Sabtu, 18 April 2020
Sekarang dunia sedang mengalami wabah yang sangat besar yakni, Pandemi Wabah COVID-19, tapi dibalik merebaknya wabah ada peristiwa yang sangat menyayat hati.

Di Indonesia ada kasus dimana pasien, keluarga bahkan perawat yang tugasnya menangani pasien yang terdampak COVID-19 yang bahkan rela berkorban untuk mengurusi pasien mendapat pengucilan dari masyarakat, mulai diusir dari rumah, kosan sampai ditolak jenazahnya.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa teriris hatinya tatkala mendengar kabar peristiwa penolakan pemakaman jenazah COVID-19 yang dilakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Unggaran, Kabupaten Semarang.
Jenazah tersebut adalah seorang perawat yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang, dengan sorot mata yang berkaca-kaca, Ganjarpun menyampaikan permohonan maaf (kompas.com).
Dokter dan perawat di RS Persahabatan , Jakarta timur pun mereka justru mendapatkan perlakuan tak meyenangkan karena tiba-tiba diusir dari kosan yang disewa (liputan6.com).
Ada juga Tri Sudaryati, Perawat senior RSUD Gambiran, Kota Kediri, Jawa Timur mengatakan mengalami tekanan mental diluar tempat kerjanya sejak merawat pasien corona.
“Mereka mengucilkan saya karena dianggap bisa menularkan virus. Padahal tidak sesederhana itu,” katanya (kompas.com).
Dari berbagai peristiwa penolakan sebenarnya bisa kita lihat bahwa adanya kasus seperti ini karena masyarakat khawatir akan terkena dampak dari orang-orang yang terlibat langsung dalam penanganan COVID-19 ini, salah satunya adalah perawat dan dokter.
Tindakan masyarakat seperti ini tidak bisa kita salahkan 100% kepada mereka, kita harus melihat apa yang menyebabkan mereka bisa seperti itu. Mengapa masyarakat sampai tega untuk menolak tenaga medis yang terlibat langsung dengan orang-orang yg terdampak bahkan sampai terjadi penolakan jenazah perawat disalah satu daerah.
Karena kekhawatiran masyarakat yang seperti ini pasti ada faktor dibelakangnya. Jika kita melihat sebenarnya kekhawatiran masyarakat seperti ini disebabkan karena minimnya informasi akurat dan edukasi yang sampai kepada masyarakat.
Masyarakat akhirnya berasumsi sendiri dan melakukan penyelesaian sendiri karena minimnya informasi yang mereka dapatkan terkait bagaimana menghadapi hal-hal seperti itu.
Sangat jelas ini adalah kelalaian negara, negara yang bertanggungjawab penuh terhadap masyarakatnya sampai kepada pemahaman mereka terkait sikap mereka terhadap masyarakat yang terdampak positif, para keluarganya dan perawat yang begitu luar biasa.
Didalam Islam, jika bencana terjadi seperti sekarang maka negara akan menegakkan hukum syara yang terkait dengannya yakni lockdown.
Rakyat pun akan mematuhi karena mereka paham bahwa yang disampaikan kepada nya adalah kebaikan, karena masyarakat paham bahwa negara didalam sistem Islam tidak akan abai.
Negara akan mengerahkan seluruh yang dibutuhkan, seperti fasilitas kesehatan, logistik dan jaminan keamanan.
Begitupun dengan nakes mereka didorong untuk melakukan upaya yang optimal dan memberikan insentif gaji yang sepadan dengan pengorbanan.
Dalam hal informasi akurat dan edukasi, sistem Islam juga akan berupaya semaksimal mungkin agar masyarakat mendapat informasi yang benar dan edukasi yang jelas tentang wabah yang sedang terjadi saat ini.
Negara, media dan tokoh umat bertanggungjawab menjelaskan hakikat wabah sehingga masyarakat menyikapi dengan tepat dan mendukung setiap aktifitas penanganan, masyarakat tidak akan dibiarkan bersikap sendiri dan masyarakat pun akhirnya mendapatkan informasi bagaimana dan apa yg harus dilakukan dalam kondisi seperti ini.
Wallahualam
Penulis: Silfiyani Rosida, S.IP-Aktivis muslimah