Sabtu 21 September 2024
Emirza Erbayanthi, M.Pd
(Aktivis Muslimah dan Pemerhati Sosial)
GROW Kaltim-Kalimantan Utara membeberkan soal dampak pembangunan IKN Nusantara bagi ekologi Teluk Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Hal ini disampaikan melalui Ketua Wilayah GROW Kaltim-Tara, Maha Sakti Esa Jaya pada Selasa (10/9/2024) mengutip dari Kompas.com. Dia menyatakan, ada beberapa permasalahan di Teluk Balikpapan yang menjadi poin penelitian dan diskusi, seperti masalah keterancaman keanekaragaman hayati.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan luas wilayah mangrove dari sekitar 16.800 hektar sebelum pembangunan IKN Nusantara menjadi 15.000 hektar. Penelitian ini menunjukkan pembangunan IKN telah mengancam keanekaragaman hayati dan kawasan mangrove di Teluk Balikpapan.
Terdapat beberapa keanekaragaman hayati yang mulai jarang ditemui, termasuk spesies yang dilindungi seperti buaya muara, pesut, penyu, dugong, burung enggang, macan dahan, bekantan, dan orang utan. (kaltim.tribunnews.com, 11/9/2024)
Merusak Lingkungan
Pembangunan IKN tidak hanya memberikan dampak pada masyarakat, tetapi juga berdampak pada kehidupan makhluk hidup di kota Penyangga IKN. Konsep pembangunan IKN diharapkan mampu mempertahankan ekologi hutan dan tersedianya tempat atau rumah bagi satwa yang tinggal di hutan.
Secara konsep ini hal baik, faktanya tidak ada satupun koridor alami yang terselamatkan. Seharusnya Konsep Pembangunan tidak hanya sekedar terlihat mewah di luar, namun terjadi kerusakan di sisi yang lain.
Sebagai contoh yaitu pembangunan jembatan jalan bebas hambatan yang akan menghubungkan Kota Samarinda dan Ibukota Negara Nusantara (IKN), kini sedang dalam proses pengerjaan.
Jalan tol yang masuk dalam salah satu proyek strategis nasional ini menggerus dan membelah hutan hingga memutus koridor satwa. Pelaksana pembangunan jalan menyatakan akan ada koridor satwa, tetapi pembangunan sudah berlangsung pun jalur lalu lintas satwa belum terealisasi.
Dampak dari pembangunan tol ini banyak satwa yang terancam karena habitat terputus dan dirampasnya tempat berkembangbiak. Akibatnya hilangnya tempat untuk mencari makan bagi satwa dan punahnya satwa.
"Setelah ada proyek jalan tol, semua koridor satwa hutan terputus. Meskipun ada pembicaraan tentang membangun segitu banyak koridor, kenyataannya tidak ada satupun koridor alami yang diselamatkan. Tidak ada yang tersisa,” kata Darman, kontributor dari Yayasan Borneo Biodiversity Conservation (BBC), Samboja Mei lalu.
Proyek jalan bebas hambatan (tol) penghubung Kota Balikpapan menuju IKN ini terkesan buru-buru dan tak terencana matang, sehingga akan banyak dampak yang terjadi dalam jangka panjang.
Mengenai permasalahan ini, banyak praktisi pencinta alam yang angkat suara. Bagaimana tidak, permasalahan ini bukanlah perkara sebatas satu-dua ekor hewan saja. Tetapi menyangkut keberlangsungan hidup satwa yang sedari awal sudah berkembangbiak disana.
Meskipun secara konsep telah didesain sebaik mungkin, akan tetapi tetap saja yang dibutuhkan satwa tak hanya memakan jenis tanaman pepohonan atau mangrove saja tetapi yang perlu diperhatikan juga adalah mobilisasi satwa.
Satwa kerap menjelajah, semisal dari areal mangrove ke areal pesisir menjadi tempat peristirahatan ideal baginya. Namun dengan ada jembatan tol, perlintasan alami terputus dan berpotensi terisolir dari sumber makanan. Situasi ini mengharuskan beradaptasi pada kondisi baru setelah terjadi perubahan habitat.
Banyak satwa yang akan kehilangan lingkungan habitatnya, mereka akan berpencar mencari wilayah yang ditempati, kehilangan sumber makanan, dan berkurangnya ketersediaan air.
Seleksi alam akan terjadi, akibatnya akan banyak satwa yang mati hingga bisa jadi mengalami kelangkaan spesies bahkan bisa terjadi kepunahan. Jika hal itu terjadi, bukankah manusia akan menjadi makhluk yang sangat serakah merugikan, karena tidak memikirkan makhluk hidup lain demi kepentingannya?
Hal ini terjadi karena pemikiran kapitalis yang hanya mementingkan keutungan saja. Penerapan ideologi ini membuat taraf berpikir manusia hanya mementingkan kepentingan yang menguntungkan pihak berkuasa.
Proyek pembangunan tol ini didorong oleh motivasi kepentingan para oligarki yang memiliki kekuasaan. Mereka para Kapital tidak memikirkan dampak yang akan terjadi bagi ekosistem satwa di masa yang akan datang. Kehidupan Kapitalis hanya berorientasi pada aspek manfaat semata, tidak melihat apa dampak dari kebijakan bagi alam dan kehidupan.
Pembangunan Minim Mudarat
Pembangunan kota maupun infrastruktur lainnya seharusnya dibangun untuk meningkatkan ketakwaan dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Tidak boleh merusak alam, manusia, dan mengancam keberadaan ekosistem satwa lainnya. Inilah pembangunan dalam pandangan Islam. Sehingga pembangunan akan minim mudarat.
Bahkan pemindahan dan Pembangunan IKN akan membawa kemajuan dan keberkahan karena mempertimbangkan aspek strategis dan politik. Contoh pada masa Khalifah Abu Ja’far al-Manshurketika membangun ibu kota di Baghdad dengan mengumpulkan para insinyur, arsitek, dan orang-orang yang memiliki pemikiran (ahl ar-ra’yi).
Tata ruangnya melingkar, di tengahnya berdiri masjid yang megah, berdekatan dengan istana Pe, dikelilingi permukiman penduduk, dan tetap memperhatikan keberadaan ekosistem alam sekitarnya.
Saat itu, Baghdad merupakan ibu kota dan tata ruang terbaik pada pertengahan abad ke-2 hijriah. Sejarah telah membuktikan bahwa Ibu Kota Negara Islam serta kota-kota besar pada era peradaban Islam sungguh luar biasa. Kesejahteraan melingkupi setiap sudut kota dan seluruh penjuru negeri.
Nilai-nilai kehidupan yang terwujud di tengah masyarakat bersumber dari Islam. Begitulah gambaran hasil penerapan sistem Islam. Pembangunan kota maupun infrastruktur lainnya dilaksanakan secara efektif untuk kemaslahatan rakyat dan meminimalisir terjadinya kerusakan ekosistem makhluk hidup lainnya.
Pemimpin Islam tegak untuk menerapkan aturan Islam juga memberikan perlindungan untuk manusia, alam, termasuk didalamnya adalah satwa. Sehingga Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin, keberkahan hidup pun dapat diraih.
Kebutuhan masyarakat yang paling mendesak saat ini bukanlah pemindahan IKN melainkan kesejahteraan. Ini mustahil terwujud dalam sistem sekuler kapitalistik, melainkan dengan tegaknya Islam.
Penting bagi pemegang kebijakan untuk memahami firman Allah Taala, “Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibu kotanya yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri kecuali penduduknya melakukan kezaliman.” (QS Al-Qashash: 59). Wallahu’alam bissawab.