Jumat, 29 Mei 2020
Oleh : Bang Omar-Aktivis Malang Raya
New normal atau new normal life adalah wacana yang telah diumumkan presiden Joko Widodo agar masyarakat Indonesia mempunyai pola hidup baru dengan hidup berdampingan virus corona di waktu mendatang.

Berbagai persiapan new normal tengah dilakukan pemerintah meski sejumlah indikator menjelaskan bahwa Indonesia belum siap dan layak untuk memasuki fase tersebut.
Pemerintah mulai memetakan sejumlah daerah yang dianggap sudah siap menerapkan new normal. Dilansir dari cnbcindonesia.com, new normal akan diterapkan pada wilayah Jawa Tengah, Bali, DKI Jakarta, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengungkapkan pemerintah akan selalu melihat perkembangan kesiapan suatu daerah, sebelum menerapkan new normal.
“untuk Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, juga angkanya sudah dibawah 1 dan trendnya sudah menurun. Demikian pula di beberapa daerah di Sulawesi yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, kemudian Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat” katanya dalam cnbcindonesia.com [27/5/2020].
Aturan new normal telah diterbitkan oleh Menteri Kesehatan, Terawan melalui Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.
Aturan ini bertujuan untuk menjadi panduan bagi masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari. Ternyata inilah rupa dari kebijakan-kebijakan plinplan para penguasa, mereka minta rakyatnya hanya berdiam diri di rumah, tapi kebutuhan hidup sangat minim diberikan.
PSBB diterapkan, tapi bandara masih dibebaskan. Mal-mal dibiarkan terbuka tapi rumah ibadah diminta di kosongkan. Kebijakan-kebijakan mudik atau pulang kampung yang membingungkan sehingga lalu lintas orang tak bisa dikendalikan.
Perlu dipahami bahwa ketika pemerintah telah menerapkan suatu wabah sebagai bencana, maka rakyat harus berada di bawah tanggung jawab mereka. Sumber daya yang berlimpah ruah tak mampu untuk menghidupi rakyat yang menderita.
Dilansir dari tribunnews.com Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa pemerintah kita mempunyai uang yang besar untuk membangun Indonesia, “uang banyak sekali di luar. Data di saya ada, di kemenkeu ada. Di situ dihitung ada 11 ribu triliun yang disimpan di luar.
Dikantong saya beda lagi, lebih banyak”, ujar Presiden dalam sosialisasi program pengampunan pajak atau tax amnesty, di JlExpo, Kemayoran, Jakarta [1/8/2016]. 11 ribu triliun yang ada di kantong ditambah dengan sumber daya alam yang ada masih tidak mampu untuk menghidupi rakyat.
Maka tak heran jika berdamai dengan corona menjadi pilihan terbaik bagi para penguasa. Di tengah ke-putusan pemerintah karena tidak mampunya memberi jalan keluar.
Sebenarnya new normal tidak hanya akan diterapkan oleh Indonesia saja, tetapi di negara-negara lain juga akan menerapkan. Kita lihat negara sebesar Amerika yang terkenal dengan negara adidaya pun masih harus menerapkan new normal.
Padahal jumlah korban yang meninggal akibat virus ini lebih dari seratus ribu orang. Dikutip dari tempo.co secara global, virus corona ini telah menginfeksi sekitar 5,6 juta orang dan menewaskan sekitar 350 ribu orang.
Inilah tampilan wajah dari negeri kapitalis, negeri yang termasuk dalam kategori adidaya dan kaya raya pun harus menyelesaikan permasalahan perekonomian, dan mengurusi permasalahan ekonomi lebih penting dibandingkan dengan dengan menyelamatkan nyawa rakyatnya. Begitulah kapitalisme, harga nyawa rakyat lebih murah dibanding dengan harta benda dunia.
Tak jauh beda dengan Indonesia, di saat kurva korban corona meningkat, Indonesia juga telah bersiap untuk menerapkan new normal . dikutip dari tempo.co bahwa korban yang meninggal pada 28 mei 2020 bertambah sebanyak 687 nyawa sehingga kasus positif di Indonesia berjumlah 24.538 dengan 1.496 korban yang meninggal. [28/5/2020].
Bagaimana bisa dengan korban yang terus meningkat kita malah disuruh untuk hidup berdamai dengan corona, akibat dari kalimat “berdamai hidup bersama corona” yang dilontarkan Presiden, Jusuf Kalla (JK) pun angkat bicara menunjukkan ketidaksetujuan dan memberikan komentarnya mengenai statement Presiden Joko Widodo ini.
“Inikan virus ganas dan tidak pilih-pilih siapa. Tidak bisa diajak berdamai, namanya berdamai itu kalau dua-duanya berdamai. Kalau kita yang hanya ingin berdamai tapi virusnya nggak, bagaimana?” detiknews (19/5).
Maka sangat jelas bagi kita, jika new normal ini diberlakukan tanpa dibarengi oleh penyediaan vaksin yang efektif, maka sama saja pemerintah mengaminkan pembantaian massal yang akan dialami rakyat oleh wabah pandemi ini.
Wabah ini memberikan kita pelajaran bahwa kekuasaan yang tidak dilandasi dengan akidah dan syariat Islam hanya akan melahirkan suatu kehancuran.
Tidak adanya keberkahan jikalau perintah Allah tidak diterapkan. Rasulullah dan para Khalifah telah mencontohkan bahwa penerapan Islam telah memberikan kehidupan dan menjamin nyawa para pengikutnya.
Kekuasaan Islam senantiasa menempatkan masalah umat sebagai urusan yang paling utama.
Sehingga harta, nyawa, akal, kehormatan rakyatnya begitu sangat berharga sehingga dijamin oleh negara. Perlakuan yang membelot dan suatu penghianatan adalah pelanggaran terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Karena sistem Islam berasal dari Allah sang pencipta, maka akan memberikan kebaikan bagi alam semesta beserta isinya.(*)
Editor: Ahmad Yani