga berbagai gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja. Ini menunjukkan bahwa persoalan generasi tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan sistem kehidupan yang mengelilinginya.

Fenomena fatherless yang semakin meluas sesungguhnya bukan sekadar masalah individu atau keluarga. Banyak ayah yang ingin hadir dan terlibat dalam kehidupan anak-anaknya, tetapi kondisi sistem yang ada justru membuat mereka kesulitan menjalankan peran tersebut secara optimal.

Dalam sistem kapitalisme, negara lebih banyak berperan sebagai regulator, sementara pemenuhan kebutuhan hidup dibebankan kepada individu.

Akibatnya, masyarakat harus berjuang sendiri menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan harga. Biaya pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, listrik, hingga kebutuhan sehari-hari semakin membebani keluarga.

Di sisi lain, berbagai pungutan dan pajak turut mempersempit kemampuan ekonomi masyarakat. Pengelolaan sumber daya alam yang seharusnya dapat menjadi penopang kesejahteraan rakyat justru lebih banyak menguntungkan segelintir pihak.

Akibatnya, banyak keluarga hidup dalam tekanan ekonomi yang tidak ringan. Kondisi ini memaksa banyak ayah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Tidak sedikit yang harus lembur, mengambil pekerjaan tambahan, bekerja di luar kota, bahkan merantau dalam waktu lama demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendampingi anak, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, membangun kedekatan emosional, dan mengawasi tumbuh kembang mereka akhirnya tersita untuk mencari nafkah.

Lebih jauh lagi, tingginya biaya hidup sering kali membuat satu sumber penghasilan tidak lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Akibatnya, banyak ibu juga harus bekerja di luar rumah untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Dalam kondisi seperti ini, anak tidak hanya kehilangan kehadiran ayah, tetapi juga kehilangan pendampingan optimal dari ibu.

Fenomena yang muncul bukan hanya fatherless, tetapi juga motherless. Anak memang masih memiliki kedua orang tua, namun kehilangan kehadiran, perhatian, dan pengasuhan yang seharusnya mereka dapatkan.

Di saat yang sama, budaya kapitalisme turut membentuk cara pandang masyarakat bahwa kesuksesan diukur dari pencapaian materi, karier, dan produktivitas ekonomi. Ayah yang bekerja tanpa mengenal waktu dianggap berhasil, sementara perannya sebagai pendidik generasi sering kali terabaikan.

Akibatnya, hubungan antara orang tua dan anak menjadi semakin renggang, sedangkan peran pendidikan dan pengasuhan perlahan digantikan oleh gawai, media sosial, dan lingkungan pergaulan yang belum tentu baik. Karena itu, fenomena fatherless tidak cukup dipandang sebagai persoalan pengasuhan semata.

Ia merupakan dampak dari persoalan yang lebih besar dan bersifat struktural. Program-program pembinaan keluarga tentu penting, tetapi tidak akan mampu menyelesaikan akar masalah selama sistem yang melahirkan berbagai tekanan terhadap keluarga tetap dipertahankan.

Islam memandang bahwa pembentukan generasi berkualitas membutuhkan dukungan sistem yang menyeluruh. Islam menempatkan ayah sebagai pemimpin dan penanggung jawab keluarga, sementara ibu sebagai pendidik generasi dan mitra terbaik bagi ayah dalam membangun rumah tangga.

Namun, Islam tidak membebankan tanggung jawab tersebut kepada keluarga semata. Negara dalam sistem Islam berfungsi sebagai pengurus urusan rakyat (raa'in) yang bertanggung jawab menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.

Kebijakan ekonomi, pendidikan, sosial, dan media diarahkan untuk menjaga ketahanan keluarga dan mendukung lahirnya generasi terbaik. Rasulullah ﷺ saat menjadi pemimpin memberikan contoh negara dan pemimpin yang hadir dalam mengurus urusan rakyat.

Berbagai sumber pemasukan negara digunakan untuk menjamin kebutuhan masyarakat, membantu fakir miskin, serta menjaga agar kekayaan tidak hanya beredar di kalangan tertentu.

Rasulullah ﷺ juga mengelola zakat, infak, dan sedekah untuk membantu mereka yang membutuhkan serta memastikan tidak ada anggota masyarakat yang terabaikan. Dengan demikian, ayah dapat menjalankan perannya secara optimal tanpa terbebani tekanan ekonomi yang berlebihan, sementara ibu dapat fokus menjalankan tugas utamanya dalam mendidik generasi.

Sebuah keluarga dikatakan memiliki ketahanan ketika kebutuhan fisik, akal, dan naluri seluruh anggotanya terpenuhi dengan baik. Dari keluarga yang kuat inilah lahir generasi yang berkepribadian mulia, berilmu, dan siap menjadi penerus peradaban.

Sejarah panjang peradaban Islam telah membuktikan bahwa lahirnya tokoh-tokoh besar tidak hanya ditopang oleh keluarga yang baik, tetapi juga oleh sistem yang mendukung pembentukan generasi secara menyeluruh.

Karena itu, mewujudkan generasi berkualitas tidak cukup hanya dengan menguatkan peran ayah melalui berbagai program parsial. Yang dibutuhkan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu hadirnya sistem kehidupan yang mendukung terlaksananya fungsi ayah, ibu, masyarakat, dan negara secara harmonis.

Dengan penerapan Islam secara kaffah, akan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh akidahnya, mulia akhlaknya, dan siap menjadi pelopor perubahan bagi umat dan peradaban. Wallahu’alam