Ketangguhan Amplang, Jejak Kuliner Kalimantan di Tengah Turbulensi Ekonomi

Kamis 20 November 2025

SANGATTA – Di tengah gelombang tantangan ekonomi yang tak kunjung reda, Amplang, kuliner khas Kutai Timur, menunjukkan jejak ketangguhan yang patut dicermati. Realitas di lapangan memperlihatkan polarisasi nasib; sejumlah kelompok produsen berhasil bertahan dan bahkan terus menggerakkan roda produksi, sementara sebagian lainnya terpaksa mengibarkan bendera putih, berhenti beroperasi setelah berjuang melawan kesulitan. Situasi ini menjadi potret mikro yang gamblang tentang dinamika dan kerapuhan usaha mikro di sektor pangan tradisional Indonesia.

Yusri Yusuf anggota DPRD Kutim

Yusri Yusuf, selaku anggota DPRD Kutim, memaparkan kondisi terkini dengan gamblang. "Amplang itu sudah pernah ada dan masih ada dan ada beberapa kelompok yang sudah mati suri, karena amplang itu kan sempat berkembang sebelum covid, setelah covid mereka tidak berproduksi lagi karena mungkin kehabisan modal atau lemahnya ekonomi ya akhirnya mereka stagnan," ujarnya.

Fenomena pasang surut yang melanda usaha amplang ini menjadi cermin nyata betapa rentannya usaha skala mikro ketika dihantam guncangan ekonomi eksternal. Pada era sebelum pandemi, bisnis ini sempat mencatatkan tren perkembangan yang menjanjikan, ditandai dengan bermunculannya berbagai kelompok produksi baru yang penuh semangat. Namun, badai pandemi yang berkepanjangan memutus momentum tersebut, menyisakan kesulitan yang amat besar bagi banyak pelaku usaha untuk dapat bangkit kembali dari keterpurukan.

Di sisi lain, bagi segelintir kelompok yang berhasil bertahan, kemampuan beradaptasi menjadi senjata utama. Inovasi tidak bisa ditawar-tawar. Beberapa di antaranya mulai membuka mata terhadap potensi platform digital, memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan pemasaran yang sebelumnya hanya mengandalkan pasar konvensional. Strategi transformasi ini ternyata tidak hanya berfungsi sebagai pelampung di masa sulit, tetapi juga berhasil membuka pintu peluang baru untuk menjangkau segmen konsumen di luar wilayah tradisional mereka, bahkan lintas kota dan provinsi.

Menyadari pentingnya menjaga aset kuliner daerah, Pemerintah Daerah melalui dinas terkait terus menggalang upaya pendampingan bagi pelaku usaha amplang yang masih bertahan. Beragam program dirancang, mulai dari pelatihan peningkatan kapasitas produksi dan manajemen usaha hingga bantuan permodalan yang digulirkan untuk memberi napas segar dan membantu mereka bangkit serta mengembangkan usahanya ke skala yang lebih besar. Meski demikian, tantangan terberat tetap mengemuka: bagaimana membangun fondasi ketahanan usaha yang berkelanjutan dan tidak mudah goyah oleh terpaan krisis di masa depan.

Ke depan, jalan menuju pemulihan penuh membutuhkan lebih dari sekadar usaha tambal sulam. Diperlukan strategi yang lebih komprehensif dan terintegrasi untuk mengembalikan, bahkan melampaui, kejayaan amplang sebagai produk unggulan daerah. Kolaborasi yang sinergis antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, dan pihak-pihak terkait lainnya menjadi kunci pokok untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan kuliner tradisional ini. Dengan pondasi yang kuat dan langkah yang kolektif, amplang tidak hanya diharapkan sekadar bertahan hidup, tetapi dapat berevolusi menjadi produk budaya yang mampu bersaing di kancah pasar yang lebih luas, melestarikan cita rasa, dan menghidupi perekonomian masyarakat lokal. (adv/*)